Jodohku Kembali Pulang

Jodohku Kembali Pulang
DUA PULUH SATU


__ADS_3

Baru saja masuk kedalam rumah, David merasa sangat terkejut dengan Heni yang sudah berdiri di depan pintu.


"Astaga ... kamu mengagetkanku!" ujar David.


Namun, Heni masih terdiam tanpa kata. Matanya masih menatap lekat pada David yabg baru saja pulang. Biasa Heni akan bergelayutan manja di lengan David saat David baru pulang, tetapi tidak untuk saat ini


"Ada apa? Apakah ada yang salah?" tanya David dengan heran saat melihat Heni tanpa ekspresi.


"Tidak ada. Aku hanya sedikit lelah saja. Mandilah, aku aku akan menyiapkan makan malam," ujar Heni dengan datar dan kemudian berlalu meninggalkan David begitu saja.


David merasa ada sesuatu yang berbeda pada Heni, tetapi dia tak memikirkan lebih lanjut lagi. "Apakah aku sudah melakukan sebuah kesalahan?" tanya David pada dirinya sendiri.


Hampir lima belas menit akhirnya David pun menyusul Heni yang telah berada di meja makan. Beberapa hidangan telah tersaji diatas meja. Semuanya adalah mahakarya dari tangan Heni. Meskipun sedang hamil besar, tetapi tidak membuat Heni bermalas-malasan. Apalagi hanya untuk memasak yang sudah menjadi hobinya.


"Hen, kamu kenapa? Sakit?" tanya David yang merasa penasaran dengan Heni yang memilih banyak diam.


"Aku gak papa. Aku lagi capek aja. Udah makan aja, nanti dingin."


David membuang nafasnya dengan kasar. Dan ini adalah kali pertama dalam sejarah Heni mengabaikan dirinya.

__ADS_1


"Hen, apakah kamu sedang marah padaku?" David pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Heni tentang apa yang sedang dipikirkan.


Sejenak Heni terdiam untuk beberapa saat. Dia pun langsung menatap David yang juga sedang menetap dirinya. Cukup lama, dan pada akhirnya ini pun berkata, "Apakah kaku bisa berhenti bekerja?"


David langsung menautkan kedua alisnya. "Mengapa tiba-tiba kamu memintaku untuk berhenti bekerja?"


"Aku hanya tidak ingin kamu merasa kelelahan dan pada akhirnya akan menggangu kesehatanmu. Kita masih bisa hidup, sekalipun kamu enggak bekerja, Vid. Kita punya tabungan, dan itu lebih dari cukup untuk biaya hidup kita," jelas Heni.


"Tapi aku udah sehat, Hen! Aku tidak bisa terus-menerus bergantung pada istri. Aku seorang suami, Hen. Mencari nafkah adalah tugasku. Tidak mungkin aku berleha-leha di rumah sementara istriku dalam keadaan hamil besar masih harus wira-wiri ke rumah sakit untuk bekerja. Tolong kamu jangan melarangku untuk berhenti bekerja."


"Oh... gitu ya kamu! Baru dua hari kerja udah berubah! Kamu bilang kamu kerja di sebuah perusahaan dengan jabatan kepala ekspedisi, tapi kenyataannya apa kamu malah menghabiskan waktumu bersama dengan wanita lain. Apakah itu yang disebut bekerja? Sungguh aku kecewa denganmu!" Heni pun memilih untuk meninggalkan meja makan begitu saja. Sungguh hatinya tidak terima jika David bersama dengan wanita lain. Ingin marah, ingin teriak, tetapi Heni tidak bisa melakukan itu pada David. Heni takut jika dia mengeluarkan amarahnya yang berlebihan akan membuat David benar-benar meninggalkannya.


David hanya bisa melihat punggung Heni meninggalkan, tanpa ingin mencegah. Entah darimana Heni bisa mengetahui apa yang dilakukannya diluar sana.


*


*


Hingga pagi menjelang, Heni masih mendiamkan David. Bahkan dia sama sekali tidak beranjak dari tempat tidurnya. Bahkan Heni juga tidak menyiapkan sarapan. Hatinya masih merasa kesal dengan David yang ternyata lebih memilih pekerjaan yang tidak jelas itu.

__ADS_1


"Hen, aku berangkat dulu ya. Kalau kamu capek gak usah ke rumah sakit Kan kamu udah mengajukan izin cuti. Oh iya, aku juga sudah menyiapkan sarapan untukmu. Jangan lupa makan ya," pesan David sebelum meninggalkan Heni.


Air mata Heni telah membasahi pipinya. Sebuah ketakutan yang selama ini ditepis akhirnya datang juga. Lalu apa yang akan dia lakukan untuk mempertahankan David, sementara David memanglah bukan miliknya?


"Apakah aku egois karena ingin memiliki David seutuhnya? Tidak aku tidak egois! Jika bukan karena aku, pria itu tidak akan bisa hidup sampai detik ini. Bahkan aku juga yang selalu merawatnya selama empat bulan dalam keadaan koma. Aku tidak egois!" Heni berteriak sambil membuang bantal dan guling kesembarang arah.


*


*


David berjalan gontai untuk menuju kamar apartemen Eliza. Helaan napas panjang terdengar kasar. Namun, saat ingin menekan tombol lift, tiba-tiba tangan seseorang telah menekannya terlebih dahulu. David pun langsung menoleh.


Seorang wanita dengan gaya modis serta kacamata yang bertengger di atas hidungnya yang tiba-tiba langsung menutup mulut saat melihat siapa yang sedang berada disampingnya saat ini.


"Agash? Do you Arshen?" Wanita itu menepuk pipinya berulang kali untuk memastikan apakah dirinya sedang bermimpi atau tidak.


"Oh my God, Serious. It's not a dream. He's Arshen," pekiknya. Mendadak wanita yang sedang berdiri di samping David jatuh pingsan karena saking terkejutnya. Beruntung dengan sigap, David langsung menangkap tubuh wanita itu.


"He ... kamu kenapa?" David merasa sangat panik.

__ADS_1


Tak ada satupun orang yang bisa dimintai pertolongan dan pada akhirnya David memilih untuk membawanya ke kamar Kenza.


...~BERSAMBUNG~...


__ADS_2