
Tak ada kata yang keluar dari mulut Eliza. Wanita itu memilih diam meskipun pria yang ada di depannya terus mengajaknya untuk berbicara. Rasa Kesal di hati Eliza masih membumbung tinggi. Bahkan belum bisa reda meskipun David sudah mengajaknya untuk makan di sebuah restoran.
Sejak tadi Eliza hanya sekedar mengaduk-aduk minuman di dalam gelas tanpa ingin meminumnya sama sekali. David yang terus memperhatikan perubahan mood Eliza merasa heran. Masa hanya karena dirinya ingin membelikan baju bayi untuk anaknya Eliza langsung marah.
"Mbak, sebenarnya apa salahku? Apakah salah jika aku ingin membelikan baju untuk calon anakku? Tapi aku kan gak minta untuk dibayarin sama mbak Eza."
Mata Eliza langsung menatap wajah David dan berkata, "Seharusnya kamu itu bisa profesional. Saat kamu sedang bekerja, ya fokus sama kerjaan kamu. Aku tuh gak suka kalau kamu campur adukkan antara pekerjaan kamu dengan keluarga kamu," ketus Eliza dengan datar.
"Untuk masalah itu aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tapi tolong jangan ngambek, ya. Jangan persulit pekerjaanku, karena aku diberikan tugas untuk menghiburmu. Jika kamu ngambek seperti ini, bisa-bisa aku dipecat oleh Pak Alan, sedangkan aku masih sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk biaya persalinan istriku nanti. Ya, meskipun dia seorang dokter, tapi akulah suaminya. Aku yang bertanggung jawab atas dia."
Bukannya semakin membaik, mood Eliza malah semakin bertambah saat mendengar ucapan David yang seolah menjadi seorang suami yang bertanggung jawab.
__ADS_1
Dadd, bisa enggak sih aku katakan sekarang jika pria ini adalah Agash? Apakah aku harus getok kepalanya dulu biar ingatannya kembali?
"Aku tidak akan mempersulit pekerjaanmu jika kamu bisa menjaga moodku untuk tetap baik," ujar Eliza.
"Baiklah, aku minta maaf jika telah membuat mood kamu tidak baik. Aku tidak akan membicarakan calon anak dan istriku lagi saat aku sedang bekerja," tutur David.
Tak berapa lama David dan Eliza merasa terkejut dengan kedatangan beberapa orang ke mejanya. Mereka adalah para wanita yang dulunya adalah fans Agash. Awalnya beberapa wanita itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun saat diperhatikan lebih jelas ternyata pria itu adalah Agash, idola mereka.
"Astaga ... ternyata benar dia adalah Agash."
"Astaga ... ternyata kabar itu tidak benar. Kamu masih hidup."
__ADS_1
Melihat beberapa orang mengelilingi mejanya membuat kepala David terasa berdenyut dan terasa sangat sakit. Sadar jika keadaan tidak sedang baik-baik saja, Eliza langsung mengusir orang-orang yang sedang mengelilingi David. Eliza tidak ingin orang-orang itu merusak semua rencananya. Agash harus mengembalikan ingatannya dengan cara alami.
"Maaf, kalian salah orang. Dia David, bukan Arshen! Tolong kalian semua pergi jangan membuat keributan di sini!" bentak Eliza dengan kuat hingga membuat beberapa pengunjung lainnya tertuju ke meja Eliza.
"Tidak. Kami tidak salah lihat. Dia Agash, seorang artis yang dikabarkan meninggal dalam sebuah pesawat 7 bulan yang lalu. Kami ini fansnya, jadi kami bisa melihat jika dia adalah Agasha Dinata." Salah seorang bersikeras untuk menganggap jika pria itu adalah Agash.
"Tapi dia buka Agash! Tolong kalian semua bubar, atau aku akan memanggilkan security untuk mengusir kalian semua!" ancam Eliza dengan dada naik turunnya.
Detik kemudian seorang security yang mendengar keributan di dalam langsung menghampiri meja Eliza dan langsung menggiring beberapa orang yang telah mengelilingi meja itu.
Setelah suasana kembali seperti semula, Eliza langsung mendekati David. "Vid, kamu gak papa? Kita pulang aja, ya!"
__ADS_1
David yang memegangi kepalanya langsung mendongak dan melihat Eliza. Terdiam untuk beberapa detik, dan pada akhirnya David pun mengikuti saran Eliza untuk pulang.
~BERSAMBUNG~