
Sesampainya di rumah Azra merasa terkejut dengan kedatangan Grace yang memapah Kenza. "Grace, ada apa dengan Eza?" tanya Azra dengan kepanikannya.
"Eza shock, Tan. Eza baru saja melihat orang yang mirip dengan Agash. Dan Eza menganggap itu adalah Agash" jelas Grace.
Azra langsung mengambilkan air putih untuk Eza. "Za, kamu harus ikhlas atas kepergian Agash. Jika kamu tidak mengikhlaskannya, Agash gak bisa tenang di sana, Za."
"Tapi dia itu Agash Momm! Eza yakin itu. Agash belum meninggal, Momm. Mommy harus percaya sama Eza." Eliza bersikukuh pada pendiriannya jika pria yang baru saja ditemuinya itu adalah Agash.
Melihat kondisi Eliza za yang kurang baik, Azra takut jika Eliza kesehatan Eliza akan menurun. Sebisa mungkin Azra menenangkan hati Eliza. Memang tidak mudah untuk melupakan orang yang dicintainya. Terlebih mereka adalah pasangan suami istri yang baru saja merasakan manisnya rumah tangga. Siapa pun orangnya pasti akan sangat sulit untuk menerima kenyataan yang ada.
*
*
Disisi lain David termenung di balkon. Wajah wanita yang baru saja ditemuinya sangat menggangu pikirannya. Bahkan hanya bayangan wanita itu yang terus berputar didalam kepalanya. Hati pun terus bertanya-tanya kapan siapa sebenarnya anak wanita tadi. Dan apa maksud dari ucapannya yang mengakui jika dirinya adalah suaminya.
"Sayang," panggil Heni yang melihat David berdiri di balkon. "Kamu ngapain disini?"
Arshen langsung menoleh kebelakang dan menatap wanita yang ada di depannya. "Aku sedang cari angin. Didalam gerah."
Heni mengangguk pelan. "Oh iya, Sayang. Aku ada sedikit kerjasama di rumah sakit. Kamu bisa kan antar aku?"
"Kerjaan apa? Bukannya kamu udah izin cuti?" David langsung menautkan kedua alisnya.
"Tapi hari ini pasienku akan operasi. Jadi aku sebagai dokter yang selama ini menanganinya harus memastikan kita operasi berjalan dengan lancar. Aku tidak ikut membedah kok. Kamu enggak usah khawatir," jelas Heni.
Ya, Heni adalah salah satu dokter di rumah sakit terbesar. Namun, karena usia kandungannya yang sudah masuk di bulan ke-8, Heni mengajukan izin cuti hamilnya.
__ADS_1
Akhirnya David pun mengantarkan Heni ke rumah sakit tempatnya bekerja. Meskipun perutnya sudah membesar, jika sudah berhubungan dengan pasien, Heni tidak akan mempedulikan bagaimana keadaan dirinya sendiri. Sebagai seorang dokter, keselamatan pasien adalah prioritas utama.
"Sayang, kamu jangan kemana-mana ya. Tunggu aku sampai operasi selesai. Aku enggak lama kok," pesan Heni saat ingin turun dari mobil.
"Oke. Tapi kamu juga harus ingat jangan sampai kelelahan. Kesehatan kamu itu lebih utama. Kamu juga harus pikirkan anak kita didalam perut. Aku tidak mau karena mamanya sibuk mengutamakan keselamatan orang lain, anaknya sendiri terabaikan," balas David.
"Iya, aku tahu. Udah ya kau turun dulu." Sebelum turun, Heni mendaratkan sebuah ciuman di pipi David. "Daaa Sayang," ucapnya setelah turun dari mobil.
David pun juga membalas lambaian tangan Heni. Karena tidak ingin merasakan bosan menunggu istrinya di rumah sakit, David memutuskan untuk pergi ke cafe sebelah rumah sakit.
Menjalani hari-hari tanpa pekerjaan terkadang David merasa ada yang kurang. Saat dirinya bertanya tentang seperti kepada Heni, wanita itu mengatakan jika pekerjaan David telah diisi oleh orang lain karena David koma selama 4 bulan. Dan sudah 3 bulan terakhir ini David adalah adalah seorang pengangguran. Dann saat David ingin mengajukan lamaran kerja, Heni selalu melarang dengan alasan kesehatannya yang belum stabil.
Sesampainya di cafe, David mencari tempat yang paling nyaman, yaitu di paling pojok. Di sana dia bisa menghabiskan waktunya tanpa tergantung oleh pengunjung lainnya.
"Aku tidak boleh diam saja. Aku harus mencari pekerjaan. Bagaimana bisa aku membiarkan istriku dalam keadaan hamil besar masih bekerja sedangkan aku hanya lontang-lantung tidak jelas. Suami macam apa aku ini. Aku sudah sehat dan aku yakin bisa bekerja dengan baik. Iya, aku harus mencari pekerjaan." David membulatkan tekadnya untuk mencari pekerjaan, karena dia tidak mau menjadi istrinya, terlebih sebentar lagi istrinya akan melahirkan. Masih pantaskah dia disebut sebagai seorang suami jika tidak bisa menafkahi istrinya?
Dalam diamnya samar-samar David mendengar seseorang disampingnya sedang berbicara melalui sambungan teleponnya dengan serius. Dan ternyata pria itu sedang membutuhkan seseorang untuk mengisi kekosongan seorang karyawan yang baru saja resign dari kantornya. Tentu saja itu adalah kabar terbaik untuk David. Mungkin Tuhan mendengar keluh kesahnya sehingga mengirimkan seseorang sebagai perantara untuk menjawab akan keluh kesahnya. David pun langsung menghampiri pria tersebut.
Pria yang tak lain adalah Reno, orang kepercayaan keluarga Wijaya, yang saat ini menjabat sebagai tangan kanan dari seorang Keanu Wijaya langsung memperhatikan grafik secara seksama. Menurut kacamata penglihatannya, David memang sesuai dengan kriterianya. Tidak ada salahnya jika Reno menerima David untuk mengisi kekosongan di kantornya, karena situasi ini sangat mendesak.
"Apakah kamu bisa dipercaya? Karena saat ini saya sedang membutuhkan orang yang benar-benar bisa bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Jangan sampai setelah kamu masuk kerja kamu merasa tidak yakin dengan pekerjaan ini!" tegas Reno.
"Apapun pekerjaannya saya sudah siap, Pak. Perkenalan saya David." David mengulurkan tangannya pada Reno.
"Reno," balas Reno. "Jika sudah yakin saya akan mengirimkan data yang harus kamu isi, tapi lewat email, dan segera kamu kirim agar segera diproses."
"Baik, Pak."
__ADS_1
*
*
Setelah bertemu dengan pria yang dianggap adalah Arshen, Kenza tidak bisa tidur dengan nyenyak, makan dengan baik, bahkan tidak semangat lagi untuk menjalani hari-harinya seperti biasanya. Perubahan Kenza tentu saja terbaca oleh Alan yang sangat peka dengan keadaan Kenza, sekalipun dia bukanlah ayah kandungnya.
"Kamu kenapa, Za? Ada masalah?" tanya Alan saat berada di meja makan.
Tanpa kata kepala Kenza menggeleng dengan pelan. Tentu saja Alan semakin yakin jika Kenza sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa dia, Zra?" Kini Alan bertanya pada istrinya.
Helaan napas panjang terdengar begitu berat. Karena Azra tidak ingin menutupi apa yang sedang terjadi pada Kenza dia pun langsung menceritakan apa yang sedang terjadi kepada Kenza.
"Kemarin Eza bertemu dengan pria yang sangat mirip dengan Agash. Eza yakin jika itu adalah Agash," kata Azra dengan lemah.
"Benarkah?" Alan sedikit terkejut dengan ucapan istrinya. "Bertemu dimana? Mengapa tidak kamu ajak pulang ke rumah?"
"Dadd, bagaimana aku bisa mengajaknya pulang sementara dia saja menggandeng seorang wanita yang sedang hamil besar." Kini Eliza bersuara.
"Maksud kamu dia suami orang? Daddy pikir belum beristri. Kan kalau belum beristri bisa kamu nikahi untuk pengganti Agash" celetuk Alan.
Dengan bibir yang sudah cemberut, Eliza meletakkan sendoknya ke piring dengan kasar. "Dia itu Agash, suami Eza, Dadd! Bukan suami wanita itu. Daddy gimana sih! Suami Eza diambil orang, Dadd!" Kenza pun langsung meninggalkan meja makan dengan perasaan kesal.
"Apakah aku salah?" tanya Alan pada istrinya.
"Pikir aja sendiri!" Azra pun juga memilih untuk meninggalkan Alan begitu saja.
__ADS_1
"Tuh para perempuan pada kenapa sih? Sensi amat. Kan aku hanya mengutarakan kebenaran. Gak ada salahnya kalau orang yang dikatakan mirip dengan Agash itu menikahi Eza untuk menggantikan Agas, yang udah meninggal. Apakah aku salah?" Alan hanya bisa membuang napas kasarnya dan melanjutkan kembali sarapannya seorang diri.
...~BERSAMBUNG~...