
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Matahari sudah terbenam malam itu, berangin di susul petir dan hujan deras. Azly tengah berdiri di depan meja rias nya, ia memperhatikan perut rata nya yang beberapa bulan lagi akan membesar.
"Sayang kamu lagi ngapain di dalam, pasti lagi bobok ya yang sehat ya nak di sana dan cepat lah hadir agar mama gak kesepian lagi." kata Azly berbicara pada calon bayi nya itu.
"Tapi hari ini mama agak sebel, kamu tuh Jahil banget sengaja ya. cari perhatian di depan papa. uuh sayang mama jangan sering-sering ya rewel nya kalo mau main tunggu kita di rumah aja. maaf ya kalo hari ini mama terlalu aktif kamu jadi capek" kata Azly
wanita itu memperhatikan obat milik nya, di atas meja iya tak menyentuh obat itu sedikitpun. jika memakan obat itu pasti akan ada pengaruh untuk janin nya. begitulah kasih sayang seorang ibu.
"Kok aku jadi pengen makan roti coklat yang di mall, yaah mana hujan lagi" Azly bermonolog
Azly menaiki ranjang tidur nya, ia memejamkan mata tapi begitu sulit seolah. keinginan nya malam ini hari di penuhi.
wanita itu pun terduduk memikirkan sesuatu
"Nampak nya aku harus pergi sendiri, mumpung masih magrib" kata Azly beranjak ke luar kamar
Setiba nya di dekat tangga azly mendengar seseorang, dari arah dapur secepat mungkin ia berlari kearah suara itu. berharap ada seseorang yang sangat ia rindukan.
"Ibuu" pekik Azly
"Eh non Azly ada yang bisa saya bantu, non?" tanya mbok jami
"Oh mbok ya aku kira ibu" lirih Azly
"Maaf non udah buat sedih mbok lagi cuci piring non" jawab mbok jami
"Hm iya mbok lanjut aja aku mau keluar dulu. oh iya mbok tolong bikinin pudding cokelat ya" kata Azly
"Iya, non Azly hati-hati ya" kata mbok jami perhatian
Azly mengendarai mobil almarhum sang ibu, hanya dengan menggunakan daster lengan kengsi yang di padukan kardigan berwarna pink. membuat gadis remaja itu tampak sangat imut.
Azly sangat bersemangat mengingat roti cokelat lumer itu. ia mengendarai mobil pelan.
"Gini ya rasa nya ngidam tampa suami, apa-apa sendiri" gumam Azly tersenyum miris
"Gak papa ya sayang, kita berdua aja kamu penyemangat hidup mama sekarang" Azly berbicara pada janin nya.
Tak lama Mobil mewah itu telah sampai di basement mall, segera ia keluar mobil dan mencari roti keinginan nya itu.
Dengan percaya diri remaja itu mengelilingi mall hanya dengan menggunakan daster, terlihat Aura hamil nya terpencar membuat raut wajah nya semakin cantik walau perut belom membesar.
Disisi lain Bahram dan Sania baru keluar, dari Bioskop mereka bergandengan manja menuju Resto Thailand di mall itu. seperti Biasa Sania akan meminta apa saja. pada Bahram
"Sayang mau makan, apa?" tanya Bahram
"Eem aku mau minum aja soal nya mual. mau belanja aja deh" kata Sania
"Ya sudah aku makan dulu ya, dari pulang sekolah tadi aku belom makan apa-apa" ucap Bahram
"Oh jadi kamu gak suka dekat aku, ya sudah aku gugurkan saja anak ini" kata Sania sok sedih
"Apa sih jangan ngomong begitu, aku gak marah aku cuma capek seharian beraktivitas" kata Bahram
Sania hanya berpura-pura mual, sebenar nya Ia baik-baik saja tak seperti ibu hamil pada umumnya. lebih tepat nya ia hanya memanfaatkan kondisi nya sekarang
__ADS_1
Kini mereka tengah berjalan dari kejauhan Sania melihat sosok wanita cantik tengah berjalan, masuk ke arah toko roti di mall itu.
"Kita ke toko roti itu sebentar yuk yng, aku mau membeli beberapa" ajak Sania
Azly tengah berkeliling di dalam toko besar itu, mata nya berbinar melihat susunan roti cokelat di rak tersusun indah.
"Em mau yang mana ya, sayang kamu mau, apa?" tanya Sania pada calon bayi nya itu
"Mbak ada roti cokelat lumer yang bulat isi enam itu tidak. yang lagi viral itu loh" tanya Azly pada karyawan toko
"Ada nona tinggal satu kebetulan itu di kulkas depan ya" jawab karyawan itu ramah
"Oh makasih ya mbak" ucap Azly senyum
Azly melihat hanya ada sisa satu roti keinginan nya itu, dengan bersemangat ia membuka kulkas. tapi disaat pintu sudah terbuka ada sebuah tangan putih yang mencomot roti incaran nya.
"Nona ini aku duluan yang mau ambil" kata Azly lembut, sambil memutarkan badan nya. betapa terkejut ia melihat siapa orang itu.
"Bahram" lirih Azly melihat suami nya
"Enak saja aku yang pegang duluan, jadi ini milik ku" kata Sania
"Tidak bisa dong kan aku yang datang duluan" kata Azly lagi
"Sayang aku mau ini, anak kita yang mau" rengek Sania
"Ya sudah ambil saja" jawab Bahram enteng tampa memperdulikan keberadaan Azly
melihat itu Azly cukup terluka, mata nya berembun tapi ia tahan agar buliran bening itu tak jatuh, tak lama datang lah karyawan yang Azly tanyakan tadi.
"Ada yang bisa saya bantu tuan" sapa karyawan itu
"Tapi tuan ini adalah milik nona cantik ini" kata karyawan itu sopan
"Tuh denger tuan, aku yang duluan" kata Azly tak mau kalah
"Pokok nya aku mau yang ini" Kata Sania sedikit meninggikan suara nya
"Kau tuli atau apa bungkus sekarang atau akan ku buat kau menyesal" bentak Bahram dengan suara barinton nya
"Ba-baik tuan" kata karyawan itu takut
"Maaf nona" ucap karyawan itu pada Azly berlalu pergi
Sania tersenyum menang, sambil bergelayut manja di lengan Bahram, sementara itu Azly menatap perut Sania tampak datar belom membesar pikir nya.
Ada perasaan sedih di hati Azly, bagaimana tidak begitu tak adil nya Bahram lebih memilih Sania, dan tak memperdulikan Alzy serta calon anak mereka
"Ya sudah ambil saja, mungkin kau lebih membutuhkan nya sekalian saja minta calon suami mu untuk membeli tempat ini" ucap Azly berlalu pergi
"Kau" tunjuk Sania kesal
Bahram terus memperhatikan kepergian Azly, wanita itu sangat imut malam ini, apalagi dengan dua gunung nya yang cukup besar untuk seumuran anak 17 tahun.
"Liatin apa sih, oh kamu liatin wanita Kampung itu terserah aku mau pulang" kata Sania marah
"Apa sih Sania aku tu capek, dikit-dikit merajuk dewasa dikit kenapa sih" kata Bahram meninggal kan wanita ular itu
__ADS_1
Ntah mengapa setelan melihat Azly, ada perasaan yang dia sendiri tak tau cara menjelaskan nya. membuat Bahram menjadi kesal saja pada Sania, ingin rasa nya ia sekedar memanggil nama Azly atau memarahi nya. ia pun heran dengan perasaan itu.
"Apa dia baik-baik saja, bagaimana dengan penyakit nya kini" gumam Bahram
"Lalu kenapa dia harus memakai baju seperti itu, sungguh aku tak menyukai nya, eh lo kenapa sih Bahram sadar dong sadar" ucap Bahram pada diri nya sendiri
Azly kini tengah berjalan ke arah, toko perlengkapan bayi ia melihat gemas baju-baju yang kecil mungil itu. ingin membeli tapi ia Belom tau jenis kelamin anak nya nanti.
"Sayang maafin mama ya kita belom bisa makan roti cokelat itu, besok mama coba cari lagi ya" ucap Azly sambil mengelus perut rata nya
"mama tau kamu kecewa kan sama papa, tapi Kita harus kuat ya kamu masih punya mama" tambah Azly lagi
Ketika Azly tengah berkeliling di toko bayi itu, tak sengaja ia bertemu dengan Cindy dan James.
"Azlyyyyy lo ngapain disini" seru Cindy sambil berlari kearah sahabat nya itu
"Eh Mit, gue yang seharus nya nanya lo ngapain disini dan sama siapa" tanya Azly balik
"Ehem, sama gue Zly" celetuk James tiba-tiba
"Cieee, akhir nya kalian ada kemajuan" goda Azly
"Apaan sih lo, kita tu kesini beli kado buat anak temen nya dia" jawab Cindy
"Ya tapi kan tetep aja pergi nya berdua" ucap Azly lagi
"Ah lo jangan gitu dong gue malu ih" ucap Cindy dengan menutup wajah nya dengan tangan.
Kini Azly sudah berada di mobil untuk segera kembali pulang, dan lagi-lagi ia mengeluarkan darah segar dari hidung nya.
"Ini pasti karena gue gak minum obat itu. ayo Ly lo harus kuat lawan penyakit ini, jangan sampai ini berimbas pada anak lo" ucap Azly sambil mengelap darah itu
"Nak mama akan selalu ngejaga kamu biar pun harus ngorbanin kesehatan mama, karena kamu adalah jantung hati mama" ucap Azly sambil mengelus perut nya
"Besok aku harus cek perkembangan janin dan kesehatan ku di rumah sakit" gumam Azly
.
.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa
Like
Vote
komen
__ADS_1
terimakasih sudah mampir😘
Di tunggu episode-episode berikut nya ya❤️