
Dia adalah Zakala Putra Kanna, pria yang baru saja mengalami sebuah kecelakaan. Hampir satu Minggu dirinya dirawat di rumah sakit, tetapi dia sama sekali tak memberitahu keluargamu jika mengalami kecelakaan. Hanya sang Kakak yang mengetahui jika saat ini dirinya sedang dirawat di rumah sakit. Namun, karena sang Kakak sedang sibuk dengan pekerjaannya, dia pun hanya seorang diri di rumah sakit. Dan untuk mengusir kejenuhannya Kala pun ingin menikmati makan siangnya di kantin.
Tidak butuh waktu lama makan yang diinginkan oleh Shera telah berada diatas meja. Kala yang menyukai masakan rumah sakit langsung menyantapnya hingga tak bersisa. Shera yang memperhatikan Kala makan dengan lahap merasa tertarik, karena pria itu apa adanya. Tanpa ingin menyembunyikan bagai jati dirinya. Larut dalam makan siang, Kala sampai lupa jika saat ini ada seorang wanita yang sedang memperhatikan dirinya.
"Kamu enggak makan?" tanya Kala sambil menaikkan satu alisnya.
Shera menggeleng dengan pelan, karena saat ini Shera sedang dalam tahap diet, jadi tidak bisa makan sembarangan. Semua pola telah ditentukan oleh pelatihan.
"Tidak. Aku masih kenyang," kilah Shera. Tidak mungkin Shera mengatakan jika sedang diet dan tidak boleh makan sembarangan, meskipun perutnya sangat menginginkan untuk diganjal.
Mana sih Mei-Mei? Jangan sampai aku khilaf dan memesan bakso! Shera hanya bisa membatin saja.
"Oh gitu. Tapi ngomong-ngomong, makasih ya makannya," ucap Kala.
"Iya, sama-sama."
Hampir satu jam Shera menghabiskan waktunya untuk berbincang dengan Kala. Mendengarkan cerita Kala mengapa bisa masuk rumah sakit dan tidak ada satu keluarga yang menunggunya. Shera merasa iba, dia pun pada akhirnya dia tertarik untuk menemani Kala daripada menunggu Arshen yang saat ini ada di ruang persalinan demi menunggu wanita asing untuk melahirkan.
Ada rasa canggung saat Shera mengatakan ingin menemaninya sampai sang kakak datang. Meskipun selama ini Kala sudah pernah merasakan jatuh cinta, tetapi dia belum pernah merasakan hatinya berdegup dengan kencang seperti ini.
__ADS_1
"Kamu pulang saja. Aku baik-baik saja karena aku sudah terbiasa," ucap Kala pada Shera yang terus menatapnya.
"Tidak apa-apa. Aku juga sedang bosan dan ingin mengulur waktu saja." Shera tetap bersikeras untuk menunggu Kala.
"Baiklah, jika itu tidak merepotkanmu."
*
*
Perasaan Agash bercampur aduk. seharusnya saat ini dia bisa melepaskan rasa rindunya pada Eliza, tetapi dengan insiden seperti ini dia harus menunggui Heni yang hendak melahirkan. Dan karena suatu keadaan yang tidak memungkinkan Heni untuk melahirkan secara normal maka tim medis langsung mengambil tindakan untuk bedah caesar pada Heni. Agash tidak tahu harus berbuat apa. Apakah dia harus menunggu Heni, atau dia harus pergi untuk menemui Eliza, istri yang saat ini sedang mengandung buah cintanya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Agash terlihat frustasi di depan ruang operasi. Bahkan saat dia kembali ke ruangan Eliza, ternyata telah kosong. Eliza sudah pergi. Bahkan Shera juga sudah tiada.
Mencoba untuk terus menelepon, meskipun tak ada jawaban. Bahkan Agash juga mengirimkan pesan, tetapi Eliza mengabaikannya begitu saja. Rasa sakit yang sedang bersarang di hati Eliza masih sulit untuk menerima Agash yang nyatanya lebih memilih wanita lain, daripada dirinya. Padahal sebagian ingatannya sudah kembali. Lalu salahkan jika saat ini Eliza merasa kecewa dengan Agash?
"Za, hape kamu bunyi terus dari tadi!" kata Alan yang sedikit merasa terganggu dengan suara dering ponsel milik Eliza.
"Tolong matikan, Dadd! Eza mau istirahat!"
__ADS_1
Alan pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh Eliza. Langkahnya pun langsung menuju nakas untuk mematikan hape Eliza yang masih berbunyi. Namun alisnya mengkerut saat melihat nama yang mengembang di hape milik Kenza. Dengan cepat Alan mengambil hape itu dan membawanya keluar.
"Ya udah, kamu istirahat aja. Jangan banyak bergerak dulu. Kasihan bayi kamu," pesan Alan sebelum meninggalkan kamar Kenza.
"Iya, Dadd!" sahut Eliza dengan pelan.
Sesampainya diluar, Alan langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo," kata Alan dengan datar.
Entah apa yang dikatakan oleh Agash sehingga Alan hanya mengangguk dan mengingatkan apa yang didengarnya. Dan setelah langsung menghubungi seseorang.
Sudah sewajarnya sebagai orang tua dia turun tangan atas masalah yang sedang menimpa anak-anaknya. Meskipun itu bukan anak kandungnya, Alan akan berusaha untuk memberikan yang terbaik.
Terlalu menyakitkan saat Alan mengetahui sebuah fakta jika sang istri tidak bisa memproduksi bayi untuknya. Kadang ingin marah untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi rasanya sia-sia. Berbagai cara telah dilakukan untuk membuat rahim Azra bisa memproduksi bayi, namun nyatanya tetap tidak berhasil. Dan kini Alan menyerah. Meskipun tidak memiliki anak bernama dengan istrinya, Alan akan tetap berada disamping sang istri, apapun yang terjadi.
"Lan, mau kemana?" tanya Azra saat melihat Alan berjalan tergesa-gesa.
"Aku ada urusan penting. Kamu jaga Eliza dengan baik. Jangan biarkan dia terpuruk lagi. Jika kamu tidak bisa mengatasinya panggil saja emak bapaknya. Aku pergi, ya." Sebelum pergi Alan mendaratkan sebuah keccupan singkat di kening sang istri.
__ADS_1
"Iya, hati-hati ya," pesan Azra.
~BERSMABUNG~