Jodohku Kembali Pulang

Jodohku Kembali Pulang
DELAPAN


__ADS_3

Dua orang harus menghentikan langkahnya ketika Eliza menghadang jalan mereka. Mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh wanita hamil yang berada di hadapan mereka saat ini.


Mata Eliza menatap lekat kepada pria yang begitu mirip dengan Agash. Bahkan tak ada sedikitpun celah yang membedakan pria itu dengan Agash. Eliza yakin jika itu adalah Agash—suaminya.


"Agash." Satu kata yang keluar dari bibir Eliza dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu baik-baik aja kan?" Tangan Eliza berusaha untuk menyentuh wajah Agash. Namun, dengan cepat wanita yang berada di samping pria itu langsung menipis tangan Eliza.


"Maaf, apa yang ingin kamu lakukan kepada suamiku?" tanya Heni, wanita yang berada di samping pria yang sangat mirip dengan Agash.


Mata Eliza langsung mengalih pada wanita yang baru saja menepis tangannya. Wanita yang baru saja mengaku sebagai istri dari pria itu.


"Suami?" cicit Eliza.


"Maaf Anda siapa, ya?" Pria yang mirip dengan Agash pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Eliza yang seolah mengenal dirinya.


"Kamu enggak ingat aku, Gash? Aku—" Belum sempat Eliza meneruskan ucapannya Heni yang berada di samping pria itu langsung memotong pembicaraan Eliza.


"Maaf, kami tidak mengenal kamu. Tolong menyingkirlah dari hadapan kami. Kami mau lewat," ujarnya.


"Ayo, sayang." lanjut Heni sambil menggandeng tangan suaminya untuk meninggalkan Eliza.


"Tunggu, Hen. Sepertinya aku tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh wanita ini. Mungkinkah dia mengenalku?"

__ADS_1


"Sayang, apakah kamu masih ragu dengan jati diri kamu sendiri? Kamu itu David, suami aku. Masa iya kamu gak percaya sama aku. Lihatlah ini buah cinta kita, Sayang. Mungkin saja dia baru saja kehilangan suaminya sehingga dia depresi," ujar Heni untuk meyakinkan suaminya.


"Enggak. Aku yakin kamu bukan David. Kamu itu Agash, suami aku!" Eliza tak kalah terpancing untuk menaikkan suaranya.


"Kamu jangan gila ya! Jangan ngaku-ngaku deh! Ini suami aku, bukan suami kamu!" tegas Heni dengan kuat.


Perdebatan kedua wanita itu tak luput dari pandangan beberapa orang yang melintas. Bahkan sebagian yang melihatnya mereka akan menganggap jika salah satu diantara wanita itu adalah pelakor.


Grace yang berada di belakang Eliza langsung mendekat dan mencoba untuk menenangkan perasaan Eliza saat ini. Siapapun orang yang melihat pria yang disebut David itu pasti mereka juga akan menganggap jika itu adalah Agash.


"Za, sabar Za!'


"Gak bisa Grace! Dia Agash suamiku."


"Maafkan teman saya, Mbak, Mas. Dia baru saja kehilangan suaminya," kata Grace dengan lembut.


Karena tidak ingin menjadi tontonan beberapa orang Heni langsung mengajak David untuk meninggalkan tempat itu. Pria yang bernama David masih menatap Eliza dengan lekat Bahkan dadanya terasa sesak saat melihat Eliza meneteskan air matanya. Entah perasaan apa yang berkecamuk di dalam hatinya.


"Sayang, ayo kita pergi!" Heni merengek sambil menyeret tangan David untuk pergi.


Hati Eliza yang tercabik lagi setelah melihat pria yang diyakini adalah Agash. Lalu mengapa bisa dia bersama dengan seorang wanita yang juga sedang hamil. Bahkan dengan perut yang sudah membesar hampir sama dengan dirinya. Seketika pikiran Eliza mengingat kembali akan kecelakaan sebuah pesawat tujuh bulan yang lalu. Dimana Agash juga berada di dalam penerbangan itu. Saat kecelakaan terjadi tak ada satupun orang yang selamat. Semuanya dinyatakan tewas dalam kecelakaan tersebut. Namun, sampai detik ini juga jasad Agash tak kunjung ditemukan. Tiba-tiba saja apa yang ditakutkan oleh Eliza mengguncang pikirannya. Jangan-jangan Agash memang tidak berada di dalam pesawat itu.

__ADS_1


"Tidak. Tidak mungkin!" Eliza segera menipis perasaannya.


"Tidak mungkin jika Agash sengaja menghilang demi untuk hidup bersama dengan wanita lain. Aku kenal siapa Agash Grace katakan jika itu benar-benar Agash kan?" Eliza menumpahkan isak tangisnya di dalam pelukan Grace.


"Za, kamu tenangkan diri dulu ya. Kita sekarang pulang karena aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu dan juga dengan baik yang ada di perutnya. Bukankah kamu masih mengingat pesan dari dokter Wati jika kamu tidak boleh mengalami stress yang berlebihan. Kita pulang ya." Sebisa mungkin Grace memapah Eliza untuk meninggalkan Mall tersebut.


Luka yang sudah terbalut, kini terasa berdenyut kembali. Orang yang sudah diikhlaskan tiba-tiba muncul kembali bersama dengan seorang wanita yang mengaku jika pria itu adalah suaminya. Meskipun Eliza belum mengetahui siapa sebenarnya pria yang bernama David itu tetapi dan Eliza yakin jika pria itu tak lain Agash.


Disisi lain Heni langsung mengajak David untuk pulang. Niatnya untuk membeli perlengkapan calon buah hatinya sirna sudah, karena bertemunya dengan wanita gila yang menganggap David adalah suaminya.


"Hen kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba ngajak pulang? Katakan mau memberi perlengkapan untuk anak kita?" tanya David yang merasa heran karena sang istri meminta untuk pulang .


"Aku tuh lagi kesel sama kamu tahu. Bisa-bisanya kamu mau percaya dengan ucapan wanita gila itu."


David membuang nafasnya dengan kasar. "Bukan seperti itu, Hen. Aku hanya merasa tak asing dengan nama yang disebutkan oleh wanita tadi. Hen, jawab dengan jujur apa aku bener-bener suami kamu atau bukan?" tanya David dengan rasa penasaran.


"Kamu ngomong apa sih, Sayang. Kamu tuh beneran suami aku. Kan di rumah kita udah ada foto pernikahan kita yang terpampang besar. Bagaimana kamu meragukan itu semua? Ini nih yang buat aku kesel sama kamu. Kamu selalu enggak yakin dengan jati diri kamu sendiri! Terus kamu mau percaya sama wanita tadi yang mengatakan jika kamu adalah suaminya. Sayang, kita udah menikah dan sebentar lagi anak kita akan lahir. Kamu masih ragu juga?"


Heni mendengkus dengan kasar. Hatinya benar-benar sangat kacau. Mengapa bisa Heni bertemu dengan wanita asing yang mengaku sebagai istri David. Apakah wanita itu benar-benar istrinya David.


Tidak! David itu suami aku dan aku adalah istrinya. Aku tidak boleh mempercayai ucapan orang lain, termasuk wanita itu. batin Heni dengan rasa gugup di dalam hatinya. Bagaimana jika wanita itu bener-bener adalah istri David. Sebisa mungkin Heni menepis pikiran buruk yang menyerang dalam pikirannya.

__ADS_1


Dia suamiku, bukan suaminya


...~BERSAMBUNG~...


__ADS_2