
Siapa yang merasa tidak iri jika anak yang lahir seratus persen dari benihnya memilih tinggal bersama dengan orang orang lain, ya meskipun itu masih memiliki darah Wijaya. Terlebih saat ini sedang merasakan bahagia luar biasa karena kehadiran bayi kecil nan mungil.
Keanu dan Mouza sangat iri dengan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh Alan. Pasalnya mereka berdua yang mencetak Eliza, tetapi mengapa Alan dan Azra yang memiliki Eliza. Bahkan saat ini cucu mereka pun telah lengket pada Alan.
"Dadd, apakah Alan mempunyai semacam mantra atau jampi-jampi, gitu?" tanya Mouza yang merasa penasaran mengapa cucunya bisa lengket dengannya.
"Mana aku tahu. Mungkin saja punya. Buktinya dulu kamu jatuh cinta pada," balas Keanu datar.
"Masa sih? Tapi kayaknya gak mungkin deh kalau Alan punya jampi-jampi. Dulu aku suka sama Alan, ya karena dia tampan."
Keanu yang hendak memasukkan nasi kedalam mulutnya, tiba-tiba tertahan di udara. Matanya sekilas melirik kearah istrinya yang sama sekali tidak merasa bersalah akan ucapannya memuji pria lain di depannya.
Karena sang istri tidak peka, akhirnya Keanu meletakkan sendoknya di piring.
"Dadd, kenapa? Makanannya enggak enak?" tanya Mouza dengan heran.
Helaan nafas panjang keluar begitu saja. Keanu pun langsung mengambil air minum untuk menyiram rasa panas yang telah membakar dadanya.
__ADS_1
"Apakah ada yang salah?" Kini Mouza menyadari jika suaminya sedang dalam mode sedang tidak baik-baik saja. "Dadd, kamu kenapa, sih?"
"Aku sudah kenyang! Aku langsung berangkat ke kantor. Nanti sampaikan pada Kenzo untuk datang ke kantor karena ada yang ingin aku bahas!" Keanu langsung meninggalkan meja makan.
Mouza hanya bisa menautkan alisnya. Entah salah apa yang telah dilakukan sehingga membuat suaminya berubah buruk.
"Aku yang datang bulan, tetapi mengapa Daddy yang sensitif ya? Emangnya tadi aku ngomong apa sih?" Mouza berusaha mengingat salah apa yang telah dia lakukan. Atau mungkin karena sudah hampir tiga hari suaminya berpuas sehingga terlalu sensitif?
"Dasar, makin tua makin aneh!" gerutu Mouza.
...**...
"Kala," lirih Eliza dengan pelan.
Senyum Kala mengembang luas. Entah pada siapa senyuman itu diberikan, tetapi siapa saja yang melihatnya pasti akan salah tingkah karena lesung pipi yang dimiliki oleh Kala mampu menyilaukan mata.
"Pagi, Momm?" sapa Kala pada Azra.
__ADS_1
"Pagi juga. Tumben pagi-pagi udah nyampe sini?" tanya Azra sedikit heran.
"Biasa Momm. Mau jemput Shera."
"Shera?" cicit Azra. "Tapi kayaknya Shera nggak ada di rumah ini," lanjut Azra lagi.
"Oh, itu ... Shera masih berada di jalan, Momm. Kita emang janjian untuk disini, Momm," jelas Kala.
"Oh ... gitu. Ya udah masuk dulu? Kamu udah sarapan atau belum. Kalau belum, gabung aja sama Daddy dan juga Agash. Mereka berdua juga lagi sarapan."
Kala tersenyum tipis. "Kalau enggak ngerepotin, sih," balas Agash dengan malu-malu.
"Tapi Momm ... " protes Eliza.
"Tapi apa? Toh mbak Lily juga masak banyak. Udah ayo masuk!" Azra menggiring Kala untuk masuk ke dalam rumah. Sementara itu Eliza hanya membuang napas kasarnya.
Aduh Mommy ... Agash itu posesif akut! Yang ada bukannya sarapan tetapi kalah adu mulut
__ADS_1
Langkah Eliza terlihat gontai sambil mendorong Stroller baby Sheno. Kepalanya sudah cenat cenut memikirkan apa yang akan terjadi di dalam. Eliza sudah bisa memastikan jika taring Agash akan keluar.
...***...