
"Bagaimana?" tanya Alan ketika telah sampai di rumah sakit.
"Aku tidak tahu. Heni masih berada di ruang operasi. Dadd, bagaimana keadaan Eza. Apakah dia baik-baik saja? Sungguh aku tidak tahu harus berbuat apa." Agash mengadu pada Alan. Ya, meskipun terlihat menyeramkan tetapi Alan adalah tempat pengaduan yang paling nyaman, setelah pengaduannya pada Tuhan.
"Kamu tenang saja aku sudah menghubungi beberapa orang untuk berjaga disini. Jika kamu ingin pulang, pulanglah! Meskipun Eza sedang marah dan kecewa kepadamu, tetapi dia sangat merindukanmu. Pulang dan minta maaf padanya. Luluhkan lagi hatinya. Selama ini dia sudah sangat menderita karena kepergianmu. Aku akan menangani masalah wanita itu," ujar Alan pada Agash
"Dadd, terima kasih." Agash langsung memeluk tubuh Alan. Namun, dengan cepat Alan langsung mendorong pelan tubuh Agash.
"Sudahlah! Jangan peluk-peluk aku seperti ini. Aku tidak mau tubuhku dipeluk oleh laki-laki. Kalau wanita, aku mau."
"Ya ... ya .... ya aku tahu itu. Ya sudah, aku serahkan semuanya pada Daddy. Daddy si Alan emang the best! Muuaaach!" Agash memberikan ciuuman jarak jauh pada Alan.
Alan hanya bergidik geli sambil berkata, "Na*jiss!"
Tak berapa lama orang-orang yang dipanggilnya tadi sudah tiba. Mereka semua mendengarkan arahan dari Alan untuk menjaga pasien sedang menjalani operasi. Dengan patuh mereka semua mengiyakan setiap kata yang keluar dari bibir Alan.
"Baiklah, jaga baik-baik jangan ngeluyur atau tidur!" pesan Alan sebelum meninggalkan mereka semua.
"Siap, Bos. Kami pastikan akan menjaga wanita itu dengan baik."
"Bagus! Ya sudah aku mau pulang! Hampir satu hari mengurusi masalah seperti ini membuatku lelah. Sepertinya aku butuh di servis agar tenagaku pulih kembali." Alan pun melenggang pergi meninggalkan anak buahnya yang diutus untuk menjaga Heni.
*
*
__ADS_1
Azra tidak terkejut dengan kedatangan Arshen ke rumahnya karena Alan sudah menceritakan tentang siapa David yang sebenarnya. Wanita yang disebut Mommy itu langsung mengantarkan Agash ke kamar Eliza.
tokk .. tokk ..tokk
"Za, apakah kamu sedang tidur? Ada yang ingin bertemu denganmu," kata Azra sambil mengetuk pintu kamar Eliza.
"Eza enggak tidur, Momm. Suruh masuk aja. Eza lagi malas gerak!" sahut Eliza dari dalam kamarnya.
Dengan segala keberanian, Agash pun langsung membuka pintu dan melangkahkan kakinya untuk mendekat kearah Eliza yang memainkan ponselnya diatas tempat tidur.
Dada Agash rasanya ingin lepas saat melihat wajah Kenza. Tak tahu bagaimana Eliza melewati hari-hari tanpa dirinya. Bahkan saat Agash malah mementingkan wanita lain daripada dirinya.
"Za." Suara lembut itu menyentuh telinga Eliza. Sadar akan siapa pemilik suara itu, Eliza langsung mendongak.
Agash terus memberanikan diri untuk tetap mendekat. Setelah sampai di bibir ranjang, Agash langsung berjongkok dan langsung menggenggam tangan Eliza.
"Eza, aku minta maaf."
Mata Eliza telah berkaca-kaca untuk menampung air matanya agar tidak tumpah. Bagaimana Eliza bisa menolak permintamaafan dari Agash jika saat ini benar-benar sangat merindukan pria itu. Sekuat apapun Eliza mencoba untuk menahan air matanya, tetap saja air mata itu tumpah begitu saja. Tangisannya pecah seketika.
"Kenapa kamu kembali? Padahal aku sudah menganggapmu mati. Kenapa kamu pulang saat aku sedang tidak ingin melihatmu!" amuk Eliza pada Agash.
"Iya, aku minta maaf telah meninggalkanmu selama ini. Tapi saat aku kembali, aku tak akan meninggalkanmu. Eza, aku kembali untuk kamu, untuk janjiku dan untuk anak kita. Terima kasih sudah bertahan selama ini tanpa aku di sisimu."
Eliza tak sanggup untuk menahan rasa yang berkecamuk dalam hati. Tanpa kata lagi Eliza langsung menarik tangan Agash agar memeluknya. Mendapatkan sinyal positif, Agash pun langsung memeluk tubuh Eliza.
__ADS_1
"Kami jahat!" Kenapa kamu menghamili wanita lain, Gash? Kenapa?" Eliza terisak dalam dekapan Agash.
Tangan Agash berusaha untuk membelai rambut Eliza. "Aku tidak menghamilinya. Saat aku tersadar dari tidur panjangku wanita itu sudah hamil. Aku sama sekali tidak menghamilinya, Za."
"Meskipun kamu tidak menghamilinya, tetap saja kamu menyumbangkan bibit untuknya, kan? Kamu jahat Gash! Jahat! Kamu sudah menyumbangkan bibitmu untuk wanita yang bukan istrimu!" Tangis Eliza pecah lagi, terlebih saat Eliza membayangkan setiap malam Agash akan meniduri wanita itu.
"Aku tidak seperti itu, Za. Bibit ini hanya aku sumbangankan kedalam rahim kamu. Sungguh tak setetes benih ini aku berikan pada wanita itu, karena setiap aku ingin menyumbangkan dia selalu menolak dengan alasan kesehatanku dan kehamilannya," jelas Agash dengan kesungguhan.
Akhirnya mentari yang tertutup awan kini kembali bersinar. Agash hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Daddy si Alan untuk meluluhkan hati Eliza. Berawal dari pelukan hingga yang terasa nyaman hingga ciuman panas bibir yang terasa panas. Semakin lama tangan Agash bergerilya dengan nakal hingga akhirnya Agash bisa merasakan lagi bagaimana rasanya surga dunia itu. Bersama dengan Eliza dia meluapkan kerinduan yang selama ini sangat diinginkan. Meskipun hilang ingatan, tetapi Agash adalah pria normal yang menginginkan untuk melaksanakan surga dunia.
Namun, meksipun berada dalam satu ranjang dengan Heni, Agash tidak pernah mendapatkan jatah servis.
Baru saja bertemu sudah langsung pada intinya. Begitulah yang Alan katakan pada istrinya. Alan merasa menyesal saat ingin memastikan keadaan Eliza di dalam kamar. Namun naas, matanya harus ternoda dengan tukang martabak yang sedang membuat adonan. Dia pun langsung menutup pintunya kembali.
"Makanya jangan asal masuk!" komentar Azra saat Alan merutuki kecerobohannya.
"Tapi ini masih siang, Zra! Bisa-bisanya baru bertemu langsung nyangkul. Agash bener-bener, ya! Entah mantra apa yang dipakai anak itu. Mereka sudah membuatku gerah saja! Kalau begitu ayo kita juga nyangkul di kamar! Kebetulan aku juga sedang ingin mendapatkan servisan dari kamu agar hilang semua lelah ini!" ujar Alan yang saat ini telah menarik tangan Azra menuju kamarnya.
"Lan, ini masih siang!" protes Azra.
"Apa pengaruhnya? Toh kita nyangkul di kamar, enggak di sawah!"
"Alan ... " pekik Azra saat Alan sudah mengangkat tubuh Azra layaknya sebuah karung beras.
~BERSAMBUNG~
__ADS_1