
Hingga pukul tujuh malam David belum juga pulang ke rumah. Tentu saja membuat Heni merasa sangat khawatir dengan David. Bahkan saat ditelepon panggilan tak dijawab oleh David. Hanya saja 2 jam yang lalu David sempat mengirim pesan kepada Heni jika hari ini dia akan pulang terlambat karena harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.
Pikiran Heni sudah ke mana-mana mengingat kondisi David belum stabil. Heni takut jika sakit kepala David kambuh dengan tiba-tiba. Inilah alasan terbesar Heni melarang David untuk bekerja.
"Kamu kemana, sih?" Heni terus memperhatikan ponselnya, berharap pria yang dijadikan David itu segera membalas pesannya. "Semoga dia baik-baik saja. Tuhan, lindungilah dia dimanapun dia berada karena saat ini hanya dialah yang aku milik."
Disisi lain, Eliza tertidur begitu saja ketika David terus mengelus perutnya. Karena Eliza tertidur David tidak berani untuk meninggalkan Eliza sebelum Alan datang. Padahal David sudah menghubungi Alan semenjak 2 jam yang lalu tetapi hingga sampai saat ini Alan tak kunjung sampai di apartemen. David pun hanya bisa mendengkus dengan kasar.
"Ini gimana konsepnya kok malah tidur? Mana aku mau pulang. Gak mungkin aku tinggalin sendirian. nanti kalau ada apa-apa pasti aku yang disalahkan oleh Pak Alan," kata David pada dirinya sendiri.
Rasanya David tidak tega untuk membangunkan Eliza yang tertidur dengan lelap. Melihat Eliza tertidur di sofa hati kecil David bergerak untuk memindahkannya ke kamar. Dengan pelan David langsung mengangkat tubuh. Berharap dia tidak jatuh karena saat ini dia sedang menggendong dua nyawa.
"Ya ampun ... berat juga ya. Istri sendiri aja nggak pernah digendong ini malah gendongin istri orang," gerutu David lagi.
Sesampainya di dalam kamar, David langsung meletakkan pelan tubuh Eliza za di atas tempat tidur. Tak lupa David juga menyelimuti tubuh Eliza. Saat ingin bangkit, kaki mata David melihat sesuatu di bawah kolong tempat tidur. Dia penasaran dan ingin mengambilnya. Namun, belum sempat David mengambil tiba-tiba terdengar suara deheman dari belakangnya. David pun segera memilih ke belakang. "Pak Alan," ucapnya dengan pelan.
"Eza udah tidur? Bukankah kamu tadi bilang kalau Eza sakit perut?" tanya Alan yang merasa heran mengapa Kenza bisa tidur secepat ini padahal masih pukul tujuh malam.
"Saya juga tidak tahu mengapa dia tidur terlalu cepat. Tadi perutnya terasa sakit dan meminta saya untuk mengelus sebentar perutnya. Tapi belum ada lima menit saya elus dia udah tidur, Pak," jelas David dengan apa adanya.
Alan hanya mengangguk dengan pelan. Sebenarnya sejak tadi Alan terus memantau apa yang dilakukan oleh David. Bahkan Alan sengaja tidak langsung datang karena ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Eliza za kepada David. Namun ternyata Eliza za malah ketiduran.
__ADS_1
"Karena saat ini Pak Ali sudah datang, izin mau pulang," pamit David.
"Iya. Pulanglah, karena besok kamu juga harus bekerja lagi. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih karena kamu sudah bersedia untuk menghibur putriku. Kerena sudah malam kamu pulang saja. Istrimu pasti sedang menunggumu di rumah," ucap Alan.
"Iya, Pak."
*
*
Setelah memastikan jika David benar-benar telah meninggalkan apartemen, Eliza langsung membuka mata dan menimpakan selimutnya. sebenarnya perutnya masih terasa sakit tapi dia mencoba untuk menahan karena dia ingin menahan David untuk lebih lama. Dan pada akhirnya Eliza memilih berpura-pura tertidur.
"Sudah kuduga," kata Alan saat Eliza mencoba untuk bangkit.
"Apakah nasi goreng yang dimasak oleh pria itu terasa pedas," tanya Alan yang tadi sempat melihat Kenza makan nasi goreng.
"Sedikit pedas, Dadd."
"Nah ... udah tahu nggak bisa makan pedas masih aja diembat. Ya udah tahankan sampai besok pagi!" celetuk Alan.
"Aduh ... Dadd, sakit!" Eliza terus merengek, tetapi Alan tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Ya udah siap-siap, kita pulang! Tapi sebelumnya, simpan terlebih dahulu semua foto-foto Agash. Jangan sampai dia melihatnya, karena ini belum waktu yang tepat. Jika dia dipaksa untuk mengingat yang ada malah dia akan kehilangan ingatan untuk selamanya!" pesan Alan sebelum meninggalkan apartemen.
Iya, Dadd." Kenza pun langsung mengambil sebuah bingkai yang ada di bawah kolong tempat tidur. Hampir saja pintu ditemukan oleh David, namun beruntung Alan datang tepat pada waktunya sehingga David tidak sempat melihat bingkai yang tersimpan di bawah kolong.
Langit cerah bertaburan bintang yang kemerlap-kemerlip seolah sedang memberikan sebuah ucapan untuk Eliza yang kini sudah menemukan Agash, meskipun saat ini Agash belum bisa mengingatnya. Tepat pukul satu dini hari Eliza masih belum memejamkan matanya. Bayangan beberapa jam yang lalu masih terngiang-ngiang di dalam kepalanya, terlebih saat pria yang bernama David itu mengelus perutnya. Dan itu adalah elusan dari seorang ayah untuk buah hatinya.
"Sayang, doain Daddy agar bisa segera mengingat kita. Mommy sudah lelah berjuang seorang diri. Mommy ingin detik-detik sebelum kalian keluar, Mommy ingin dimanja-manja sama Daddy kalian. Mommy ingin setelah kalian lahir, kalian harus memberikan pelajaran kepada Daddy kalian yang telah meninggalkan Mommy. Membuat Mommy berjuang seorang diri. Pokonya kalian harus hukum Daddy kalian," ucap Eliza sambil mengelus perutnya.
Terlalu sakit saat membayangkan Agash tidur bersama dengan wanita lain dalam satu ranjang. Terlebih Agash diakui suami oleh wanita itu. Pasti akan ada hubungan suami istri di antara mereka berdua karena wanita itu telah mengakui Agash sebagai suaminya. Sungguh rasanya sangat nyeri.
Hingga hampir pagi, Eliza belum bisa memejamkan matanya. Pikiran terus-menerus memikirkan Agash yang sedang bersama dengan wanita. Rasanya ingin sekali menyadarkan Agash detik ini juga, tetapi Daddy si Alan-nya mengatakan Eliza harus sabar terlebih dahulu. Semua tidak boleh terburu-buru karena malah akan merusak sistem otaknya. Jika tidak kuat, bisa-bisa Agash tidak akan pernah bisa mengingat jati dirinya untuk selamanya. Memang terasa berat, tetapi Eliza harus sabar demi masa depannya bersama dengan Agash
*
*
Diseberang, Heni sudah terbangun. Dia pun langsung menoleh ke samping. Dilihatnya David masih terlelap dalam mimpinya. Sejenak dia menatap pria itu dengan lekat. Ada rasa bersalah yang terselip di dalam hatinya. Bagaimana bisa dia mengakui orang lain sebagai pengganti suaminya yang menjadi salah satu korban dalam kecelakaan pesawat 7 bulan yang lalu.
Heni merasa tidak terima saat suaminya benar-benar meninggalkan dirinya dan juga calon buah hatinya untuk selama-lamanya. Tak perlu ditanya lagi bagaimana hancurnya Heni saat itu. Sangatlah hancur. Orang yang benar-benar dicintainya pergi untuk selamanya tanpa sebuah pesan. Dan pada saat Heni diberikan tugas untuk ikut terjun ke lokasi, tanpa sengaja dia menemukan satu-satunya orang yang selamat dalam kecelakaan pesawat. Karena merasa kasihan Heni langsung membawanya pulang agar segera mendapatkan pertolongan. Empat bulan lamanya Heni merawat pria yang tidak diketahui namanya itu, hingga suatu saat pria itu bangun dari komanya. Dan ternyata pria itu kehilangan ingatan. Karena Heni membutuhkan seseorang untuk berada di sampingnya, ini pun terpaksa harus berbohong dan mengatakan jika pria itu adalah David—suaminya.
Mulai saat itu Heni menganggap pria yang ditemukannya itu adalah suaminya.
__ADS_1
~BERSAMBUNG~
Komen apa gitu, biar gak sepi kolom komentarnya 😔