
Cepet atau lambat sebuah kebenaran itu akan terungkap. Entah itu dari mana jalannya karena semua telah ditentukan oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Tidak akan ada yang disembunyikan secara abadi, karena sesungguhnya keabadian itu hanyalah milik Tuhan-nya. Melalui Shera, David mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Shera. Bahkan melalui Shera, David mengerti mengapa Alan menyuruh dirinya untuk menghibur Eliza. Ternyata suami Eliza mempunyai wajah yang sama dengan dirinya.
"Jika aku adalah Agash, lalu bagaimana dengan Heni? Arrghh .... sebenarnya siapa aku!" David kembali menjambak rambutnya dengan kasar karena kepala terasa sakit kembali.
Tepat pada saat itu Alan dan juga Eliza masuk kedalam apartemen. Melihat David yang kelabakan karena rasa sakit di kepala, Eliza langsung berlari untuk menghampiri pria itu. "David, kamu kenapa?" tanya Eliza dengan panik.
Namun, karena David tidak bisa mengontrol diri, tangannya menepis tangan Eliza hingga Kenza terjatuh ke lantai. "Aduh ... " Eliza meringis kesakitan.
Alan dan Shera yang terkejut langsung menghampiri Kenza. Dilihatnya darah segar telah mengalir di kakinya.
"Dadd, darah Dadd!" pekik Shera dengan kepanikannya.
Alan yang melihat darah itu langsung sigap untuk mengangkat tubuh Eliza. Tanpa pikir panjang, Alan pun langsung membawa Eliza keluar dari apartemen. Dan tujaan Alan adalah rumah sakit, karena Alan tidak ingin terjadi sesuatu kepada Eliza dan calon buah hatinya.
"Daddy akan ke rumah sakit. Tolong nanti kabari Daddy Ke!" pesan Alan sebelum meninggalkan apartemen.
"Iya, Dadd."
David menyadari jika apa yang baru saja dilakukannya telah melukai Eliza. Sungguh dia tidak sengaja saat menepis tangan Eliza. Melihat bercak merah di lantai, David langsung bertanya pada Shera. "Apa yang telah aku lakukan padanya? Argh .... " Lagi-lagi David harus menahan rasa sakit di kepala.
"Apakah aku harus memukulmu dengan palu agar rasa sakitmu hilang?" tanya Shera dengan asal bicara.
*
__ADS_1
*
Beruntung saja Eliza langsung mendapatkan penanganan dari tim medis sehingga pendarahan yang dialaminya bisa diatasi. Jika tidak, mungkin Eliza akan kehilangan bayinya. Rasa syukur pun terucap dari bibir Alan ketika Kenza masih diberikan kesempatan untuk mempertahankan bayinya.
Saat membuka mata, yang pertama kali Eliza lakukan adalah meraba perutnya. Eliza takut jika perut buncitnya tiba-tiba kempes. Helaan napas panjang pun keluar dari mulut Eliza. "Syukurlah," ujarnya saat masih bisa merasakan perut buncitnya.
"Eza, kamu udah sadar?" Alan langsung mendekat kearah Eliza yang tengah terbaring diatas ranjang rumah sakit.
"Syukurlah, kamu udah bangun," timpal Keanu yang sudah berada di ruangan itu.
Namun, detik kemudian Kenza malah memalingkan wajahnya enggan untuk menatap dua orang Daddy-nya yang sedang menunggu dirinya.
"Za, kamu kenapa?" tanya Keanu yang merasa lega saat Eliza dan bayinya baik-baik saja.
"Dadd, aku lelah. Bisakah aku menyerah?" Kanza menahan air mata yang sudah terbendung di pelupuk matanya.
"Why, honey? You are my most powerful daughter. You can't give up. Hold on, soon everything will be beautiful in its time.
[ Kenapa sayang? Kamu adalah putriku yang paling kuat. Kamu tidak boleh menyerah. Tunggu sebentar, semuanya akan indah pada waktunya ] ujar Keanu dengan menggenggam tangan Kenza dengan eratnya.
"I'm tired, Dadd." [ Aku lelah ]
"Za, kamu harus kuat. Daddy sudah mencari tahu siapa David sebenarnya. Daddy bisa memastikan 100% jika David adalah Agash. Daddy sudah mengumpulkan semua bukti-bukti jika dia adalah Agash. Bahkan jika dokter yang menangani Agash bersikeras tetap mengakui Agash adalah suaminya, Daddy sudah menyiapkan langkah apa yang harus dilakukan. Daddy akan mengambil jalur hukum," jelas Alan.
__ADS_1
"Percuma, Dadd! Nyatanya pria bodoh itu sama sekali tidak bisa mengingat apa. Aku benci dia. Mengapa dia harus kembali saat aku sudah merelakan dia untuk selamanya? Kenapa dia tidak mati saja, daripada harus kehilangan ingatannya!" Tangis Eliza pun pecah karena merasa tidak sanggup akan takdir yang sedang mempermainkan dirinya saat ini.
"Jadi kamu menginginkan aku mati?" Suara yang tak asing menyentuh genderang telinga Eliza. Dengan cepat, Eliza langsung menoleh.
Matanya membulat dengan lebar saat melihat David di sampingnya. Bahkan kedua Daddy yang tadi sempat berbicara dengannya sudah menghilang entah ke mana. "Ka—kamu ngapain disini? Siapa juga yang menginginkan kamu mati? Aku hanya ingin menginginkan suamiku mati daripada harus berbagi suami dengan orang lain!" ketus Eliza dengan sisa rasa kesalnya.
David pun menertawakan ucapan Eliza. Wajah yang tengah kesal pada dirinya. Sesaat kemudian Eliza pun ingin bangkit, tetapi tangan David mencegahnya. "Mau ngapain? Udah tiduran aja!"
Eliza hanya terdiam saat tangan David mencoba untuk mengelus perut Eliza. "Apakah dia baik-baik saja?" tanyanya.
"Dia baik-baik saja, karena dia kuat seperti Mommy-nya," balas Eliza dengan malas.
"Syukurlah." Helaan nafas panjang pun terdengar begitu berat. David menatap wajah Eliza tanpa jengah.
Ada getaran dalam hati yang susah untuk diartikan. Namun, sebisa mungkin David mencoba untuk menenangkan perasaannya. Meskipun ingatannya belum pulih dengan total, tetapi saat ini David sudah bisa mengingat jika wanita yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit itu adalah Eliza, istrinya.
Ingatan itu muncul secara tiba-tiba saat Shera terus mengatakan jika dia adalah Agash dan Eliza adalah istrinya.
"Kamu kenapa liatin aku kayak gitu?" protes Eliza saat David terus menatapnya. Bahkan tangannya masih mengelus perut buncitnya.
"Apakah kamu memang menginginkan aku mati? Tapi sepertinya Tuhan tidak mengizinkan, karena aku masih mempunyai janji dengan seorang jika aku akan segera kembali."
Mata Elizaa langsung terbelalak dengan lebar. "Kamu—" Belum sempat Eliza menyelesaikan ucapannya, pintu kamar telah dibuka oleh seseorang.
__ADS_1