
"Sayang, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Heni yang langsung menghampiri David berada. Wajah sudah merah padam saat melihat tangan David yang masih menggenggam tangan Kenza.
"Sayang, ayo kita keluar!" Heni menarik tangan David untuk meninggalkan ruangan Eliza. Namun, David malah melepaskan tangan Heni dari pergelangan tangannya.
"Maaf, aku tidak bisa," ucap David dengan pelan.
Heni terbelalak dengan lebar ketika mendapat penolakan dari David. "Maksud kamu apa, Sayang? Aku ini istri kamu. Masa kamu lebih memilih untuk berada di sisi wanita lain ketimbang disisi istrimu sendiri. Sayang, ayo kita keluar." Heni masih bersikeras untuk membawa David keluar.
"Apa kamu sedang tidak salah berbicara? Apakah kata-kata itu sedang tidak terbalik?" tanya David pada Heni dengan pelan.
"Maksud kamu apa, Sayang?" Tubuh Heni merasa bergemetar. Hal yang paling ia takutkan akhirnya terjadi juga. Mungkin saat ini ingatan David sudah kembali? Lalu jika iya, bagaimana dengan dirinya. "Tidak. Kamu suami aku, bukan suami dia. Sayang ku mohon, percayalah padaku," rengek Heni dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf, Hen ... tapi aku tidak bisa pergi denganmu lagi. Saat ini istriku sedang membutuhkanku."
Detak jantung Heni rasanya ingin lepas saat mendengar pengakuan David yang mengejutkan. Seketika badannya terasa lemas, bahkan lututnya pun ikut bergemetar.
"David .... kamu—" Terasa sangat kelu bibir Heni untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku bukan David, Hen! Aku Agash, suami Eza!"
Eliza yang terbaring sungguh sangat terkejut dengan pengakuan yang baru saja keluar dari mulut pria yang ada dihadapannya saat ini. Sungguh tidak menyangka jika bisa mengingat kembali dirinya. Air mata bahagia itu perlahan membasahi pipinya. "Apa kamu bilang? Jadi kamu sudah mengingat jati diri kamu? Ais ... kenapa ingatan kamu baru muncul sekarang!"
"Maafkan aku, Za. Semua terjadi begitu saja dan bukan keinginanku untuk melupakanmu. Terima kasih sudah bertahan dan berjuang. Terima kasih masih menungguku."
Tak ada yang tidak mungkin jika Tuhan telah berkehendak. Semua doa terjawab sudah. Dan saat ini kebenaran telah terbuka dengan lebar, meskipun Agash belum bisa mengumpulkan semua ingatan, tetapi dia sudah mengingat siapa dirinya dan siapa istrinya yang sah.
"Tidak mungkin! Kamu tidak boleh melakukan ini padaku. Kamu David, bukan Agash. Kamu suami aku, bukan suami dia!" Heni berteriak histeris ketika ketakutan benar-benar terjadi pada hari ini. Namun, tiba-tiba saja Heni mengaduh sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
Agash tidak tega dengan kesakitan yang tengah dirasakan oleh Heni langsung mendekat dan memilih untuk membawanya keluar. Agash tidak mau sesuatu buruk terjadi pada Heni, terlebih pada bayi yang sebentar lagi akan lahir.
Eliza hanya bisa membuang nafas kasarnya saat Agash sangat mengkhawatirkan keadaan Heni. Hatinya terasa ngilu. Baru saja terbang, tiba-tiba sudah harus dijatuhkan lagi.
"Agash .... " panggil Eliza dengan pelan.
__ADS_1
"Za, aku akan mengurus Heni dulu. Kami tetaplah disini!"
Saat pintu dibuka, Shera dan juga dua orang Daddy-nya merasa terkejut dengan Agash yang tiba-tiba membopong tubuh Heni keluar dari ruangan Eliza.
"Lan, dia kenapa? Apakah baru saja duel bersama Eza?" tanya Keanu.
"Bang!" sentak Alan.
"Mereka tidak duel! Eza baik-baik aja di dalam. Mungkin Heni mau melahirkan," ujar Agash
Alan dan Keanu saling bersitatap. Mereka berdua sangat terkejut karena ternyata ingatan Agash sudah kembali lagi. Mengapa begitu mudah untuk mengembalikan ingatan yang sempat hilang?
"Bang, apakah ingatan Agash sudah kembali?" Alan bertanya kepada Keanu.
"Entahlah," ujar Keanu dengan menyendikkan bahunya.
"Baru sebagian ingatan saja yang masih kembali. Sisanya akan menyusul," celetuk Shera.
*
*
"Kamu yakin ingin pulang sekarang? Kondisimu masih lemah, Za!" kata Alan saat Eliza mengutarakan niatnya padanya.
"Eza baik-baik aja, Dadd. Eza istirahat di rumah aja. Rasanya bosan dengan aroma rumah sakit," pintanya.
"Baiklah, jika itu keinginanmu Daddy tidak bisa melarang, karena kamu adalah queen in our hearts."
Begitu juga dengan Keanu yang merasa tidak keberatan dengan keinginan dan bisa untuk pulang. Sebagai seorang Daddy, Keanu bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh putrinya. Siapapun dia, jika melihat suaminya sedang menunggui wanita lain melahirkan pasti hatinya akan teriris.
"Dadd, Shera gak ikut pulang ya. Shera mau disini nunggu Arshen. Mau getok kepalanya lagi biar tamatan Agash terkumpul semuanya," ujar Shera.
"Oke. Kamu hati-hati ya," pesan Alan.
__ADS_1
Kepala Shera mengangguk dengan pelan. Sebenarnya Shera sangat merasa kasihan kepada Eliza. Disaat Agash sudah menemukan ingatan tentangnya, tiba-tiba dia harus menemani wanita lain yang ingin melahirkan. Padahal itu bukanlah hasil buah cintanya. Namun, Shera pun tidak bisa menghakimi Agash begitu saja. Mungkin Agash merasa kasihan dengan wanita itu yang sudah tidak memiliki siapa-siapa, dan terlebih wanita itu telah menyelamatkan hidupnya.
"Cobaan apa lagi ini?" Shera membuang nafas kasarnya. Karena merasa bosan, Shera pun memutuskan untuk ke kantin. Mungkin dia bisa mengisi perutnya dengan makanan yang tersedia.
Sebenarnya kepulangan Shera masih dirahasiakan dari kedua orang tuanya. Rencananya Shera ingin memberikan kejutan pada Daddy-nya yang akan ulang tahun dalam waktu dua hari lagi. Shera sengaja pulang ke apartemen Agash, karena dia tahu tempat itu tidak ada yang menempati. Namun, siapa yang menyangka dia menemukan sebuah kenyataan di mana dia bertemu dengan sang kakak yang telah dinyatakan meninggal. Berkat Shera, sebagian ingatan Agash bisa diingat. Meskipun masih mengingat jati dirinya dan juga Eliza, setidaknya Agash sudah bisa mengingatnya. Jadi dia tahu siapa istri yang sebenarnya dan siapa orang yang mengaku-ngaku sebagai istrinya.
Baru saja ingin menarik sebuah kursi, tak sengaja tangan Shera meninggal seseorang yang sedang membawa nampan yang berisi menu makan siang.
Praangg ...
Semua yang berada diatas nampak jatuh semua ke lantai.
Shera merasa sangat terkejut, karena dia benar-benar tidak sengaja menyenggol lengan pria itu.
"Astaga ... maaf. Aku benar-benar tidak sengaja. Sekali lagi maafkan aku," sesal Shera.
"Yah tumpah semua."
Shera semakin merasa bersalah dengan pria yang sedang memakai pakaian rumah sakit itu. Shera yakin jika pria itu adalah salah satu pasien yang sedang dirawat. Tetapi mengapa seorang pasien bisa berkeliaran seorang diri di kantin?
"Em ... kamu pasti mau makan siang ya? Bagaimana kalau aku pesankan makan siang untukmu," tawar Shera untuk mengurangi rasa bersalahnya.
"Tapi apakah kamu bisa memesan makanan seperti ini lagi? Ini adalah makanan khusus yang disiapkan oleh pihak rumah sakit," ujar pria itu.
"Bisa. Aku bisa memesankan makanan seperti itu untuk kamu."
"Benarkah?" pria itu ingin memastikan lagi.
"Iya. Tapi aku harus menghubungi Daddy-ku dulu. Bagaimana?"
"Oke tidak apa-apa. Aku akan menunggunya."
Shera memaksakan senyum di bibirnya karena merasa heran dengan pria yang ada di sampingnya saat ini. Jika orang pada umumnya akan membenci makanan yang disediakan dari rumah sakit, tetapi tidak berlaku untuk pria yang berada di sampingnya. Dengan cepat Shera menghubungi Alan, karena dia adalah Daddy super hero-nya. Meskipun tidak ada darah Wijaya yang mengalir di tubuh Shera, tetapi hubungan Shera dengan Alan terlihat sangat erat. Alan memperlakukan Shera, layaknya anak sendiri, tetapi tahta tertinggi masih di pegang oleh Kenza.
__ADS_1
~BERSAMBUNG~