
"Yang, kamu kok gitu sih sama orang? Kamu gak mikir akibat ke depannya gimana? Padahal kesempatan emas kalau kamu bisa deket sama dia. Dia itu 'kan bos. Siapa tahu kamu dapat banyak kerjaan dari dia. Atau kamu malah dikenalkan sama bos-bos lain. Pergaulan kamu juga jadi semakin luas," ujar Mama padaku setelah Mbak No cerita semuanya pada Mama.
Eh tapi tumben banget Mama gak teriak-teriak sama aku?
"Aku takut Ma. Masa belum apa-apa aku udah diancam jangan deketi Mas Andi. Mama gak tahu, orang-orang belok kayak gitu kalau cemburu lebih nyeremin dari pada yang normal."
"Ya tapi gak gitu juga tho Yang! Siapa sing ngajari kamu gak sopan kayak gitu, Yang? Jangan ngisini Mbakmu!"
"Iya maaf."
Mbak No dari tadi hanya diam saja mendengarkan Mama memberikan kuliah pagi padaku. Kayaknya dia puas banget aku dikuliahi Mama.
"Minta maaf, Yang! Hubungi dia, alasannya sama kayak Mbakmu semalam." titah Mama seraya sibuk menyuapi si bocil.
"Ma... Udah sih biarin aja. Dia juga gak telepon aku lagi kok, padahal Mbak No kasih nomorku sama dia," belaku.
Pokoknya, aku ogah banget harus menghubungi si Babas lagi. Mau ngapain coba?
"Ya, dia bete duluan lah!" ketus Mbak No padaku. "Pasti dia mikir, ngapain juga ngehubungin orang yang udah nipu dia," seloroh Mbak No dengan wajah kesal.
"Ya udah, bagus kalau gitu. Jadi gak usah komunikasi lagi," aku gak kalah kesel. Kenapa sih mereka malah nyuruh aku hubungi si Babas untuk minta maaf? Kalau si Babas perlu sama aku, dia pasti hubungi aku lagi 'kan? Bukan aku yang harus hubungi dia.
"Ya gak gitu tho, Yang! Sing sopan sama orang. Sing anggun, gak boleh sombong. Kamu tu perempuan. Bukan malah ngerjain anak orang. Apalagi yang punya opo tho, No?"
"Oke.com, Lik."
"Nah iya itu. Jangan suka bikin malu Mama sama Mbakmu. Nanti dikiranya Mama sama Mbakmu gak ngajari kamu sopan santun. Nanti dikiranya Mama membiarkan anaknya suka bohong."
Nah, bagian ini nih, aku udah hapal banget. Nanti habis ini bahas tata krama. Perempuan harus begini-begitu. Terus merembet aku ini siapa, kerjaanku apa, bla bla bla...
"Ama pagi-pagi udah marah-marah terus," sela Farel yang dari tadi sibuk merakit mobil mainannya.
Bagus, Cil. Protes aja, biar Amamu berhenti ngomel.
"Ama gak marah lho, Sayang. Ama cuma kasih tahu Lik Yayang. Biar Lik Yayang-nya gak nakal."
"Emang Yayang kenapa?"
"Nakal sama temennya, kamu ndak boleh gitu ya?"
Farel menatapku, "udah minta maaf sama temennya, Yang?" tanya si bocil membuat Mama dan Mbak No menahan senyum.
Dih, bocah. Sok-sok-an
"Yayang gak nakal ya, kamu yang nakal," balasku tak mau kalah sama si bocil.
"Enggak. Aku gak nakal. Iya kan Ama?"
__ADS_1
"Iya dong. Cucu Ama kan anak baik," bela Mama yang membuat si Farel bangga sendiri.
Terserah kamu lah, Cil. Yang penting kamu udah bantu selamatkan aku dari mata kuliah tatakrama dosen Ibu Lestari.
"Mending kamu hubungi dia deh, Yang," tiba-tiba suara Mbak No kembali menarik kami ke bahasan tadi.
Ih! Kenapa sih Mbak Retno keukeuh banget aku harus hubungi dia? Dapat apa dari si Babas sampe segitunya nyuruh aku minta maaf?
"Ini aku lho yang merasa bersalahnya, Yang," tambahnya lagi. "Apalagi denger suaranya semalam. Pas aku jawab, dia kayak yang kaget terus bete gitu."
"Nurut sama Mbakmu, Yang," kini Mama ikut nyaut lagi.
"Iya-iya. Nanti aku telepon dia," jawabku malas.
Iseng-iseng, aku cari profile si Babas Tumbas di internet selama menunggu Mbak Retno mempersiapkan perlengkapan endors.
Aku cuma pengin tahu, sehebat apa lelaki itu. Apa dia beneran orang hebat?
Dan... Woow... Bikin speechless. Ngubek wikipedia sama LinkedIn si Babas ternyata memang gak main-main. Apalagi dia lulusan Jerman dengan sederet pengalaman kerja yang luar biasa.
"Hah? 35 tahun?" ceplosku setelah mencoba menghitung tahun kelahiran si Babas. Mbak Retno yang asyik dengan mannequin menoleh seketika.
"Siapa? Mas Tian?" tebaknya.
"Bukan," jawabku. Duh, mulut kenapa sih losdol. Jadi ketahuan, kan?
"Ya kan dia bilang temenan dari SMP," jawabku.
Mbak No senyum mengejek. "Katanya bukan dia?"
Hah! Emang bener gak bisa nyimpen rahasia sama Mbak No. Apa yang aku pikirkan aja bisa dengan mudah dibacanya.
Entah aku harus bersyukur atau harus sebel kalau kayak gini. Memang, semua perhatian keluarga kayaknya tumpah ruah sama aku. Sampai mereka hapal luar dalamnya aku. Tapi ya gini, Kalau ada apa-apa semua ikutan rempong. Terlalu banyak tim hore malah jadi pusing sendiri.
"Ya, Mbak No kan yang bilang. Aku cuma nyaut aja," belaku.
"Halah. Alasan."
Bela trooosss... Fix sih dia kena pelet si Babas kayaknya.
"Aku udah kirim nomor Mas Tian sama kamu. Sana telepon," titahnya.
Kenapa buru-buru sih? Masih jam sepuluh pagi lho iniii...
"Nanti Mbak."
"Gak ada nanti-nanti ya, Yang. Beresin sekarang. Biar nanti kita fokus kerja," gerutunya dengan suara yang mulai ngegas.
__ADS_1
"Iya," jawabku pendek. Males deh, kalau gak dituruti buru-buru, gak akan berhenti ngoceh pastinya. Persis banget sama Mama. Mentang-mentang ponakannya.
"Buruan," titahnya lagi. Ternyata dia merhatiin aku yang masih diem sambil pegang hape.
"Sabar Mbak. Gak sabaran banget sih jadi orang," ketusku.
Langsung aku hubungi dia pake loud speaker pualing kenceng sekalian. Biar Mbak No denger. Kesel aku.
"Tuh, gak di angkat kan? Dia sibuk kali Mbak."
"Yowes, kamu minta maafnya di WhatsApp aja."
Astaghaaa! Kesalahan aku emang fatal banget? Sampai aku harus ngejar-ngejar maaf dari si Babas Tumbas.
"Mbak, kalau dia gak angkat yo wis, tho. Ngapain aku harus WhatsApp dia segala?"
"Ya biar dia tahu kalau kamu tanggung jawab sama kelakuanmu."
"Kan Mbak udah bilang sama dia, kalau aku kira dia mau hubungi perkara bisnis bukan urusan pribadi. Ya udah sih, ngapain aku harus minta maaf segala." Aku masih tak terima.
"Ya kamu jelasin sama dia, kalau kamu salah faham gitu lho. Gitu aja kok repot,"
Lah, yang repot siapa? Situuu mbaak, situuuuu. Ih! Pengen banget aku teriaki Mbak No kayak gitu tepat di telinganya.
"Udah, gak pake lama. Sana WhatsApp. Cuma ngetik minta maaf, wis beres kan? Daripada nanti urusannya malah panjang. Kamu juga yang kena." Mbak Retno mendelik kepadaku.
"Mbak, cuma perkara no hape, Mbak. No hape..." teriakku frustasi.
"Yang kamu mainin bukan orang sembarangan, Yang! Dia bisa menjatuhkan kamu dengan beritanya! Mau reputasimu hancur? Kamu tahu sendiri media kejamnya seperti apa? Mereka bisa memutar balikan fakta. Mereka bisa menggiring opini yang bisa merugikan kamu. Mending sekarang perbaiki atau nanti menyesal?" tanyanya menggebu penuh amarah.
Aku gak bisa ngomong apa-apa lagi. Semua yang diucapkan Mbak Retno benar. Dan otakku yang lemot ini, gak mikir nyampe kesana.
"Sekarang terserah kamu. Mau minta maaf atau lupain. Tapi kalau nan—"
"Iya. Ini mau aku WhatsApp!" potongku ketus.
Oke, habis ini aku sama sekali gak mau bersinggungan lagi sama orang yang bernama Sebastian Budi Oetomo. Hiih! Namanya gak kreatif. Nyatut nama pahlawan. Tapi kelakuannya amit-amit jabang bayi.
Me :
Pagi Mas Tian, ini aku Yayang. Maaf untuk kesalahpahaman kemarin Mas. Aku pikir, Mas Tian minta nomorku untuk keperluan pekerjaan. Hehe. Sekali lagi maaf ya Mas. Btw, ini nomorku Mas 🙏
Fiuuuhhh... Coba, si manusia itu bakal bales apa?
.
Ada yang bisa tebak, si Babas Tumbas bakal bales apa?
__ADS_1