Jodohku Kembali Pulang

Jodohku Kembali Pulang
TIGA PULUH TIGA


__ADS_3

Untuk kali pertama Agash menemani Eliza untuk memeriksakan kandungannya. Dan saat keduanya telah masuk ke dalam ruangan dokter Wati, wanita yang berstatus sebagai dokter pribadi Eliza sangat terkejut dengan sosok Agash yang mengantarkan Eliza hari ini.


Sebagai teman terdekat Heni, tentu saja dokter Wati mengenali siapa pria yang berada di samping Eliza saat ini.


"Dia—" Dokter Wati menggantung ucapannya, karena dia tidak ingin salah sebut.


Eliza mengembangkan senyum di bibirnya. Karena ini adalah kali pertama Eliza ditemani oleh Agash, mungkin membuat dokter ingin tahu siapa pria itu.


"Oh ini .... ini suami saya, Dok. Namanya Agash. Alhamdulillah suami saya masih hidup dan ternyata dia salah satu korban yang selamat dari kecelakaan maut saat itu," jelas Eliza.


Dokter Wati hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan, sekalipun dia tahu jika pria ini adalah pria yang sempat diselamatkan oleh Heni sahabatnya. Ingin rasanya dokter owati menanyakan di mana keberadaan Heni yang baru saja dikabarkan telah melahirkan. Karena hingga sampai saat ini keberadaan Heni tidak ada yang mengetahui.


"Oh, syukurlah suami kamu masih diberikan umur panjang," ucap dokter Wati.


"Iya, Dok. Saya sangat bersyukur karena suami saya masih diberikan kesempatan untuk menjadi ayah untuk anak-anaknya," ujar Eliza dengan sumringah.


Pemeriksaan kali ini telah memasuki bulan ke delapan, di mana tinggal satu bulan lagi baby yang ada di dalam perut Eliza akan segera lahir ke dunia.


Agash merasa sangat bahagia ketika bisa melihat titisannya melalui layar monitor. Tidak sia-sia sebelum kecelakaan pesawat terjadi dia telah menggempur istrinya tanpa kenal lelah hingga akhirnya apa yang suntikkan ke dalam tubuh Eliza pun akhirnya menetas.


"Haii baby-nya Daddy and Mommy, satu bulan lagi kita akan bertemu. Udah gak sabar pengen liat kalian," ujar Agash dengan senyum bahagianya.


Begitu juga dengan Eliza yang tak kalah bahagia karena saat di melahirkan akan ditemani oleh suaminya.

__ADS_1


Hampir lima belas menit Eliza melakukan serangkaian serangkaian pemeriksaan dan saat ini mereka telah siap untuk pulang. Namun, sebelum Agash meninggalkan ruang pemeriksaan, dokter Wati menghentikan langkah Agash dan Eliza.


"Tunga!"


Agash dan Eliza pun langsung menoleh kearah dokter Wati. "Iya, Dok. Ada apa?" tanya Eliza.


"Em ... sebenarnya saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan tetapi ingin di luar seputar kehamilan, Eza. Saya ingin bertanya kepada Pak Agash," ucap dokter Wati.


"Aku? Agash menunjuk dirinya sendiri. "Tanya apa?"


"Em ... sebenarnya saya ingin bertanya tentang keberadaan Heni dimana, karena setelah melahirkan Heni menghilang. Mungkinkah anda tau, keberadaan Heni. Karena setau saya anda .... " Dokter wanita tidak meneruskan ucapannya.


"Kamu tahu masalah itu?" tanya dengan kedua alis yang menaut. "Tapi maaf, setelah ingatanku kembali dan Heni melahirkan, aku tidak tahu kabarnya lagi karena saat aku mengunjunginya di rumah sakit ya sudah tidak ada di sana," jelas Agash.


"Lalu kemana perginya Heni? Karena setahu saya di sini dia tidak memiliki siapa-siapa." Dokter semakin mengkhawatirkan keadaan temannya itu.


Dalam hati Eliza hanya bisa membatin jika hilangnya Heni ada sangkut pautnya dengan Daddy si Alan-nya, karena hanya dia yang peka dengan perasaannya.


Maaf, Dok. Untuk kali ini aku harus tega, karena aku tidak mau rumah tanggaku terancam oleh wanita yang telah mengakui suamiku sebagai suaminya. Aku yakin dia tetap akan terobsesi dengan suamiku. Aku tidak akan menyalahkan Daddy si Alan jika dia telah mengirim Heni ke Afrika, batin Eliza.


**


Di suatu tempat yang sudah ditentukan, dua insan saling membisu karena tidak tahu topik apa yang akan dibicarakan. Keduanya terpaksa melangsungkan pertemuan karena desakan dari kedua orang tuanya. Siapa lagi jika Kenzo dan Alma. Dua insan yang sedang dijodohkan oleh orang tua mereka, tetapi keduanya sama-sama tidak saling memiliki rasa.

__ADS_1


"Kita tunggu tiga puluh menit lagi, setelah itu kamu aku antar pulang," ujar Kenzo dengan datar.


"Iya, tidak masalah," balas Alma.


Sungguh suasana yang sangat canggung. Sekalipun Alma adalah gadis cantik, tetapi tak membuat Kenzo tertarik untuk kecantikan paripurna yang dimiliki oleh Alma.


"Em ... Zo. Jika kamu merasa keberatan dengan perjodohan ini, alangkah baiknya jika perbedaan ini kita tolak. Aku tidak mau perjodohan ini membuat beban untuk," kata Alma yang sudah merasa bosan dengan keheningan.


Kenzo yang sedang memainkan ponselnya, langsung mengalihkan pandangannya untuk menatap Alma. "Kamu pikir gampang untuk menolak perjodohan ini? Aku sudah mencoba untuk menolak tetapi tidak ada hasilnya karena Daddy-ku tidak menerima penolakan," jelas Kenzo.


"Tapi untuk apa kita menjalani perjodohan jika di antara kita saling keberatan?"


"Apakah kamu juga merasa keberatan dengan perjodohan ini? dalam mengapa kamu tidak menolaknya?"


Alma tersenyum tipis. Bagaimana Alma bisa menolak keinginan papanya, sementara dia adalah satu-satunya harapan yang dimiliki oleh papanya.


"Aku tidak akan pernah bisa menolaknya keinginan papa, sekalipun aku tidak menyukainya, karena aku adalah satu-satunya harapan yang dimiliki papa setelah mama tidak ada. Dan bagiku, kebahagiaan papa adalah prioritas utama untukku."


Kenzo sedikit terkejut dengan pengakuan Alma. Dia tidak menyenangkan sikap apa yang dikatakan oleh Daddy-nya tentang Alma itu benar adanya. Alma memang anak yang penurut.


"Ya sudah jika kamu tidak bisa menolaknya, kita ikuti saja jalan yang telah ditentukan oleh orang tua kita. Jika kelak kita sudah tidak sanggup, maka kita bisa berpisah," ujar Kenzo dengan ringan.


Lagi-lagi Alma hanya bisa tersenyum tipis. Namun, Alma yakin dengan pilihan papanya itu adalah pilihan yang terbaik. Ya, meskipun saat ini belum masih jauh rasanya untuk digapainya.

__ADS_1


Tapi aku berdoa kepada Tuhan agar kita memang ditakdirkan untuk berjodoh. Aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan kamu adalah orang pertama yang telah mendapatkan hatiku. batin Alma.


...~BERSAMBUNG~...


__ADS_2