Jodohku Kembali Pulang

Jodohku Kembali Pulang
DUA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Sejenak Agash membuang bayangan tentang Heni yang ditinggal di rumah sakit. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Apakah wanita itu berhasil melewati operasinya atau tidak dan anaknya berjenis kelamin perempuan atau laki-laki. Rasanya tidak adil untuk Heni ketika ditinggal begitu saja tanpa pamit ataupun sekedar kata terima kasih karena telah merawatnya selama ini. Namun, jika mengingat sebuah kesalahan yang telah dilakukan oleh Heni membuat Agash mengurungkan niatnya untuk mengucapkan kata terima kasih, karena Heni telah menipu dirinya.


Namun, jika menilik kebelakang lagi Agash pun sedikit iba pada wanita itu Rasanya pasti sangat terpukul ketika harus kehilangan orang yang disayanginya. Sama halnya yang dirasakan oleh Eliza saat dirinya dinyatakan tewas dalam kecelakaan itu. Mungkin niat awal Heni hanya sekedar menolong, tetapi rasa kehilangan membuat Heni terobsesi untuk memiliki Agash untuk menggantikan peran suaminya yang telah tiada.


Namun, satu sisi lain Agash tidak ingin membuat Eliza za merasa terkecewakan lagi karena diam-diam Agash sedang mengkhawatirkan Heni. Malam yang sunyi pun tak lantas membuat Agash memejamkan mata meskipun baru saja mendapat jatah dari istrinya lagi. Kini hati Agash sedang dilema, namun bukan berarti dia memilih rasa pada Heni. Hanya sekedar rasa iba saja.


"Kamu kenapa belum tidur?"

__ADS_1


Agash terkejut karena ternyata Eliza belum tidur juga.


"Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir saja bagaimana menderitanya kamu saat aku tak berada di sisimu. Kamu pasti sangat menderita."


"Bohong! Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu sedang memikirkan wanita itu kan? Biasanya wanita itu yang menemanimu tidur dan tiba-tiba sekarang aku yang menemaniku. Iya kan?" tuduh Eliza.


Helaan nafas panjang terdengar begitu berat. Tangan Agash pun langsung menarik tubuh Eliza agar lebih mendekat padanya. Tujuh bulan berpisah, ternyata sudah banyak perubahan yang dialami oleh Eliza.

__ADS_1


"Aku hanya merasa kasihan saja dengan Heni. Entah bagaimana keadaannya saat ini. Biar bagaimanapun dia adalah orang yang telah menyelamatkan nyawaku, Meskipun aku tahu apa yang telah dilakukannya itu salah besar karena telah memanfaatkan keadaan di mana dia mengaku sebagai istriku." kata Agash dengan tiba-tiba.


Sejenak Eliza terdiam. Memang ada benarnya yang diucapkan oleh Agash, tetapi Eliza masih merasa kesal dengan Heni yang telah merebut suaminya, sementara Eliza sendiri sangat membutuhkan kehadiran Agash. Lalu apakah saat ini Eliza harus merasa kasihan dengan apa yang sedang dialami oleh Heni? Apakah sebelumnya Heni tidak memikirkan perasaan Kenza. Hidup itu keras, tetapi tidak harus mengakui apa yang bukan miliknya untuk menutup lukanya. Jangan tanya tentang luka, karena Kenza sudah kebal dengan rasa itu.


"Jika kamu ingin melihat keadaan Heni, besok kita jenguk dia. Sekarang tidurlah. Kamu butuh istirahat," ucap Eliza.


Bibir Agash tersenyum kecil. Dia merasa lega karena sang istri bisa mengerti akan keadaan saat ini. Satu kecuupan mendarat di kening Kenza, sebelum pada akhirnya mereka berdua menuju alam mimpi.

__ADS_1


"Sayang, terima kasih." Agash mendaratkan lagi satu kecuupan di kening Eliza, kemudian memeluk pinggangnya untuk menuju ke alam mimpi.


~BERSAMBUNG~


__ADS_2