Jodohku Kembali Pulang

Jodohku Kembali Pulang
DUA PULUH DUA


__ADS_3

David tidak tahu apa yang terjadi pada wanita yang tak dikenalnya yang tiba-tiba pingsan di sampingnya. Namun, ucapan wanita itu masih terngiang-ngiang dalam ingatan jika wanita itu menyebut dirinya Agash. Bahkan kemarin juga ada beberapa orang yang memangilnya dengan nama itu. Bahkan mereka mengelilingi mejanya. Dan satu lagi ... saat pertama kali bertemu dengan Eliza, wanita itu juga menganggap jika dia adalah Agash—suaminya. Lalu apakah ini adalah sebuah kebetulan saja atau ada sesuatu yang memang tidak diinginkannya.


Semakin banyak berpikir membuat David merasa sakit kepala yang hebat. Bahkan karena terlalu sakit tubuhnya sampai terjatuh ke lantai karena kedua tangannya memegangi kepalanya. Jangan ditanya lagi bagaimana nasib wanita yang tadi bersandar di bahu David, tentu saja ikut terjatuh.


Entah sudah berapa lama wanita itu tergeletak di lantai. Saat dia membuka matanya, dia sangat terkejut dengan pria yang dia anggap David sedang meraung kesakitan. Dengan cepat wanita itu langsung mendekati David.


"Hei ... are you oke?" panik wanita itu. Namun, tak ada jawaban dari David membuatnya semakin takut dan panik. Dan saat pintu lift dibuka, ternyata saat ini telah berada di lantai tempat kamar Eliza berada.


"Tujuan kita sama, tapi aku gak tahu kamu mau kemana. Mending bawa ketempat Eza dulu, deh!"


Wanita yang bernama Shera itu langsung memapah tubuh David untuk menuju kamar Eliza. Karena Shera sudah tahu password pintu apartemen itu, dia pun langsung membuka pintunya. "Aduh ... berat sekali sih!" gerutunya saat kesusahan untuk membawa David masuk kedalam.


David pun berhasil didudukkan di sebuah sofa. Dan tak berapa lama Shera memberikan David gelas berisi air minum. "Minum dulu," ujarnya.


David menerima kelas dari tangan Shera dan meminumnya hingga ludes. Kepala yang tadinya sangat terasa sakit, kini perlahan sudah mulai menghilang. "Terima kasih," ujar David.


Sejenak David terdiam saat menyadari dirinya sedang berada dimana. Detik kemudian David menatap Shera. "Kamu siapa? Kenapa kamu bisa membuka pintu apartemen ini?" tanya David mengintimidasi.


"Kamu gak usah ngelawak. Gak lucu! Aku tahu kamu itu artis, jago akting. Tapi gak gini juga cara kamu ngelawak, Gash! Kamu tuh jahat banget udah ngeprank kita semua tau! Kenapa kamu lakukan ini, Gash! Daddy, mommy, bahkan Eza sangat terpukul dengan berita kematian kamu. Parah kamu, Gash!" Shera merasa kecewa karena merasa jika saat ini Agash sedang ngelawak.


David tidak paham dengan arah pembicaraan Shera. "Maksud kamu apa?"


"Agash cukup! Aku sedang tidak ingin menanggapi kamu melawak. Sekarang aku mau tanya kenapa kamu memalsukan kematianmu?"


"Kematian?" cicit David. "Aku tidak tahu apa yang sedang kamu katakan. Aku David, bukan Arshen."

__ADS_1


Bola mata Shera langsung terbelalak dengan lebar saat mengatakan pria yang ada di depannya saat ini bukanlah Agash, melainkan David. Namun, Shera tidak percaya.


"Cukup! Aku gak mau dengar lawakan kamu! Terserah kamu mau jadi siapa, tapi kamu tetap Agash, my brother!" tegas Shera.


Ya, wanita itu adalah Shera. Anak kedua dari pasangan Shereena dan juga Arga. Dia adalah adik Agash yang saat ini sedang menempuh pendidikannya di luar negeri.


"My brother? Apakah itu artinya kamu saudaraku?"


Shera mendengkus dengan kasar. "Jangan bilang kamu juga tidak tahu namaku," keluh Shera.


"Aku memang tidak tahu tidak tahu."


Shera merasa ada yang aneh pada pria yang ada di depannya saat ini. Apakah dia memang bukan Agash? Lalu mengapa dia tahu jika ini adalah apartemen yang ditinggali oleh Eliza. Apakah Eliza sengaja memungut pria yang mirip dengan Agash untuk pulang dan dijadikan suami pengganti?


"Lihat ini!" perintah Shera.


Dengan patuh, David melihat foto yang berada di yang telah disodorkan oleh Shera.


"Ini Daddy, Mommy, aku dan ini kamu." Shera menunjukkan satu persatu foto yang tersimpan di dalam galery foto. "Satu lagi ... " Shera mencari sebuah foto lagi.


"Lihat! Ini adalah foto kamu dan Eza saat menikah. Seharusnya foto pernikahan kalian ada di dinding, tapi kok gak ada, ya."


Tangan David masih bergemetar saat melihat wajah yang sama di dalam ponsel itu. Apakah itu memang dirinya atau memang ada orang yang mirip dengan dirinya, tetapi sekarang sudah tidak ada.


"Dia meninggal karena apa?" tanya David dengan datar.

__ADS_1


"Kecelakaan pesawat, tujuh bulan yang lalu," ujar Shera.


"Tujuh bulan yang lalu?" cicit David.


*


*


Disisi lain Eliza yang baru saja ingin berangkat ke apartemen langsung dicegah oleh Daddy si Alan-nya.


"Za, kemarilah!" ujarnya. "Lihat ini!" Alan menunjuk hasil pantauannya.


"Apa? itukah Shera? Kapan dia pulang? Kenapa dia disana bersama dengan Agash? Apa yang telah dikatakan oleh Shera? Jangan bilang Shera memaksa Agash untuk mengingat jati diri Agash. Dadd, ini gak bisa dibiarkan!" Eliza terlihat sangat panik saat melihat rekaman cctv yang sedang dipantau oleh Alan.


"Dadd, ngapain Daddy masih duduk disini? Ayo cepat ke apartemen! Eza takut Shera mengatakan kebenaran pada Arshen!" Eliza menarik lengan Alan agar berdiri.


"Za, tunggu! Daddy belum pamit sama Mommy."


"Udah, gak usah pamit. Mommy Azra pasti tau kok!"


Alan hanya bisa membuang nafas kasarnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, terlebih Kenza yang memintanya. Bahkan jika Eliza meminta dunia sekalipun, Alan akan memberikannya.


"Mommy, kita berangkat!" terikat Eliza dengan keras.


~BERSAMBUNG~

__ADS_1


__ADS_2