
Agash merasa jika dia telah melakukan sebuah kesalahan hingga membuat sang istri mendiamkan diri hingga waktu yang lama. Padahal dirinya baru saja kembali, tetapi sang istri malah mengabaikan dirinya begitu saja.
Sudah hampir tiga jam, Eliza mengabaikan Agash, karena sang suami bersikap terlalu berlebihan karena tak menemukan keberadaan Heni dana anaknya di rumah sakit.
"Sayang, aku minta maaf atas apa yan telah aku lakukan tadi. Sungguh aku tidak mempunyai niat lain selain ingin bertemu dan mengucapkan kata terima kasih padanya. Jangan marah ya!" bujuk Agash yang sudah lelah karena terus diabaikan oleh istrinya.
Eliza yang saat ini duduk di sofa sambil menikmati sebuah drama, masih acuh tanpa ingin menanggapi permintamaafan sang suami.
"Za," panggil Agash lagi. "Udahlah, mending aku pergi aja. Baru juga pulang, udah dicuekin!"
Agash pun memutuskan untuk meninggalkan Eliza yang masih acuh. Sebenarnya dia tidak serius dengan ucapnya. Agash hanya ingin melihat bagaimana reaksi Eliza saja saat dia pergi lagi.
Dengan bibir yang mengerucut, Eliza pun langsung mematikan layar televisi. "Ya udah sana pergi dan gak usah pulang lagi! Saat cari Heni, istri keduamu!" ketus Eliza yang kemudian memilih untuk menuju ke kamar.
Agash merasa salah langkah. Ternyata Eliza tak tertarik untuk mencegahnya. Karena tidak ingin membuat sang istri menumpuk rasa kesalnya, Agash langsung mengejar Eliza ke kamarnya.
"Za, tunggu!" Tangan Agash mencoba untuk menahan lengan Eliza.
"Apaan sih! Lepasin! Kamu itu David, bukan Agash, suamiku!" sentak Eliza dengan dada naik turun.
__ADS_1
Agash tidak tahu mengapa mood yamg dimiliki Eliza berubah drastis. Padahal beberapa hari yang lalu Eliza masih bersikap manja pada dirinya saatnya dia masih menjadi David.
Tiba-tiba tubuh Agash luruh ke lantai dan langsung bersimpuh di kaki Eliza.
"Za, aku minta maaf. Tolong jangan bersikap seperti ini. Please!" Agash memohon dengan iba.
Sebenarnya Eliza tidak tega untuk memperlakukan Agash seperti ini, tetapi dia hanya ingin suaminya merasa jera dan tidak melakukan kesalahan yang sama, dimana akan mementingkan wanita lain daripada sendiri.
"Oke, aku maafkan. Tapi jangan coba-coba mengulangi lagi kesalahan yang sama! Jika masih kamu ulang, mending kamu ikut si Heni itu! Aku bisa kok hidup tanpa kamu. Aku juga udah biasa hidup tanpa kamu. Lagian di dunia ini juga bukan kamu aja!"
Agash mengangguk dengan pelan. Dia mengiyakan apa yang diucapkan oleh istrinya.
*
*
Malam ini Shera berserta Agash dan Eliza sudah berada dalam perjalanan untuk menuju ke rumah orang tua Agash, karena Mereka ingin memberikan sebuah kejutan dapat di hari ulang tahun Daddy. Sungguh kejutan berganda, karena selain kedatangan Shera yang secara diam-diam, dan kembalinya Agash yang sempat dinyatakan telah meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat.
"Za, nanti kamu juga yang ? masuk duluan ya! Nanti pas kamu udah sampai di dalam jangan panik saat aku mematikan listriknya," ujar Shera.
__ADS_1
"Sher, ngapain kamu matiin lampu? Nanti kalau ada penampakan gimana?" Agash memprotes karena sesungguhnya dia takut akan kegelapan.
"Halah ... bilang aja kamu takut!" cibir Eliza.
"Bukan gitu, Za. Aku cuma —"
Belum sempat Agash menyelesaikan pembicaraannya, Shera langsung memotongnya ucapan Agash. "Cuma takut ngompol, kan?" tebak Shera sambil tertawa.
Begitu juga dengan Elisa yang ikut tertawa, karena menyadari jika suaminya takut pada kegelapan. Bahkan suaminya bisa terkencing di celana saat dia benar-benar merasa ketakutan.
"Aku jadi keinget pas nonton di Bioskop dulu ... " Eliza tertawa tanpa henti jika mengingat momen malam dimana Agash terkencing di celana saat menonton film horor di bioskop.
"Tertawalah! Liat aja pembalasanku nanti!" datar Agash dengan senyum kecil di bibirnya.
Seketika Eliza langsung berhenti tertawa, karena dia tahu yang dimaksud oleh suaminya. Sudah pasti pembalasan diatas ranjang
...~Bersambung~...
...~Semoga masih ada yang mengikuti cerita ini ya~...
__ADS_1