Jodohku Kembali Pulang

Jodohku Kembali Pulang
EMPAT PULUH DUA


__ADS_3

Sebisa mungkin Eliza mencari cara agar suaminya tidak terpancing dengan kompor yang saat ini sedang ingin membakarnya. Terlebih saat ini Shera juga telah ikut bergabung di meja makan, membuat Agash semakin tidak berselera untuk makan.


"Kalian pikir rumah ini penampungan anak-anak gelandangan?" cibir Agash dengan sinis saat menatap dua orang yang duduk tepat di hadapannya.


Shera yang baru saja hendak nasi langsung menurunkan kedua alisnya. "Apakah ada yang salah?" tanya Shera yang mengerti jika saat ini kakaknya sedang merasa keberatan jika dia dan Kala ikut bergabung di meja makannya.


"Kalau kamu kau marah, marah saja sama mommy Azra, karena mommy Azra yang menyuruhku untuk ikut sarapan. Bukankah begitu, Dadd?" Shera meminta pendapat Alan.


Dengan cepat Alan pun langsung memberikan jawaban atas pertanyaan Shera. "Shera benar, jika kamu ingin menyalakan salahkan saja mommy Azra-mu yang telah menyuruh dua orang gelandangan ini untuk ikut sarapan."


"Daddy!" Shera tidak terima saat dia dikatakan gelandangan. "Kita bukan gelandang, Daddy!" protes Shera.


"Sudahlah! Kalian lanjutkan saja sarapan kalian! Aku sudah kenyang melihat dua orang gelandangan ini. Sayang, aku berangkat bekerja dulu. Ingat pesan aku jika ada pria yang ingin menggodamu langsung tendang saja burungnya biar tau rasa!" pesan Agash sebelum meninggalkan istrinya.


"Iya ... iya aku tau itu, Tapi ngomong-ngomong siapa yang mau menggoda emak-emak seperti aku ini?"


Mata Agash langsung melirik kearah Kala yang tetap fokus pada sarapannya.


"Ya ... siap tau aja mantan kamu yang belum bisa move on," celetuk Agash.

__ADS_1


Merasa jika saat ini Agash sedang menyindir dirinya, Kala langsung meletakkan sendok yang ada ditangannya. Helaan napas panjang terdengar begitu berat. Ingin sekali Kala menyahuti ucapan Agash, tetapi Shera memberi isyarat untuk mengabaikannya.


"Maksud kamu Kala?" Eliza melirik kearah Kala. "Dia gak bakalan tertarik sama istri orang, Gash! Lagian Kala kan bentar lagi mau jadi adik ipar kamu. Masa iya kamu cemburu sama calon adik ipar sendiri?"


Agash langsung menautkan kedua alisnya. "Kamu ngomong apa, Za? Adik ipar? Gak! Aku gak sudi punya ipar dari mantan istriku! Za, kamu tahu kan, ipar itu bisa jadi maut?"


Ucapan Agash tentu saja membuat Shera tidak terima. Sekalipun Kala adalah mantan dari kakak iparnya, bukan berarti Kala masih mencintai kakak iparnya. Buktinya saja saat Agash telah dinyatakan meninggal, Kala sama sekali tidak mendekati Eliza.


"Tidak semua ipar itu maut, Gash! Kala bukan tipe orang seperti itu. Lagian setelah aku dan Kala menikah, aku tidak akan tinggal serumah denganmu. Jadi kamu enggak usah khawatir jika Kala akan menikungmu!" protes Shera dengan ketus.


Lagi-lagi Agash hanya bisa menautkan kedua alisnya dan tersenyum kecut. "Apa kamu bilang? Kamu sama pria itu mau menikah? Mimpi!"


Kali ini Agash merasa sungguh sangat shock dengan ucapan adiknya yang menjelaskan jika dia dan Kala akan menikah dalam waktu dekat. Kepalanya pun menggeleng dengan pelan. Bahkan dia pun memilih untuk duduk kembali di kursinya.


"Bercanda kamu enggak lucu, Sher! Mana mungkin kamu akan menikah dengan Kala sedangkan saat ini saja kamu masih menempuh pendidikan di luar negeri. Lagian anak kecil seperti kamu tau apa tentang pernikahan? Pacaran aja belum pernah, mau langsung nikah! Belajar dulu yang bener!"


"Agash, tapi aku sedang tidak bercanda! Makanya kamu pulang kerja jangan di kamar aja. Kalau kamu tidak percaya tanya saja Daddy dan Mommy. Dan pagi ini aku dan Kala mau fitting baju," jelas Shera lagi.


"Za, ini serius?" Agash masih tidak percaya.

__ADS_1


"Iya, Gash. Mereka memang akan menikah secara bersamaan dengan Kenzo."


Dada Agash naik turun menahan rasa sesak karena dia sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang rencana pernikahan Shera. Karena merasa kecewa, Agash segera meninggalkan meja makan. Tujuannya saat ini adalah pulang ke rumah Daddy-nya untuk mempertahankan tentang rencana pernikahan Shera yang tanpa sepengetahuan dirinya.


"Agash, kamu mau kemana? Tas kerja kamu masih diatas!" Eliza setengah berteriak karena Agash pergi begitu saja.


"Hari ini aku tidak bekerja. Aku ingin menemui Daddy!" teriak Agash yang kini sudah tak terlihat lagi.


Eliza hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku suaminya yang sedikit ke kena-kenakan. "Kala, jangan ambil hati ucapan Agash, ya. Dia emang seperti itu."


"Iya, tidak apa-apa." Kala tersenyum kecil.


"Ya, begitulah tingkah laku calon kakak iparmu. Jadi mulai sekarang persiapan mentalmu untuk menghadapinya," sahut Alan.


Kala hanya mengangguk dengan pelan. Memang tidak mudah untuk Kala masuk ke dalam besar Eliza, wanita yang pernah tersimpan di dalam hatinya. Tapi semua ini harus terjadi karena sebuah kesalahpahaman.


...***...


Bab Selanjutnya Flashback Shera dan Kala.

__ADS_1


__ADS_2