
Ternyata mempunyai dua baby sekaligus membuat Eliza merasa kewalahan. Terlebih saat kedua bayi rewel secara bersamaan. Terpaksa Azra dengan telaten membantu Eliza untuk mengatasi kerewelan dua bayinya.
Hampir satu bulan Eliza kurang tidur, karena saat malam tiba, maka kedua bayinya akan bangun silih berganti. Seolah bayi-bayi itu sedang mengajak orang tuanya untuk bermain. Beruntung saja Agash selalu siaga dan selalu membantu Eliza untuk mengurus bayinya.
Terkadang Eliza juga merasa kasihan pada suaminya yang terus bergadang untuk menemaninya. Namun, mau bagaimana lagi semua itu juga karena ulah Agash. Dia yang menyebabkan Eliza hamil.
Saat siang, Eliza seringkali memanfaatkan sedikit waktunya untuk beristirahat. Namun, semua itu hanyalah angan-angan saja karena setiap kali Eliza tidak beristirahat dua baby-nya langsung mengulah. Seolah tidak rela jika mereka beristirahat
"Za, sepertinya baby Shena juga haus," kata Azra saat menggendong baby Shena tetapi bayi itu masih tetap menangis.
"Tapi baby Sheno belum belum kenyang, Momm," ujar Eliza yang saat ini masih meyu-sui baby Sheno.
Eliza sendiri tidak bisa menyu-sui dua bayi dalam waktu sekaligus. Dan ini adalah kali pertama kedua bayinya menangis secara bersamaan.
__ADS_1
"Ya udah kamu urusin dulu baby Sheno, Mommy akan bawa keluar dulu aja Baby Shena. Kali aja mau berhenti menangis."
Azra pun langsung segera membawa keluarga di Shena. Berharap bayi yang saat ini sudah berusia satu bulan itu mau berhenti menangis.
Alan yang mendengar tangisan bayi langsung mendekat dengan rasa khawatir. Meskipun bayi-bayi itu tidak memiliki ikatan darah, tetapi alat memperlakukan bayi-bayi itu sama seperti memperlakukan Eliza saat masih bayi. Cinta Alan untuk bayi-bayi itu sangat tulus.
"Zra, baby Shena kenapa?"
"Kayak baby Shena lapar. Tapi Eliza masih menyu-sui baby Sheno. Eliza enggak bisa menyu-sui dua-duanya dalam satu waktu," jelas Azra.
Bayi yang semula meronta-ronta, kini diam saat digendong oleh Alan. Mata Azra langsung membulat dengan lebar.
"Lan, kamu pakai mantra apa sih?" tanya Azra yang merasa bingung, karena baby Shena langsung terdiam saat di gendong oleh Alan.
__ADS_1
"Kamu pikir aku dukun? Jangan sampai bocah ini seperti emaknya. Aku sudah capek ngurusin emaknya di waktu kecil dan sekarang bayinya mau ngikutin jejak emaknya. Dasar keturunan Bang Ke, pada aneh! Aku nggak ikut nyetak, tapi aku harus ngurusin bayi lagi!" gerutu Alan sambil menimang bayi mungil itu.
"Ya mungkin tangan kamu adem, Lan. Maafkan aku yang tidak bisa—" Belum selesai Azra menyelesaikan ucapannya, Alan sudah memotongnya.
"Tidak usah dibahas lagi, Zra! Aku tidak mau mengungkit luka lama! Bukankah kita sudah sepakat akan hal itu?"
Azra menghela napas beratnya dan mengangguk pelan. "Iya. Maafkan aku," sesalnya.
Tidak akan ada wanita yang benar-benar bisa terima akan takdir yang tak memihak. Namun, selama ini Azra telah mencoba untuk tetap kuat.
"Mungkin ini cara Tuhan untuk menghibur kita. Tuhan tau jika kita kesepian sehingga Tuhan mengirimkan malaikat untuk menemani kita, sekalipun mereka bukan darah daging kita." Alan mencoba untuk menghibur Azra. "Kamu tak perlu meminta maaf padaku, karena itu hanya akan membuat hatiku terasa sakit. Semua itu karena aku. Akulah orang yang harus kamu salahkan atas takdir ini. Maafkan aku, Azra," lanjut Alan dengan helaan napas panjangnya.
Azra tersenyum tipis. Sekalipun dia tidak bisa memiliki anak, setidaknya Alan tidak meninggalkan dirinya dan tetap manjadi pria yang setia, terlepas bagaimana masa lalunya.
__ADS_1
...***...