Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Janji


__ADS_3

Aku gak paham lagi sama diriku sendiri. Bisa-bisanya aku meng-iya-kan omongan si Tian untuk memberitahu dia, begitu aku sampai di rumah.


Kenapa sih, kerja otakku lebih lambat dari mulutku kalau berhadapan dengan makhluk yang satu itu? Apa dia pakai magic biar orang-orang patuh sama dia? Atau karena auranya yang membuat orang sungkan untuk menolak?


Lagipula, kenapa mesti aku yang kasih kabar? Kenapa gak dia duluan yang hubungi aku gitu lho? Masa cewek mesti duluan kasih kabar? Emangnya kita ini pasangan? Harus ngabari segala.


Kesannya kayak anak sekolah yang lagi remedial kalau kayak gini. Ngulang rasa antara harus menghubungi dia atau enggak. Kalau hubungi dia duluan, nanti dia anggurin WhatsApp dan teleponku lagi gimana? Kalau gak hubungi, nanti jadi masalah lagi.


Huashuuu tenan!


Susah banget sih jadi orang baik. Sekalinya pengin tega sama orang, malah penuh pertimbangan gini. Mikirin hal ini doang, dari jalan sampai udah segar banget habis mandi kayak gini, gaaak kelar-kelar. Sampai bunyi ringtone kuntilanak bikin aku kaget.


Hah? Si Babas telepon?


"Halo Assalamu'alaikum," sapaku.


"Wa'alaikum salam. Kamu sudah di rumah?" tanyanya.


"Eh Mas Tian. Iya, sudah Mas," jawabku.


"Kok, gak kabari saya?" todongnya.


"Maaf. Saya baru beres mandi, Mas," lagian kenapa mesti laporan sih?


"Ya sudah. Sekarang istirahat," ujarnya.


"Iya Mas."


Gitu doang? Cuma nyuruh istirahat doang mesti telepon? Ngapain sih, sok perhatian begitu? Bukan aku gak paham soal cinta-cintaan. Aku juga tahu, gimana rasanya kalau ada yang PDKT. Malah kemarin-kemarin, aku juga sempat dekat sama seseorang. Tapi, gak ada yang lebih membingungkan daripada si Babas. Tiba-tiba aja dia bersikap sok perhatian sama aku kayak gini. Sebelum-sebelumnya sikapnya super nyebelin banget.


"Yang..." panggilnya.


"Iya. Kenapa Mas."


Katanya nyuruh istirahat?


"Kalau... Saya ajak kamu makan siang lagi. Mau?" tawarnya.


"Kapan Mas?"


"Besok."


"Boleh," jawabku cepat.


Astaga, Yayang. Kebiasaan.


"Kamu gak kerja memangnya?" tanya si Babas.


"Mmm... Itu... Libur sih Mas. Mbak No kan sakit," jawabku akhirnya. Udahlah  jujur aja. Toh, bohong sama dia juga gak guna.


"Oh, baguslah."


"Ha? Gimana Mas?"


"Enggak. Maksudnya, bagus kalau libur. Kamu jadi bisa istirahat," jawabnya.


"Oh, kirain apa. Emang Mas libur juga?"

__ADS_1


"Enggak."


Terus kenapa ngajak makan siang bareng Baaaasssss?


"Tapi gak apa-apa. Saya nanti jemput kamu di jam istirahat saja," ujarnya.


Kok dia bilang 'tapi gak apa-apa?' Ini kesannya jadi aku yang ajak dia lho. Lagi pula, ngapain dia mau jemput segala? Pacar bukan, teman juga bukan.


"Kalau sibuk, gak usah Mas."


Sumpah. Kok aneh sih ini?


"Gak apa-apa, Yang. Saya gak terlalu sibuk."


"Oh, ya udah. Nanti ketemu di restonya aja, Mas," usulku.


"Kamu nyetir sendiri?" tanyanya.


"Iya Mas. Biar efektif waktunya. Kan, Mas Tian juga kerja. Mumpung saya libur."


"Mmm... Gak apa-apa kalau saya gak jemput?"


"Ya gak apa-apa, Mas. Memang kenapa?" tanyaku heran.


Biar gini-gini, aku gak mau ya, tergantung sama cowok. Apalagi cowoknya si bujang tua ini. Dan kita juga gak ada hubungan apa-apa. Gak ada kewajiban buat dia antar jemput aku.


"Gak apa-apa sih. Cuma, biasanya perempuan lebih suka di jemput," jawabnya.


"Saya bukan perempuan biasa Mas. Saya perempuan jadi-jadian," ujarku dengan tawa jadi-jadian juga.


Ha?


Maksudnya gimana?


Dia suka cewek jadi-jadian? Ngeriii banget, sumpah. Fix sih ini, dia kayaknya belok. Padahal aku pikir dia lurus-lurus aja. Ternyata sifat aslinya keluar lagi.


"Ya sudah, kamu istirahat Yang. Besok kalau bisa, kamu ke kantor saya aja. Nanti, kita jalan dari sana. Gimana?"


"Iya Mas."


Yaaaang! Kenapa sih? Iya-iya mulu sama dia?


"Yang..."


Apalagi!


"Iya Mas."


"Selamat malam."


"Malam Mas."


Sampai bunyi panggilan di tutup, aku masih diem lho. Tuhan Maha Kuasa menciptakan makhluk beranekaragam beserta sifat dan sikapnya yang berbeda juga. Baru pertama kali, aku bersinggungan dengan spesies seperti dia ini. Sumpah, kelakuannya berasa aneh banget. Untungnya masih ketolong sama wajahnya yang ganteng. Eh, tajir juga.


Tapi, bukan cuma dia sih yang aneh. Aku juga ngerasa makin aneh. Kok, dari tadi bisanya iya-iya mulu sama si Babas?


Saking asyiknya mikirin kelakukan si Tian, aku gak sadar sampai ketiduran. Puleeesss banget. Kayaknya kalau Mama gak paranin ke kamar, aku gak bakalan bangun.

__ADS_1


"Kamu tidur apa mati sih, Yang? Jam sebelas lho ini," gerutu Mama dengan suara menggelegar.


"Maaa... masih ngantuk," keluhku yang gak rela waktu tidurku di usik Mama.


"Wedhok (perempuan) kok muales sih, Yang. Harusnya kamu tuh bangun pagi. Bantu Mama bikin sarapan gitu, lho. Jangan mentang-mentang libur, terus males-malesan kayak gini," ceramahnya seraya membereskan kamarku.


"Iya... Jam berapa ini, Ma?" tanyaku sambil menggeliat.


"Sebelas! Ya ampooon, punya kuping tuh dipake tho Yang. Jangan jadi aksesoris doang."


"Hah? Jam sebelas?" Gak pake mikir, aku langsung melesat ke kamar mandi buat cuci muka. Mama ngomel-ngomel pun gak aku dengar. Nanti dulu aja ceramahnya Ma, nyawa anakmu sedang dalam bahaya.


Jangan-jangan si Babas udah telepon dari tadi?


Ah, bener kan. Lima missed Call dan WhatsApp dari si Babas yang belum aku baca. Gara-gara ringtone kuntilanak semalam, langsung di sillent  hapeku. Nyesel banget, waktu itu aku ganti-ganti ringtone nomor si Babas jadi suara kuntilanak. Malah jadi kualat sendiri. Alhasil, sekarang aku yang harus telepon si Babas duluan setelah mengusir Mama keluar kamar. Untungnya Mama manut ae meski dengan omelan panjangnya sepanjang jalan kenangan.


"Hallo Assalamu'alaikum, Mas Tian," sapaku saat dia mengangkat telepon dariku.


"Wa'alaikum salam. Kamu kemana aja, Yang?" Manusia ini, kalau ngomong gak pernah pake basa-basi.


"Maaf Mas, tadi... saya keasyikan bantu Mama. Hape di kamar gitu," bohongku. Gak mungkin kan aku bilang kesiangan, mau ditaruh dimana mukaku?


"Hmmm..."


Duh, marah nih kayaknya.


"Mas... mmm... Jadinya kita makan siang dimana?" tanyaku.


"Kamu gak baca WhatsApp saya?" si Babas malah bertanya balik.


"Ha? Belum Mas. Saya langsung telepon Mas Tian begitu lihat missed call dari Mas," aku meringis malu.


"Ya gak apa-apa, Yang. Saya juga minta maaf, makan siang kita kali ini batal karena saya lupa kalau ada meeting dengan Kominfo. Makanya saya telepon kamu."


"Owh begitu," Apa dia balas dendam sama aku?


"Next time ya Yang. Kit—"


"Oke Mas. Maaf ya..." potongku. Biarin ajalah kalau dia marah. Toh, ketemu pun aku males ribet. Harus dandan dulu, pilih-pilih baju, belum lagi di jalannya pasti panas banget siang bolong begini.


"Ya sudah, saya tutup teleponnya," ujar si Babas tanpa basa-basi lagi. Jangankan basa-basi, baru aku mau jawab, udah dia tutup duluan.


Sialan.


Kenapa sih makhluk yang satu ini selalu bikin emosi jiwa?


.


Kepada teman-teman jamaah Babas-Yayang yang belum follow aku di NT dan instagram. Diharapkan untuk follow terlebih dahulu agar jumlah followersku naik. Jhaaa...


Yuk atuh di follow, gak susah kok bikin aku senang. Cuma nambah followers, dapat like dan baca komen heboh.


Oh ya, maaf gak banyak balesin komen karena tepar dan masih wara-wiri riweuh kesana-kemari.


Ttd.


Ambu dan tiga koyo nempel di punggung. Hiiikksss

__ADS_1


__ADS_2