
Bersama dengan Eliza, Agash menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Heni yang baru saja melahirkan anaknya. Saat ini Eliza berusaha untuk menahan rasa yang bergejolak di dalam hatinya. Bagaimanapun, Agash adalah suaminya. Dia sebenarnya tidak rela jika Agash menemui Heni, tetapi setidaknya Agash harus mengucapkan kata terima kasih karena Heni telah menemukan dan merawatnya dengan baik. Ya, meskipun Heni ngelunjak karena telah mengakui Agash sebagai suaminya.
"Gash, jika nanti ini memintamu untuk bertanggung jawab atas bayi yang telah dilahirkannya, bagaimana? Apakah kamu akan menikahi Heni karena merasa kasian?" tanya Eliza za secara tiba-tiba.
"Untuk apa aku bertanggung jawab atas bayi yang telah dilahirkannya? Kan aku bukan bapaknya. Lagian aku juga gak ikut menyemai."
"Ya ... kali aja! Kamu kan gitu. Dikit-dikit merasa kasihan. Siapa tau nanti pas melihat Heni yang melahirkan tanpa suami kamu menjadi iba dan menikahi dia!" celetuk Eliza begitu saja.
Bibir Agash tersenyum kecil. Dia tahu jika saat ini istrinya sedang merasa cemburu karena dia sedang merasa kasihan kepada orang lain yang telah mengaku sebagai istrinya saat dia kehilangan ingatan.
"Kamu nggak usah khawatir. Aku tidak akan menikahi Heni, sekalipun itu kamu yang menyuruhku untuk menikahinya."
"Heh! Mana ada! Sampai mati pun aku tidak akan pernah menyuruhmu untuk menikah lagi, apalagi menikahi wanita itu! Sekalipun kamu bisa membagi burungmu, tetapi aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk menikah lagi. Sebelum itu terjadi aku akan memotong burungmu!" Eliza berbicara sambil mengerucutkan bibirnya. Wanita mana yang akan terima jika suaminya menikah lagi?
__ADS_1
"Astaga .... Eza! Sadis amat!"
"Biarin!"
*
*
Agash merasa sangat terkejut karena tidak mendapati hal ini di dalam ruang rawatnya. Bahkan saat ditanya kepada petugas rumah sakit, mereka semua mengatakan tidak tahu kemana Heni. Dan saat dicek bayinya, ternyata bayi itu juga sudah tidak ada. Ada dua kemungkinan, bisa saja Heni pulang secara diam-diam, dan bisa jadi juga saat ini Heni sedang diculik oleh seseorang.
Eliza yang sejak tadi berada di samping Agash merasa dadanya berdenyut karena melihat suaminya yang sangat begitu mengkhawatirkan keadaan wanita lain. Apakah sang suami telah memiliki perasaan kepada wanita itu?
Apakah Agash telah jatuh cinta kepada Heni, sehingga dia sangat mengkhawatirkan keadaan Heni? Agash, kamu jahat! Aku sudah berusaha untuk membuang egoku, dan mengizinkanmu untuk mencegah Heni, tapi inikah balasan aku dapatkan? Agash, dada ini sakit, Gash!
__ADS_1
Eliza memilih mundur dan mencari tempat duduk karena kakinya terasa bergemetar. Ditambah lagi anak-anaknya yang berada di dalam perut sejak tadi terus menendangi perutnya, seolah sedang memprotes sikap Daddy-nya. Menyadari jika saat ini Eliza tidak ada di sampingnya, Agash pun langsung mencari keberadaan Kenza. Dan dilihatnya saat ini Eliza sedang duduk sebuah bangku.
"Za, kamu kenapa? Perut kamu sakit?" tanya Agash saat melihat Eliza menyeka jejak air matanya yang telah membasahi pipinya.
"Enggak, bukan perut aku yang sakit, tapi hati aku yang lagi sakit. Sakit liat suami aku yang sangat mengkhawatirkan wanita lain!" datar Eliza dengan kesal.
Agash langsung terdiam tanpa kata. Bahkan untuk menelan salivanya saja terasa sangat sulit. Padahal Agash hanya ingin mengetahui kemana perginya Heni saja, tidak lebih.
"Sudah sana kamu pergi aja cari wanita itu! Biar aku siap-siap ambil kampak untuk potong burung kamu!"
"Eza .... bukan gitu, Za! Aku hanya—"
"Hanya apa? Hanya merasa kasihan?" potong Eliza.
__ADS_1
...~Bersambung~...