Jodohku Kembali Pulang

Jodohku Kembali Pulang
DUA PULUH


__ADS_3

Meskipun sudah lama tidak menyetir mobil sendiri, tetapi Eliza tidak lupa cara menyetirnya. Karena melihat David sejak tadi terus-menerus memegangi kepalanya, Eliza merasa tidak tega jika harus membiarkan David menyetir mobil. Bisa-bisa Eliza malah akan dibawa untuk menemui malaikat Izrail.


David yang sejak tadi menyandarkan kepalanya di jok mobil, sesekali melirik Eliza yang sedang menyetir. Bahkan matanya fokus pada perut Eliza yang terlihat membuncit dengan besar. Senyum dibibir terukir, tetapi David langsung menariknya kembali saat Kenza menoleh padanya.


"Kamu ngapain lihatin aku kayak gitu? Kayaknya gaji kamu harus dipotong karena aku yang membawa mobilnya. Apakah kamu tahu jika aku sangat dilarang keras oleh Daddy untuk membawa mobil sendiri? Dan demi rasa kemanusiaan, aku mengabaikan larangan Daddy," ujar Eliza.


"Sesekali tidak apa-apa. Peraturan itu dibuat kan untuk dilanggar. Iya tidak?"


Refleks Eliza langsung menginjak rem secara mendadak, membuat David sangat terkejut luar biasa. "Kamu bisa bawa mobil gak sih? Kalau gak bisa biar aku aja yang bawa. Kalau sampai terjadi apa-apa gimana. Kamu itu lagi hamil!" David mendumel, tetapi sebenarnya dia sedang khawatir kepada Eliza.


"Darimana kamu dapat kata-kata seperti itu?" tanya Eliza dengan wajah serius. Karena itu adalah kata-kata yang sering diucapkan oleh Agash.


David nyengir dan menggaruk kepalanya. "Aku hanya asal bicara saja. Apakah ada yang salah?"


Eliza langsung membuang nafas kasarnya seraya membuang muka. Dada kembali terasa sesak ketika David mengucapkan kata-kata yang sering diucapkan oleh Agash. Bahkan matanya langsung memerah. Sungguh Eliza ingin berteriak detik ini juga jika sebenarnya pria itu adalah Agash.


Eliza memukul setir kemudi dan meletakkan kepalanya disana. Bahunya naik turun. Entah sampai kapan dia sanggup untuk melewati semua ini.


Melihat Eliza sesenggukan, David mencoba untuk memegang bahunya. "Mbak, kamu kenapa? Jika ada yang salah dengan kata-kataku, aku minta maaf," ujar David. Namun, Eliza tidak menjawab. Dia malah semakin terisak.


David semakin panik. Dia pun langsung melepaskan sabuk pengamannya dan mengelus kepala Eliza. "Aku tau saat ini kamu masih terpuruk akan kepergian suami kamu. Tapi percayalah, akan ada saatnya Tuhan akan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untukmu." David mencoba untuk menenangkan hati Eliza.

__ADS_1


Eliza langsung mendongak dan menatap wajah David.


Aku tahu itu. Tapi dengan melihatmu setiap hari aku enggak sanggup, Gash! Rasanya aku ingin menyerah, terlebih saat kamu harus bersama dengan wanita lain. Sementara aku dan anak kita sangat membutuhkan kamu. Kapan kamu mengingatku, Gash!


"Jangan menangis. Semua akan baik-baik aja." David mengusap pelan jejak air mata yang telah membasahi pipi Eliza.


"Saat aku sedang bekerja, kamu boleh menganggap aku sebagai suami kamu. Kamu boleh menggunakan bahuku untuk bersandar. Kamu boleh menumpahkan segala keluh kesahmu padaku. Kamu boleh melakukan apa saja yang kamu inginkan agar kamu merasa lega," lanjut David lagi.


Bola mata Eliza menatap David dengan dalam. "Apakah jika aku minta pelukan darimu, kamu akan memberikannya?" tanya Eliza dengan ragu.


Bibir David menyunging lebar. "Kenapa tidak? Saat ini aku sedang bekerja dan pekerjaanku adalah menghiburmu. Jika kamu akan merasa terhibur dan nyaman, maka Aku tidak akan merasa keberatan."


"Benarkah?" Eliza meyakinkan.


Cukup lama Eliza hanyut dalam pelukan David. Berada dalam pelukan pria itu Eliza menumpahkan air matanya. Rasanya Eliza tidak ingin melepaskan pelukan itu. Pelukan yang selama ini sangat dirindukannya.


David merasa iba. Dia tidak tega untuk melepaskan pelukan itu. David bisa merasakan semua kesedihan yang sedang dialami oleh Eliza. Helaan nafas panjang pun keluar dari mulutnya.


"Peluklah tubuh, jika itu bisa membuatmu tenang," ujar David lagi.


*

__ADS_1


*


Hampir satu hari menghabiskan waktunya bersama dengan Eliza, kini saatnya David untuk berpamit untuk pulang. Namun, kali ini rasanya sangat berat untuk meninggalkan Eliza. Wanita yang hampir satu hari ini mengobrak-abrik perasaannya.


"Kenapa?" tanya Eliza saat melihat David ragu-ragu saat ingin membuka pintu.


"Tidak ada. Aku hanya khawatir dengan keadaanmu saja. Kamu ini seorang wanita dan terlebih saat ini kamu sedang hamil. Apakah kamu tidak takut jika tinggal sendirian disini?"


Eliza tertawa pelan. "Aku sudah biasa. Semenjak suamiku meninggal, aku sudah terbiasa hidup sendiri. Jadi kamu tidak usah mengkhawatirkanku aku baik-baik aja kok."


"Baiklah, jika kamu baik-baik saja aku akan pulang." David pun langsung membuka pintu dann tenggelam begitu saja. Eliza langsung membuang nafas kasarnya. Entah mengapa dia merasa jika sikap David sedikit berubah. Mungkin karena insiden di mall tadi. Tapi baguslah jika David memperlakukan dirinya dengan hangat, setidaknya bisa mengobati rasa rindunya pada Agash.


Langkah David pun terlihat gontai. Sepanjang kaki melangkah dia terus melamun, hingga tak sengaja dia menabrak seorang wanita.


"Maaf," ujar David.


Sebuah paper bag terjauh tepat dibawah kakinya.


"Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena tidak memperhatikan jalan," ujar wanita itu.


Sepeninggal wanita itu, tubuh David membeku untuk sesaat. Rasanya dia pernah mengalami kejadian seperti ini. Rasanya seperti dejavu, Tetapi David tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

__ADS_1


"Arrghh ... sial! Kenapa aku gak bisa mengingatnya!" David memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit saat dia berusaha keras untuk mengingatnya.


~BERSAMBUNG~


__ADS_2