
Eliza berusaha untuk mengambil kesempatan dengan mengajak pria yang bernama David itu untuk berbelanja persiapan anaknya, ya meskipun masih dua bulan lagi mereka akan keluar. Kali ini Eliza serasa berbelanja ditemani oleh sang suami, padahal nyata memang iya. Eliza pun meminta David untuk mencarikan perlengkapan untuk anaknya.
"Sepertinya warna biru lebih cocok!" komentar David saat Eliza meminta pendapat darinya.
"Bagus yang pink, tau!"
David pun mengangguk dengan pelan sambil lihat-lihat kembali perlengkapan bayi. Tiba-tiba saja dia teringat pada istrinya. Bibirnya pun tersenyum tipis dan langsung mengambil baju bayi yang dilihatnya cantik.
"Ini bagus tidak?" David bertanya pada Eliza.
Mata Eliza langsung menangkap baju bayi yang dipegang oleh David. "Wah ... bagus sekali itu." Eliza merasa sangat bahagia karena selera suaminya tidak pernah berubah. Dia akan mencari barang apapun dengan kualitas yang baik
"Iya. Pasti anakku akan terlihat sangat cantik kalau memakai baju ini," ujarnya.
__ADS_1
Senyum yang semula mengembang luas tiba-tiba langsung ditarik kembali. Eliza langsung memasang wajah datarnya. "Maksud kamu?"
"Oh iya, aku lupa mengatakan kepadamu jika saat ini istriku juga sedang hamil besar. Kemungkinan bulan depan dia akan melahirkan. Eh, bukannya kamu sudah tahu ya," kata David saat mengingat pertemuan mereka beberapa hari yang lalu.
"Sepertinya aku sudah selesai berbelanja. Ayo pulang saja!" Tiba-tiba mood Eliza langsung berubah drastis.
David merasa jika ada yang salah dengan dirinya sehingga Eliza yang semula sangat semangat untuk berbelanja mungkin tiba-tiba mengajaknya untuk pulang. Seketika David melihat baju bayi yang sedang dipegangnya.
"Apakah karena masalah baju ini dia langsung marah?" tanya David pada dirinya sendiri.
"Sekalian yang itu ya, Mbak!" kata Eliza sambil menunjuk baju yang dipegang oleh David.
"Eh, gak usah! Ini aku bayar sendiri aja." David menolak.
__ADS_1
"Biarin aja, Mbak. Masukkan aja ke struk aku!" Eliza bersikeras untuk membayar baju yang berada di tangan. "Sini biar dibayar!" Eliza merampas paksa baju itu agar di scan oleh sang kasir.
"Dipisahkan ya, Mbak. Soalnya baju itu anaknya dia!" ucap Eliza lagi.
"Lha, memangnya Mbak sama Mas ini bukan suami istri? Eh, maaf. Abisnya kalian terlihat cocok," ucap Mbak kasirnya. "Eh, tunggu. Kayaknya pernah liat Mas ini. Tapi dimana ya? Wajahnya tuh, kayak gak asing," celotehnya lagi.
"Oh iya? Coba diingat-ingat lagi, Mbak. Kalau udah ingat jangan lupa minta tanda tangannya!" Karena tidak ingin membuat antrian panjang, Eliza langsung meninggalkan toko itu dan diikuti oleh David yang mengikutinya dari belakang.
"Mbak ... tunggu! Jangan cepat-cepat jalannya. Mbak itu lagi hamil. Kalau kesandung gimana?" teriak David dari belakang. Namun, sayangnya Eliza acuh dan tak ingin mendengarkan ucapan David. Perasaan sangat kesal saat David ingin membelikan baju bayi untuk bayi orang. Ingin rasanya detik ini Eliza berteriak di telinga David jika sebenarnya dia adalah suaminya. Bahkan ingin rasanya Eliza menunjukkan semua bukti-bukti jika dia adalah Agash. Namun, Eliza tepat harus bersabar jika tidak ingin kehilangan Agash untuk selamanya.
"Aku bilang tunggu! Kamu bisa jatuh kalau berjalan terlalu cepat!" David memberanikan diri untuk mencekal tangan Eliza.
Eliza hanya bisa menarik napas panjangnya sambil menitihkan air mata yang sejak tadi ditahan.
__ADS_1
"Kamu nangis?" tanya David saat melihat air mata membasahi pipi Eliza.
~BERSAMBUNG~