Jodohku Kembali Pulang

Jodohku Kembali Pulang
TIGA PULUH EMPAT


__ADS_3

Semenjak kepulangan Agash, Eliza kembali tinggal di apartemen bersama Agash, melanjutkan lagi kebersamaan yang sempat tertunda. Hari demi hari telah dilewati Eliza bersama dengan Agash dengan penuh rasa cinta. Dan karena saat ini kondisi Agash sudah membaik dia kembali memimpin perusahaan milik Daddy-nya.


"Aku pergi ke kantor dulu. Nanti kalau ngerasain mules, langsung telepon aku atau telepon petugas apartemen. Mereka sudah aku beri amanat untuk menjaga kamu," ujar Agash sebelum meninggalkan Eliza.


"Bisa gak sih gak usah ke kantor, Gash?" rengek Eliza yang merasa tidak rela jika suaminya pergi ke kantor lagi. Kejadian beberapa bulan yang lalu masih membekas dalam ingatannya di mana saat Agash berpamitan pada Eliza untuk pergi ke luar kota, tetapi pada kenyataannya Agash malah pergi meninggalkan dirinya. Beruntung saja Agash Tuhan masih menyelamatkan nyawa Agash, meskipun saat itu dia harus kehilangan ingatannya.


"Kenapa? Kan aku kerja juga buat masa depan baby kita, Za. Kalau aku gak kerja gimana aku bisa mencukupi kebutuhan baby kita nanti," balas Agash yang saat ini sedang membenarkan dasinya.


"Nanti kamu pergi gak pulang lagi. Lalu bagaimana dengan aku dan mereka" Eliza mengelus pelan perutnya yang sudah sangat besar karena memang sudah mendekati hari persalinannya.


Seketika Agash langsung menghentikan menatap kearah Eliza yang berdiri di belakangnya. "Kok ngomongnya gitu sih? Aku cuma ke kantor, Sayang. Dan aku pasti pulang. Sayang, tolong jangan berpikir yang macam-macam ya! Kita akan menua bersama dengan anak cucu kita, bahkan cicit sekaligus. Jadi kamu jangan khawatir jika aku tidak akan pulang lagi," jelas Agash untuk memenangkan hati istrinya.


Memang semenjak mendekati masa persalinan, Eliza terlihat lebih manja dan selalu lengket pada Agash. Sampai-sampai Eliza selalu ngintilin kemampuan Agash melangkah.


"Aku tahu. Tapi aku ikut ya?" Dua bola mata Eliza mengedip dengan manja.


Agash berpikir untuk sejenak dan hingga pada akhirnya diapun mengiyakan permintaan Eliza agar pikirannya tidak kemana-mana. "Ya udah, ayo kalau mau ikut Tapi jangan ngajak pulang kalau belum waktunya ya! Sekalipun aku adalah pimpinan di perusahaan, tetapi aku harus bekerja secara profesional dan harus memberikan contoh yang baik untuk semua karyawan," terangnya.


"Oke. Aku siap-siap dulu." Bibir yang awalnya sudah mengerucut ini mengembang dengan luas. Satu kecuupan mendarat tepat di pipi Agash.


Agash hanya menggelengkan kepalanya saat melihat istrinya berlari kecil menuju ke lemari. Namun, baru saja tangannya ingin mengambil sebuah pakaian yang menggantung di lemari tiba-tiba Eliza mengaduh kesakitan. "Aduh .... "


Agash langsung menoleh kebelakang. Dilihatnya Eliza tengah mengelus perut besarnya. "Sayang, kamu kenapa?" tanyanya dengan panik.


"Aku gak tahu, Gash. Perutku sakit ... "

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Agash segera membawa tubuh Eliza keluar dari apartemen. Tujuannya utamanya ada ke rumah sakit.


"Agash, sakit .... " Eliza merintih kesakitan saat berada dalam gendongan Agash.


"Iya. Kamu tahan ya! Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," ucap Agash, meskipun saat ingin dirinya masih berada di dalam lift.


Sebisa mungkin Eliza menahan rasa sakit yang tadi perut melilit perutnya yang hilang-hilang timbul. "Agash, bisa cepat sedikit atau tidak? Aku udah gak kuat nahan sakitnya."


"Iya, sebentar lagi kita juga akan sampai. Sakit banget ya? Apakah baby kita sudah mencari jalan untuk keluar?"


"Iya sakit banget, Gash! Aduh ... " Eliza terus mengadu saat rasa sakit itu timbul.


"Ya terus aku harus bagaimana?" Agash merasa sangat panik karena Eliza terus mengeluh kesakitan.


"Sayang, jangan siksa Mommy, dong! Kasihan Mommy-nya. Tunggu sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," ucap Agash sambil mengelus perut Eliza dengan pelan.


"Nah ... gini kan enak," ujar Eliza dengan lega. "Kayaknya mereka nurut sama ucapan kamu deh, Gash," lanjut Eliza lagi.


"Jelaslah! Kan aku yang nyetak mereka!"


**


Kini semua keluarga besar telah dihubungi oleh Agash, karena pagi ini Eliza telah akan melahirkan baby-nya. Cucu pertama yang akan menghebohkan dunia, dimana para kakek dan nenek sudah tidak sabar untuk menunggu cucu mereka lahir ke dunia. Namun, sayangnya di dalam ruang persalinan tidak boleh ada yang menemani Eliza selain suaminya. Tentu saja para kakek dan nenek merasa kecewa.


"Semoga cepat keluar. Aku sudah tidak sabar untuk menggendong cucuku," ujar Arga selaku Daddy-nya Agash.

__ADS_1


"Oh ... tidak bisa. Aku adalah orang pertama yang akan menggendong cucuku. Dia cucu pertamaku," timpal Keanu.


"Tidak bisa begitu! Dia juga cucu pertamaku dari anak pertama. Jadi aku adalah orang pertama yang harus menggendong dia!" tegas Arga yang tidak ingin kalah dari besannya.


"Sekalipun g adalah susu dari anak pertamamu tetapi anakku yang mengandungnya. Dan lihatlah saat ini putriku sedang berjuang untuk mengeluarkan cucuku. Jadi yang berhak untuk menggendong dia adalah aku!" Keanu tidak ingin kalah juga.


"Tapi jika bukan karena Agash, maka anak kamu tidak bisa hamil. Yang berperan penting untuk mencetak anak itu adalah ular berbisa milik Agash. Jika tidak terkena ular berbisa mana mungkin putrimu bisa hamil. Jadi yang berperan penting dalam percetakan anak adalah Agash!"


Semua orang yang mendengar perdebatan dua orang laki-laki itu merasa sedikit geram karena tidak ada yang mau mengalah.


"Stop!" bentak Alan sambil membuang nafas besarnya. "Kalian ini udah tua, tapi pikiran masih seperti anak TK yang merebutkan mainannya. Diantara kalian berdua tidak akan ada yang pertama menggendong anak Eza, karena yang akan menggendongnya adalah aku. Aku yang berperan penting dalam hidup Eza. Jika tidak ada aku mungkin Eza tidak akan bisa mempertahankan kehamilannya saat itu karena sangat terpukul dengan dukanya. Hanya aku yang bisa menenangkan hatinya. Apakah ada yang keberatan?"


Dua pria yang sempat berdebat memilihmu kamu karena mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi karena apa yang dikatakan oleh Alan benar adanya. Jika bukan karena Alan, mungkin Eza tidak akan bisa mempertahankan bayi yang sedang tumbuh berkembang di rahimnya saat itu.


"Seharusnya kalian berdua tidak usah memperebutkan siapa yang pertama akan menggendong cucu kalian karena cucu yang akan keluar itu ada dua. Jadi kalian berdua bisa menggendong secara bersamaan. Bukan begitu Mommy-Mommy?" ucap Alan lagi seraya meminta pendapat dari para mommy.


"Nah ... itu baru ide cemerlang," sahut Mouza, Mommy-nya Eliza.


"Iya, aku setuju dengan ide kamu, Lan!" timpal Shereena, selaku Mommy-nya Agash.


"Nah ... kan enak seperti ini. Zra, sekalipun Eza bukan anak kita, tapi kita kebagian gendong anak Eza yang pertama." Senyum Alan mengembangkan dengan luas karena dia menang besar.


"Kalian berdua yang sabar ya!" lanjut Alan pada dua orang yang sempat melakukan perdebatan tadi.


*

__ADS_1


*


...BERSAMBUNG...


__ADS_2