
...Aku usahain buat up, bestie......
...Maaf kalau gak maksimal. ...
...Jangan lupa bantu like, komen dan sawerannya. Terima kasih... ...
...✨✨...
...✨...
Nunggu di parkiran sendirian malam-malam begini rasanya horor banget. Kemana sih makhluk itu? Lama banget urusannya. Tahu gitu, aku pulang sendiri aja. Tapi dia malah seenaknya ngasih kunci mobil sama aku. Untung aja aku masih paham nyalain ini mobil gimana — meski gak tahu cara jalaninnya — seenggaknya aku bisa duduk nyaman sambil nungguin si Babas tiba.
Tapi senyaman-nyamannya mobil orang, tetep lebih nyaman pake mobil bututku sendiri. Iyalah, harganya aja jauh beda. Berapa kali lipat dengan mobilku? Kayaknya kalau mereka disandingin, mobilku minder duluan. Itu baru dari tampilan luarnya aja. Gimana kalau mobilku lihat Interior mobil si Babas yang super canggih begini. Aku aja bingung mau stel musik harus pijit yang mana. Salah pencet nanti—
Eh tuh kan... Kepencet dikit doang, malah kebuka tempat penyimpanan si Babas. Ku lihat, di sana cuma ada buku saku dan pulpen. Gak ada barang lain.
Bener-bener cerminan Sebastian banget. Gak neko-neko dan pekerja keras. Dia membuktikan teorinya bahwa pekerjaan itu nomor satu di atas segalanya. Buktinya, dia sampe bikin catatan-catatan di buku ini. Aku aja yang cewek tulen, gak serajin itu. Belum lagi tulisannya rapih banget untuk ukuran cowok. Mana detail pake tanggalan segala.
Tapi... tunggu...
Selasa, 1 Maret 2022
Love at the first sight. Saya pikir, seumur hidup gak akan ada kalimat itu di dalam kamus hidup saya. Nyatanya dia datang dan mampu menyihir dengan pesonanya.
Namanya Yayang Puji Lestari. Nama yang unik. Untuk pertama kalinya....
Ya Tuhan... Dia... Dia... Tulis namaku? Dia... Curhat atau bagaimana? Kok ada namaku di buku catatannya?
Tok... Tok... Tok...
Dengan panik aku buru-buru memasukan diary si Babas ke dalam tasku.
"Hei, maaf lama," ujar Si Babas begitu masuk ke dalam mobil.
"Mas... Iseng banget sih pake ketuk kaca segala. Kaget tahu," ketusku dengan jantung bertalu.
"Sorry. Mas kira tadi kamu lihat Mas jalan ke sini."
"Aku lagi main hp, Mas. Emang Mas gak lihat?" tanyaku pura-pura.
"Dari luar kan gak kelihatan, Yang. Mas gak tahu kamu lagi fokus main hape. Makanya Mas isengin aja," ujarnya santai.
Aku menghirup nafas dalam untuk menetralkan jantungku yang masih bertalu.
Ya Tuhan, gimana cara balikin buku ini?
"Maaf ya, lama nungguin. Tadi Andi ribet banget. Terus Mas urus-urus dikit biar enak ninggalinnya," ujarnya lagi.
"Padahal gak usah nganterin Mas kalau emang sibuk," jawabku tak berani menatapnya.
__ADS_1
Aduh, gimana dong caranya balikin ini buku?
"Gak sibuk, kok. Kan udah ada timnya yang ngurus-ngurus semua. Mas tadi arahin dikit-dikit plus ya... basa-basi sama saudara bentar. Maaf ya, kalau kamu bosen nunggu," ujarnya seraya menatapku lagi sementara aku hanya mengangguk kaku.
"Pulang sekarang? Atau mau nginep di sini?" cengir si Babas santai.
Aku melirik si Babas hendak—
"Nah, gitu dong lirik Mas. Kita pulang ya, Mama kamu pasti nyariin," ujarnya.
"Gak mungkin nyariin," jawabku.
"Kenapa? Oh, Mama tahu kamu ke nikahan Ellen ya? Kenapa gak di ajak aja, Yang?"
"Mama pasti tahu aku pulang bareng Mas karena aku yakin Mbak Retno bilang sama Mama. Mama juga tahu aku pergi ke nikahan adik Mas Tian. Dan aku gak berani ngajak Mama ke kondangan karena memang gak ada undangan untuk Mama," ujarku.
"Maaf. Mas lup—"
"Gak usah minta maaf, Mas. Mas gak salah kok. Malah justru kalau Mama datang, nanti semuanya terbongkar. Maksudnya hubungan kita," potongku panjang lebar.
"Iya. Tapi sekarang kamu gak perlu khawatir apapun lagi, Yang. Sekarang kamu sudah bebas," ujar si Babas terdengar serius lagi. Nada bicaranya kayak lagi ditampar dengan kenyataan yang memang perih untuk kami berdua.
"Gak bebas juga, Mas. Aku ya tetap begini," jawabku.
"Seenggaknya kamu gak harus takut dipergoki sama akun gosip lagi, Yang," si Babas tersenyum seolah menyindirku.
"Moga aja gak masuk gosip lagi, Mas. Aku cape. Sampe sekarang, masih ada yang nyinyirin aku perkara kemarin," jawabku membuat si Babas menatapku lama.
"Ya... Gitu lah. Ada yang bilang aku cewek gak bener karena ganti-ganti pasangan. Ada yang bilang aku cuma manfaatin Mas doang. Ada yang bilang kalau aku selingkuh. Dan ada yang bilang kala—"
"Serius mereka bilang begitu?" potong si Babas dengan wajah terkejut.
"Mau lihat dm dari mereka?" tantangku.
Si Babas menggeleng. "Mas percaya sama omongan kamu. Maaf ya Yang. Gara-gara Mas, kamu ngalamin ini semua."
"Gak apa-apa Mas. Mas malam ini kenapa kebanyakan minta maaf?" protesku merasa bosan mendengar si Babas terus-terusan minta maaf.
"Ke depannya, Mas pastiin kamu gak ngalamin hal ini lagi, Yang."
"Gak usah janjiin apa yang bukan jadi kendali Mas. Mas sendiri yang bilang kalau Mas gak punya kendali atas mereka, bukan?" jawabku mengingat akan ucapannya saat dia memarahiku.
"Maaf."
Maaf lagi.
"Dari pada Mas minta maaf, kenapa kita gak pulang aja, Mas?" usulku pada si Babas.
Si Babas mengangguk, "ya udah. Ayo pulang," ajaknya seraya mulai menjalankan mobil.
__ADS_1
Aku masih memutar otak, gimana cara ngembaliin buku ini pada tempatnya? Tapi aku juga penasaran dengan curhatan si Babas yang baru sedikit ku baca. Jangan-jangan banyak tulisan tentangku di buku itu. Apa aku harus bawa pulang ke rumah?
"Yang..."
"Yang..."
"Dalem, Mas," reflekku membuat si Babas tersenyum.
"Anggunnya," cicit si Babas dengan suara pelan.
"Ha? Kenapa Mas?"
"Gak apa-apa. Mas suka dengarnya Yang," si Babas tersenyum lagi.
"Dengar apa?" aku melirik si Babas heran.
"Dalem, Mas," cengirnya.
"Oh, refleks. Maaf ya?"
"Kok minta maaf? Mas suka, kok," ujarnya sambil tersenyum lagi.
Aku bingung mau jawab apa. Otakku rasanya mau meledak masih mikirin skenario agar buku ini kembali ke tempatnya.
"Mau langsung pulang atau mau cari makanan dulu, Yang? Kamu lapar lagi gak?" tanya si Babas lagi.
"Pulang aja, Mas. Udah jam segini," balasku.
"Kalau..."
"Hm?"
"Kalau Mas minta ditemani makan, mau? Tadi di acara Ellen, Mas gak makan," ujarnya hati-hati.
"Kok gak makan? Puasa?" sindirku.
Si Babas tersenyum, "enggak. Mas tadi gak lapar. Plus ya... Banyak ketemu orang, jadi banyak nyapa orang juga sampe lupa buat makan," jawabnya. "Tapi kalau kamu keberatan kita pul—"
"Mau makan apa? Emang Mas mau makanan tendaan pinggir jalan?" tanyaku penasaran.
"Hmm... Sekali-kali gak apa-apa kali ya?" tanyanya bimbang. "Kamu ada rekomendasi beli makanan dimana jam segini? Siapa tahu kamu suka beli makan jam segini," tanyanya seperti bingung.
"Junkfood mau? Ada McD yang 24 jam," jawabku merasa kasihan juga melihat wajahnya.
"Boleh, Yang," Si Babas tersenyum lebar. "Daerah mana yang buka jam segini?" tanyanya lagi.
Si Babas kok bawel banget? Kita udah putus tapi sikap dia masih kayak biasa aja. Heran banget. Walaupun sebenarnya ini kesempatan emas buatku agar bisa balikin buku itu.
"Hmm... Bentar, aku cari tahu dulu, Mas," jawabku seraya membuka hape yang kebetulan ada panggilan masuk dari seseorang.
__ADS_1
"Yaaangg... Kok belum pulang jam segini?" suara cempreng Mama membuat si Babas menoleh ke arahku.