
Hari berganti hari. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Mengubah warna kelabu menjadi merah, kuning dan hijau. Rasa sedih yang dirasakan oleh Eliza perlahan mulai luntur. Itu semua berkat janin yang sedang tumbuh didalam tubuhnya.
Hampir 7 bulan Eliza melewati hari-hari tanpa Agash. Kesendirian, kesedihan semua terpendam dalam hati. Namun, Eliza tak bisa mengembalikan apa yang telah terjadi. Yang hilang tak akan pernah bisa kembali, terlebih jika telah diambil oleh Sang Pencipta.
Pernah terpuruk dalam kesedihan. Bahkan hampir menyerah untuk melanjutkan hidupnya. Namun, Eliza teringat akan janin yang sedang berkembang di dalam rahimnya. Janin yang akan tumbuh menjadi seorang malaikat kecil adalah impian Agash selama ini. Dan setelah impian terwujud, Agash malah pergi untuk selamanya. Jika Eliza menyerah, itu sama saja akan mengubur impian Eliza.
Tujuh bulan tanpa Agash, Eliza za mencoba untuk tetap kuat demi calon buah hatinya. Saat ini harapan dan hidupnya hanya untuk sang buah hati. Meskipun terkadang Eliza menganggap semua ini hanyalah mimpi buruk baginya dan berharap bisa bangun dengan Agash yang berada di sampingnya.
"Udah siap?" tanya Alan saat melihat Eliza sudah keluar dari kamarnya.
"Udah Dadd," ucap Eliza dengan helaan panjang yang baru saja dihempaskan.
__ADS_1
Ya, setelah kepergian Agash, Kenza memilih untuk pulang ke rumah Alan. Entah mengapa dia merasa nyaman saat berada di rumah itu. Mungkin karena sejak kecil Eliza sudah tinggal di rumah Alan sehingga separuh jiwanya sudah melekat di rumah Alan.
Hari ini adalah jadwal cek up kandungan Eliza. Seperti biasa Kenza akan didampingi oleh tiga orang Mommy dan tiga orang Daddy. Terkadang Eliza hanya bisa menertawakan keenam orang tuanya yang selalu saja membuat kegaduhan saat berada di ruang periksa. Sebenarnya Eliza tidak mau diantar saat hendak cek up, tetapi Eliza tidak bisa melawan keenam orang tuanya yang sangat ingin mengetahui bagaimana perkembangan dari cucu mereka yang masih berada di dalam perut Eliza.
Saat memasuki rumah sakit kedatangan Eliza sudah menjadi pusat perhatian dari beberapa orang yang melihatnya. Bagaimana tidak kedatangan Eliza seperti sedang dikawal oleh bodyguard yang terdiri dari tiga orang wanita dan tiga orang pria.
"Eza minta untuk kali ini kalian tidak usah ikut masuk. Biar Eza sendiri yang masuk!" kata Eliza saat hendak membuka pintu ruangan dokter kandungannya.
"Kenapa kita gak boleh masuk, Za?" Kini Giliran Azra yang bertanya.
"Kan kita juga mau jenguk cucu kita, Za." Shereena—mommy mertua Eliza menyahut.
__ADS_1
"Eza enggak mau terjadi perdebatan di dalam ruang periksa nanti seperti yang telah berlalu. Mending kalian menunggu di sini! Cucu kalian pasti akan baik-baik saja. Jadi kalian enggak usah khawatir, oke!" Eliza pun masuk ke dalam ruangan dokter kandungannya. Helaan napas terdengar berat sebelum menyapa sang dokter.
"Kamu sudah datang, Za? Silahkan duduk. Tapi ngomong-ngomong kemana semua bodyguard kamu, kok cuma sendirian?" tanya dokter Wati, seorang dokter yang menangani kehamilannya.
"Mereka ada di luar, Dok. Aku sengaja menyuruh mereka untuk menunggu di luar karena mereka itu terlalu ribut. Akan ada saja bahan yang menjadi perdebatan sekalipun itu hanya butiran debu."
Sang dokter tertawa pelan sebelum memeriksa kandungan ginjal lebih lanjut. Dia sudah tidak heran lagi kepada 6 orang bodyguard Eliza yang teramat menyayanginya sehingga cek up saja selalu ditemani. Sangat beruntung sekali Eliza mempunyai orang tua seperti ke-6 orang tuanya sangat sayang padanya. Ya, jika bukan mereka yang menyayangi dan memberikan semangat kepada Eliza lalu siapa lagi? Keenam orang tuanya pun merasa sangat bersyukur ketika Eliza mempunyai semangat untuk melanjutkan hidupnya lagi meskipun tanpa Agash disisinya.
*
*
__ADS_1