Jodohku Kembali Pulang

Jodohku Kembali Pulang
TIGA PULUH DUA


__ADS_3

Setelah berhasil memberikan kejutan pada orang tuanya, Agash dan juga Eliza pun memutuskan untuk pulang. Sementara Shera tetap tinggal di rumah Daddy-nya. Kembalinya Agash membuat harapan yang telah terkubur, kini mulai terbangkitkan lagi, karena Agash adalah penerus Arga untuk mengelola perusahaannya kelak.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Agash saat perjalanan pulang.


"Aku gak mau makan apa-apa. Lagian aku masih kenyang. Kenapa?" Eliza balik bertanya.


"Gak ada Aku hanya bertanya saja. Kali aja mau makan lagi. Kan sekarang ada dua nyawa dalam perut kamu."


"Mereka berdua tidak rakus. Mereka tahu jika Mommy selama ini terlalu menderita. Mereka bukan anak bukan anak manja. Jadi kamu tidak usah khawatir mereka tidak akan menyusahkan Mommy-nya dengan cara meminta yang aneh-aneh," jelas Eliza.


"Wah ... keren anakku. Udah gak sabar mau nungguin mereka keluar." Agash tersenyum lebar dan satu tangannya mengelusi perut Eliza yang membuncit.


"Tumben, merak gak nendang?" tanya Agash dengan heran. Karena biasanya jika Agash mengelus surat Eliza, maka dengan cepat bayi yang ada di dalam perut Eliza langsung memberikan respon dengan cara menendan-nendang. Mungkin bayi-bayi itu sedang tidur?

__ADS_1


"Baiklah kalau kamu sudah tidak menginginkan sesuatu kita pulang, ya. Tapi kita nggak pulang ke Daddy. Kita Pulang ke apartemen kita, karena aku harus memberikanmu hukuman telah membuka aibku didepan Shera."


Bola mata Eliza langsung memulai dengan lebar. "Gash, emangnya kamu nggak kasihan sama perutku yang besar ini. Nanti kalau bayi-bayi kita di dalam cidera gimana?"


"Mereka gak bakal cidera, Sayang. Nanti mainnya pelan-pelan aja. Kalau kamu tidak yakin denganku, kamu bisa jadi astronot. Kamu belum pernah jadi astronot kan?" Tangan Agash masih mengelus perut Eliza dengan pelan.


"Dih ... apaan sih!" Eliza berusaha untuk menyembunyikan pipinya yang sudah memerah. Agash tetaplah Agash yang mempunyai pikiran messum. Pria itu pun langsung tertawa setelah melihat wajah Eliza memerah.


"Baiklah, mari kita pulang. Malam ini aku akan melihat bagaimana seksinya istriku saat menjadi astronot." Agash tertawa pelan. Pikirannya sudah terbayang bagaimana seksinya Eliza nanti saat dia menjadi astronot dengan perutnya yang buncit.


"Kamu ngapain disini? Ayo tidur!" Suara membuyarkan lamunan Alan.


"Aku nungguin Eza. Udah jam 10 belu pulang juga."

__ADS_1


"Ngapain ditungguin? Malam ini Eza gak pulang. Dia dan Agash pulang ke apartemen," ujar Azra.


Mata Alan langsung membulat dengan lebar. "Kok gitu? Kenapa gak bilang sama aku?"


"Kamu aja yang gak buka hape! Tadi Eza udah telepon, tapi gak kamu angkat. Ini Eza baru kirim pesan. Udah ayo tidur!"


"Dasar Agash sialan! Semua ini pasti keinginan dia. Awas aja kalau sampai terjadi sesuatu pada Eza dan anaknya!" geram Alan.


Azra yang mendengar ucapan Alan langsung menautkan alisnya. "Kamu ini ngomong apa sih? Agash itu suaminya. Jadi wajar aja kalau mereka mau menghabiskan waktu mereka berdua untuk melepaskan rasa rindunya. Kayak gak pernah ngalamin aja!" cibir Azra.


"Oh ... jadi Agash ngajak Eza pulang ke apartemen cuma mau nyangkul? Ngapain sampai ke apartemen? Disini pun juga bisa." Seketika Alan terdiam sambil melirik kearah Azra yang masih berdiri disampingnya. Setelah berpikir beberapa detik, Alan langsung tersenyum smrik. Tanpa aba-aba Alan langsung membopong tubuh Azra untuk menuju ke kamar.


"Lan, kamu ngapain gedong aku? Aku bisa jalan sendiri! Turunin, gak!"

__ADS_1


"Udah diam! Emangnya cuma Agash aja yang bisa nyangkul? Aku juga bisa."


"Alan .... " Azra berusaha meronta untuk turun, tetapi tenaga Alan lebih kuat.


__ADS_2