
Saat ini Alan dan Kenzo sedang berada di sebuah Cafe bersama dengan David. Alan dan Kenzo sudah menerima pesan dari Eliza dan pada akhirnya mereka berdua mengajak David untuk ngopi bersama. Bukan untuk mengintrogasinya, tetapi hanya untuk mendekatkan diri seraya mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi kepada pria yang dianggap adalah Agash itu.
"Maaf, Pak. Apakah saya telah melakukan sebuah kesalahan? Jika iya, saya meminta maaf. Tapi tolong jangan pecat saya karena saya sedang membutuhkan pekerjaan ini untuk biaya persalinan istri saya," kata David saat dirinya tengah ditatap oleh dua orang keluarga Wijaya.
"Kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Kita berdua hanya ingin mengajakmu untuk ngopi bersama. Apakah wajah kami berdua terlihat sangat menakutkan?" tanya Alan.
David menggelengkan kepalanya. "Tidak, Pak. Hanya saja saya merasa heran karena baru satu hari bekerja sudah diajak ngopi bersama dengan atasan. Sebenarnya itu adalah sebuah kehormatan untuk saya tetapi saya juga khawatir jika sayang telah melakukan sebuah kesalahan," ujarnya.
Tak berapa lama, Seno yang tak lain adalah orang kepercayaan Agash telah datang dan duduk tepat di depan David. Saat pertama kali melihat wajah David dirinya langsung terkejut. Sungguh saat ini dia sedang melihat sosok Agash. Namun, sebelumnya Seno telah diberitahu oleh Kenzo agar tidak melakukan sebuah kesalahan.
"Maaf semua, aku terlambat," ujar Seno.
David mengangguk pelan seraya tersenyum tipis kepada Seno. Entah mengapa saat melihat Seno duduk di depannya dada David terasa bergerumuh dengan kuat.
"Dia siapa?" Seno berpura-pura untuk bertanya kepada Kenzo tentang siapa David.
"Oh iya aku lupa, Sen. Perkenalkan dia adalah David, kepala manajer baru di perusahaan Daddy," ujar Kenzo. "Oh iya Vid, perkenalkan dia adalah Senopati, panggilannya Seno. Sahabat aku," lanjut Kenzo lagi.
David hanya tersenyum kecil karena merasa tidak asing saat mendengar nama Seno. Entah mengapa nama itu pernah seperti tak asing untuknya. Namun David tidak bisa mengingatnya sama sekali.
"Iya, saya David." David pun mengulurkan tangannya untuk menyelami tangan Seno.
__ADS_1
"Seno," ujar Seno yang kini telah menyalami tangan David.
Astaga ... apakah ini benar-benar Agash atau bukan sih? Kenapa wajahnya begitu mirip dengan Agash, bahkan tanpa celah sedikitpun. Benar kata Kenzo, jika dia adalah Agash. Gash, ini aku Seno. Mengapa kamu tak bisa mengenaliku?
Seno hanya bisa berkomentar di dalam hatinya, karena saat ini dia sedang mengikuti permainan yang sedang dijalankan oleh Daddy Alan dan juga Kenzo.
"Vid, kamu pasti merasa sangat penasaran mengapa aku mengajakmu untuk ngopi bersama kan? Baiklah, sebelumnya sudah aku katakan jika aku sedang membutuhkan bantuanmu. Tapi aku tidak tahu Apakah kamu setuju atau tidak," kata Alan yang kini sudah beranjak kepada inti pertemuannya dengan David.
"Apa itu, Pak. Jika saya bisa membantu, dengan senang hati saya akan membantu Bapak, tapi jika tidak bisa saya minta maaf," ujar David.
"Sebenarnya aku memiliki seorang putri, tapi bukan putri kandungku, dia anak dari kakakku tetapi tinggal bersama denganku. Namanya Eliza. Saat ini dia sedang hamil, tetapi sayang, suaminya meninggal dalam sebuah perpustakaan. Apakah kok gua tahu apa yang terjadi kepada Eliza selanjutnya? Dia mengalami sedikit ganggu mental sehingga saat melihat seseorang langsung akan diakui sebagai suaminya. Dan keadaan seperti itu sangat tidak baik untuk perkembangan bayi yang ada di dalam kandungannya. Dengan kerendahan hatiku bisakah kamu datang dan menghibur dia hingga dia melahirkan? Jika kamu bersedia, aku akan memberikan imbalan yang sepantasnya untukmu," ungkap Alan panjang lebar.
Eza, maafkan Daddy yang harus berbohong. Semua ini demi kamu, Za. Jika David memanglah Agash, Daddy akan berusaha untuk mengembalikan Agash kepadamu, tapi butuh waktu dan butuh perjuangan. Daddy harap David memanglah Arshen. batin Alan.
"Maaf Pak, saya tidak bisa. Istri saya juga hampir melahirkan bulan depan," tolak David.
Alan yang mendengar langsung kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh David. Namun, Alan tidak ingin menyerah dengan apa yang telah direncanakannya.
"Iya aku tahu itu. Tapi kamu cukup datang dan menghiburnya saja agar dia tidak larut dalam kesedihannya. Aku tidak berharap yang lainnya, karena kamu juga punya keluarga. Aku hanya ingin melihat putriku kembali ceria bisa melahirkan dengan lancar dan selamat. Vit, tolong pikirkan lagi," pinta Alan dengan wajah yang mengiba.
Melihat wajah dari petinggi perusahaan mengiba kepada dirinya, membuat David merasa tidak enak. Jika dipikir lagi hanya sekedar menemani dan saja seharusnya tidak masalah. Itu bukan pekerjaan sulit. Sejenak David memikirkan tawaran yang diberikan oleh Alan.
__ADS_1
Dalam hati David berpikir mungkinkah ini adalah jawaban atas keluh kesahnya yang menginginkan sebuah pekerjaan agar tidak membebani istrinya? David yakin jika semua ini adalah jawaban atas semua permintaannya kepada Tuhan.
Ini hanya sementara hingga wanita itu melahirkan bukan? Berarti aku hanya membutuhkan waktu 2 bulan saja untuk menemani dan menghibur wanita itu. Tidak masalah, aku pasti bisa. Tidak mungkin aku terus-menerus bergantung pada Heni, terlebih sebentar lagi dia akan melahirkan. Apalah arti seorang suami yang tidak bisa memberikan nafkah kepada istrinya. Ya, aku harus menerimanya. Semua ini demi calon buah hati kami. batin David dengan segala pertimbangannya.
"Baiklah, Pak. Tapi hanya sampai putri Bapak melahirkan saja kan? Dan setelah itu saya sudah terlepas dari pekerjaan itu kan?" tanya David memperjelas.
"Iya. Hanya sampai waktu persalinan tiba. Tapi aku minta saat persalinan kelak kamu tetap berada di sisinya untuk memberikan semangat dan dukungan kepadanya. Karena aku sangat menyayangi putriku, Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya," balas Alan.
Sebuah kesepakatan pun terjadi dan disaksikan langsung oleh Kenzo beserta Seno. Kini dua orang itu telah mempunyai tugas masing-masing untuk mencari tahu siapa sebenarnya David. Sekalipun Kenza sudah mengatakan jika David yang asli telah meninggal, tetapi Alan masih ingin mengungkapkan jati diri David yang sebenarnya melalui sebuah proses natural agar tidak memaksakan syaraf-syaraf David untuk bekerja.
"Jadi kapan saya bisa memulai pekerjaan itu?" tanya David dengan ragu.
Dengan bibir tersenyum kecil Alan berkata, "Kamu boleh bekerja mulai besok pagi Bagaimana?"
"Baik, Pak. Tapi bagaimana dengan pekerjaan saya di perusahaan?"
"Tenang, Kenzo akan menanganinya. Kamu juga tidak tidak usah khawatir, setelah putriku melahirkan, kamu akan kembali lagi ke perusahaan dengan jabatan yang sama seperti," ujar Alan.
"Benarkah?" sahut David.
"Iya bener. Dan ini ada sedikit imbalan karena kamu telah mau menerima tawaranku. Mungkin isinya tidaklah beberapa, tapi mudah-mudahan bisa membantumu untuk mempersiapkan persalinan istrimu bulan depan." Alan pun menyerahkan sebuah kartu ATM kepada David.
__ADS_1
Berulang kali David menolak, tetapi Alan terus memaksa hingga pada akhirnya David menyerah dan mengambil ATM tersebut.
~BERSAMBUNG~