
"Sayang, kamu darimana aja?" tanya Heni saat melihat David yang baru saja masuk kedalam rumah. "Kamu kerja?" tanyanya karena penampilan David terlihat formal, lengkap dengan dasi yang menggantung di depan dada.
"Ah, iya. Maaf aku tidak memberitahumu jika saat ini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan. Sebenarnya aku ingin memberitahumu, tapi kemarin-kemarin kamu sibuk di rumah sakit akhirnya aku belum sempat memberitahu Maaf ya," ucap David.
Heni menghela napas kasarnya. Sungguh dia tidak rela jika David bekerja diluar sana. "Sayang, untuk apa kamu bekerja? Kan gaji aku cukup untuk biaya hidup kita. Besok kalau kesehatanmu sudah sembuh total, kamu baru boleh bekerja, tapi tidak untuk sekarang, Sayang. Kesehatanmu belum boleh sepenuhnya. Aku takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di."
"Hen, aku sudah sehat. Dan aku ini seorang suami. Tidak mungkin aku diam saja sementara istriku bekerja di luar sana dalam keadaan besar seperti ini. Dimana harga diriku sebagai seorang suami? Aku tidak mau hanya menjadi beban untukmu. Kamu tenang saja pekerjaanku tidak akan mengganggu kesehatanku. Apakah kamu tahu apa pekerjaanku?" David bertanya pada Heni.
Dengan gelengan kepala Heni menjawab "Tidak."
"Aku langsung diterima menjadi kepala ekspedisi di salah satu perusahaan besar. Ya, walaupun gajinya tak sebanding dengan gajimu, sih." Mendadak raut wajah David terlihat murung karena meskipun dia bekerja tetapi gajinya tidak bisa mengimbangi gaji istrinya.
Melihat sang suami merasa sedih, Heni segera menghiburnya. Dia tidak ingin David menyalahkan dirinya sendiri. "Sayang, jangan berbicara seperti itu. Maafkan aku yang terlalu mengekangmu. Itu semua aku lakukan untuk mengingatkan kamu. Tapi jika saat ini kamu sudah merasa sehat, aku bisa apa?"
"Jadi kamu tidak marah?" tanya David dengan dengan wajah yang terlihat telah berseri kembali.
"Tidak. Apapun yang kamu lakukan aku akan mendukungmu, tapi dengan satu syarat. Kamu tidak boleh meninggalkanku dalam keadaan apapun. Karena saat ini aku hanya memiliki kamu. Jika kamu pergi, bagaimana nasib anak kita." Tiba-tiba saja air mata telah membasahi pipi Heni.
Dadanya terasa sakit. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada dirinya jika suatu saat David pergi meninggalkan dirinya. Meskipun Heni sadar jika suatu saat nanti David akan pergi darinya. Hanya tinggal menunggu waktunya saja. Namun, sebelum waktu itu tiba, Heni akan berusaha untuk mengambil hati David, agar suatu saat jika dia pergi bisa mengingat untuk pulang kembali.
"Kok nangis, sih?" David langsung menyeka air mata yang kini sudah membasahi pipi Heni.
"Aku hanya merasa takut jika suatu saat kamu akan pergi meninggalkan aku," lirih Heni.
"Kamu tak perlu mengkhawatirkan akan hal itu, karena aku tidak akan pergi untuk meninggalkanmu. Selamanya, aku akan disini untukmu dan juga untuk anak kita." Tangan David mengelus lembut perut Heni yang sudah sangat besar. Hanya menunggu waktu sekitar 4 minggu lagi maka bayi Heni sudah siap untuk melihat dunia. Bertemu dengan orang tua dan akan memulai hidup barunya.
"Janji? Apapun yang terjadi nanti kamu tidak akan pernah meninggalkanku?"
__ADS_1
Kepala David mengangguk dengan pelan. "Iya, aku janji."
*
*
Hari ini sesuai dengan janjinya David akan membantu Alan untuk menghibur Eliza. Karena David belum tau dimana rumah Alan berada, dia pun menunggu Alan di kantor. Hampir 30 menit dapat menunggu kedatangan Alan. Jantungnya berdegup tak menentu saat melihat Alan berjalan mendekat kearahnya.
"Bagaimana? Sudah siap?" tanya Alan yang baru saja sampai.
"Sudah, Pak."
"Baiklah. Ayo kita berangkat."
Kini Alan mengemudikan mobilnya untuk menuju ke apartemen milik Agash karena saat ini Eliza sedang berada di sana. Sebelumnya Eliza sudah diberitahu oleh Alan jika dia akan mendatangkan David orang yang mirip dengan Agash. Tentu saja Kenza merasa sangat bahagia. Namun, Alan juga berpesan pada Kenza jika dia tidak boleh berlebihan dan tidak boleh menganggap jika David itu adalah Agash. Dengan berat hati Eliza za mengiyakan apa yang dikatakan oleh Daddy si Alan-nya. Semua ini juga demi membuktikan jika pria itu benar-benar Agash.
"Say belum tahu, Pak. Karena bapak kan memang belum menjelaskan tentang apa yang harus saya kerjakan di sana?"
Alan tersenyum kecil. "Baiklah, tugas kamu itu nggak berat kok. Ya anggap aja kamu itu seorang asisten pribadi, tapi bedanya kamu harus menghibur dan memberikan perhatian kepada Eza sebagaimana mestinya. Eza juga butuh teman untuk bercerita. Kamu nanti aja Eza bercerita ya," saran Alan.
"Siap Pak."
Saat berjalan untuk menuju ke sebuah lift David merasa sangat tidak asing dengan tempat yang saat ini dikunjunginya. Rasanya begitu dekat, tetapi dia sama sekali tidak bisa mengingatnya.
Saat Alan menyuruhnya untuk menekan angka 5, David merasa tida asing lagi. David merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Namun, David mencoba untuk menipis semua perasaannya. Mungkin hanya sebuah perasaan saja.
Tak lama lift telah sampai di lantai 5. Alan pun segera mengajak David untuk menuju ke Kamar 202.
__ADS_1
"Nah ini dia apartemen milik Eza dan saat ini Eza berada di dalam. Tolong hibur dia ya. Aku berharap jika kamu bisa membuat Eza bangkit dari keterpurukannya," pesan Alan sebelum meninggalkan David.
"Bapak tenang saja saya akan berusaha sebisa mungkin."
Alan pun memeluk pundak David lalu berkata, "Selamat berjuang."
Setelah Alan berlalu, David pun langsung memencet bel agar penghuni apartemen tahu dirinya telah datang. Dan setelah pintu dibuka David merasa sangat terkejut dengan sosok yang berada di depannya saat ini. Sosok wanita yang beberapa hari yang lalu bertemu dengan dirinya dan mengatakan jika David adalah suaminya.
"Kamu." David menunjuk ke arah Eliza.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Eliza dengan pura-pura tidak tahu dengan niat dan kedatangan David saat ini.
"Kamu Eliza anaknya Pak Alan?" David ingin memastikan lagi.
"Iya, aku Eliza. Ada apa?"
"Boleh aku masuk?"
Eliza pun mengiyakan dan menyuruh devit untuk masuk ke dalam serta menyilahkan pria itu untuk duduk di sebuah sofa. Dan pada saat itu David menjelaskan kedatangannya yang telah diutus oleh Alan untuk menemani Eliza.
Gas, apa yang telah terjadi kepadamu sehingga kamu sama sekali tidak mengingatmu. Aku Eza, Gash. Aku yakin kamu tuh suamiku. Agash, please call me! Eliza hanya bisa menahan ucapan didalam hati.
"Eliza!" penggil David.
Bola mata Eliza langsung mendelik saat pria yang ada di depannya saat ini sedang memanggil namanya. Bibir Eliza pun menyungging kecil. Eliza juga yakin jika ini adalah jawaban yang Tuhan berikan padanya.
Astaga ... Agash. Kamu manggil aku. Kamu benar-benar Agash. Tuhan ... jika dia memang Agash, kembalikan dia padaku. Aku berjanji mencintainya berlipat ganda daripada cintanya padaku . Batin Eliza dengan perasaan yang tak bisa diartikan lagi.
__ADS_1
...~BERSAMBUNG~...