
setelah makan malam yang hening,
Nandira mulai membuka suaranya
"e.. soal di rumah sakit..."ucapnya terhenti
"kenapa??"tanya Afkar
"anggap saja kamu gak pernah ke sana.
lupakan tempat itu, dan jangan kembali ke sana!! selamanya"ucapan Nandira mulai serius.
"kenapa?? apa kau.. tidak ingin aku menjenguk kakak mu??
bukannya tadi..kau bilang kau tidak ingin dia kesepian di sana, bukannya kau ingin dia punya lebih banyak teman untuk menemaninya?? agar dia bahagia??
apa kau tidak ingin dia bahagia??"tanya Afkar bertubi tubi
sedangkan yang di tanya hanya menundukkan kepalanya
"aku ingin kak Darma bahagia tapi...."ucapnya terpotong
"tapi kau terlalu takut untuk percaya pada orang lain"jawab Afkar sambil tersenyum sinis
"kau takut untuk mempercayakan kakakmu kepada orang lain, bahkan kau tidak percaya pada dokter yang menangani kakakmu."
ucap Afkar yang mengerti tentang apa yang di rasakan oleh Nandira..
__ADS_1
"sudahlah jika kau tak ingin percaya padaku
ini sudah malam sebaiknya aku pulang"ucap Afkar sambil tersenyum.lalu dia berjalan ke arah Nandira yang masih tertunduk dan tak berani menatap Afkar.
Afkar yang melihat Nandira merasa bersalah dan tak berani mengangkat kepalanya itupun
semakin mendekat kepada Nandira dan setelah berada tepat di belakang kursi Nandira iapun memegang puncak kepala Nandira.
"tak masalah jika kau tidak percaya padaku,
aku tau kau sudah mengalami banyak hal berat dalam hidupmu.
kau mungkin tak ingin percaya padaku sekarang, tapi...kau tidak boleh menutup hatimu, kau bisa percaya padaku saat kau siap untuk percaya,aku pergi dulu ya 😊😊
jaga dirimu "ucap Afkar yang mulai keluar dari ruang makan Nandira, dan Nandira hanya mengekori dari belakang
*Duarrrrrrrrrrrr*
petir yang menggelegar kuat
membuat Nandira kaget plus takut dan membuatnya tampa sengaja memeluk Afkar yang berbeda di depannya.
lalu Afkar membalikkan badannya dan memeluk Nandira dan mengelus puncak kepala Nandira agar membuat Nandira tentang.
entah apa yang merasukinya, Afkar yang bisanya selalu menjaga jarak dengan semua wanita bahkan ibunya sendiri kini sedang memeluk gadis cantik nan imut di depannya ini.
"jangan pergi!! jangan pergi!!!"ucap Nandira
__ADS_1
sambil menangis sesenggukan
"Dira janji...hiks... Dira...a.. akan.. hiks.. jadi.. anak baik.. jangan tinggalin Dira sendiri lagi...
Dira mohon!!!"ucapnya sambil terus menangis di pelukan hangat Afkar
"hei hei aku tidak akan pergi,kau tidak sendirian,aku ada di sini"ucap Afkar menyemangati Nandira, tapi Nandira masih memeluk Afkar dengan sangat kuat dan di belas pelukan oleh Afkar
tak lama setelah itu saat Nandira mulai tenang,ia tersadar akan kelakuannya dan mencoba untuk mendorong tubuh Afkar agar menjauh darinya
"maaf"satu kata yang terlontar dari mulut Nandira
"hari sudah mulai malam dan..di luar hujannya juga semakin deras,aku rasa aku tak bisa pulang malam ini"ucap Afkar menatap Nandira yang masih berusaha untuk menghapus air matanya yang tersisa di wajahnya
Afkar yang tidak mendapat respon dari ucapannya menatap Nandira yang masih berusaha untuk menghapus air matanya lalu..
Afkar menghapus air mata Nandira dengan kedua tangannya dengan lembut dan pandangan merekapun saling beradu
"jangan di hapus jika kau tidak ingin menghapusnya, jangan membendung apa yang tak bisa kau bendung, karena itu hanya akan menyakitimu"ucap Afkar sambil memegang pipi Nandira dan menatap dua bola mata coklat milik Nandira
"menangis lah jika kau mau aku janji aku tidak akan tertawa dan aku akan menjadi sandaran mu ,oke"ucap Afkar lalu memeluk Nandira lalu Nandira menangis di pelukan hangat Afkar dan Afkar hanya memeluk Nandira dan sesekali mengelus puncak kepala Nandira
"apa salahku,dosa apa yang ku lakukan sehingga tuhan menghukum ku seperti ini"ucap Nandira masih di pelukan Afkar
Afkar yang mendengar itupun langsung memegang pundak Nandira, dan menampilkan wajah Nandira yang berantakan mata yang sembab dan hidung yang memerah.
"kau tidak salah dan tidak ada yang akan menyalahkanmu"ucap Afkar menyemangati Nandira
__ADS_1
"tapi aku menyalakan diriku"ucap Nandira spontan