
Mata Agash menatap dengan tajam pada seseorang yang tiba-tiba telah menarik sebuah kursi di depannya. Bahkan dengan sebuah senyuman lebar dia menyapa Alan tanpa sedikitpun rasa malu.
"Morning Daddy. Sorry aku disuruh Mommy untuk gabung sarapan disini," ujarnya.
Alan hanya mengangguk pelan. Dia merasa kehadiran Kala yang ikut gabung di meja makan. Alan sudah yakin jika istri yang membujuk Kala untuk ikut sarapan bersama dengannya.
"Oh ... tidak apa-apa. Lagian makanan di rumah selalu lebih. Gak usah sungkan! Anggap saja seperti rumah sendiri!" kata Alan dengan tangan terbuka untuk menyambut kedatangan Kala.
"Terima kasih, Dadd." Meskipun sudah berusaha untuk biasa saja tetapi Kala tetaplah canggung saat harus berhadapan dengan Alan, terlebih saat ini udah sepasang mata yang sedang menatapnya dengan tatapan membunuh. Siapa lagi juga bukan Agash.
Agash yang tadinya sangat berkesera untuk menikmati sarapannya tiba-tiba sebenarnya hilang begitu saja saat melihat wajah Kala a di hadapannya. Nasi yang hendak masuk ke dalam mulutnya pun kembali diletakkan di pinggir.
Klonteng ....
Suara sendok jatuh di piring.
__ADS_1
Alan yang berada di ujung langsung menetap ke arah Agash. "Gash, kamu kenapa?" tanya Alan dengan heran.
"Dadd, rumah kita ini bukan rumah makan gratis! Lagian gak modal amat sih jadi orang!" protes Agash dengan kesal.
"Kalau kamu marah, ya marah aja sama Mommy Azra. Kan dia yang nyuruh Kala ikut sarapan dengan kita. Jangan marah sama Daddy! Daddy gak tau apa-apa!"
Dari depan, Azra dan Eliza terlihat sedang mendorong stroller dan berjalan untuk melewati meja makan.
"Kala, gak usah sungkan-sungkan! Makan yang kenyang!" ujar Azra saat melewati meja makan.
"Iya, Momm."
"Za, kamu gak sarapan dulu. Ibu yang menyu-sui itu harus makan dengan banyak agar ASI-nya melimpah. Berikan baby Sheno sama baby sitter-nya. Sekarang kamu sarapan dulu. Jarang-jarang lho kita bisa makan bersama!" titah Alan. "Kamu juga sarapan sini, Zra!" lanjutnya pada Azra.
Kedua wanita itu langsung memberikan Happy twins yang baru saja diajak jalan-jalan kepada para baby sitternya.
__ADS_1
Eliza sudah merasa jika ada dada yang sedang terbakar. Dengan helaan napas panjang, dia langsung duduk di samping Agash.
"Kamu udah siap sarapannya?" tanya Eliza dengan lembut.
"Kenapa tanya seperti itu? Kalau aku udah siap kamu mau nyuruh aku untuk langsung berangkat ke kantor, gitu?" kata Agash dengan datar.
Eliza langsung menautkan kedua alisnya. "Kok ngomongnya gitu, sih? Aku cuma nanya aja. Kalau belum siap di sini biar aku suapin."
Mata Agash langsung mendelik. Wajah yang tadi sempat mengerut, kini berubah berbinar. "Seriusan, mau nyuapin?" tanya Agash tak percaya.
"Kalau kamu mau sih. Kalau enggak mau ya gak papa, sih."
"Jelas mau dong! Kebetulan aku masih lapar. Gara-gara liat muka dia mendadak ilang selera makan!" Agash menunjuk kearah Kala.
"Kala, maafkan Agash ya. Dia emang kadang-kadang suka begitu. Anggap aja dia tuh bayi ke tiganya Eza!" celetuk Alan.
__ADS_1
"Daddy, jangan bikin cuaca panas!" tegur Eliza saat Alan sengaja menjadi kompor agar Agash merasa panas.
...***...