Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Ancaman


__ADS_3

Antara percaya dan gak percaya, kini aku duduk berhadapan dengan si Babas Tumbas. Tahu gak di mana? Di restoran Jepang. Untungnya aku gak sendirian. Ada Mbak Retno yang menemaniku. Aku juga ogah kalau mesti berduaan bareng dia. Yang ada bukannya kenyang sama makanan, tapi kenyang makan hati.


Aku gak tahu niat dia ngajak makan siang bareng itu tulus sebagai permintaan maaf atas kesalahpahaman tadi atau ada motif terselubung dibelakangnya. Yang jelas, aku dibuat mengangguk menerima ajakannya.


Apalagi Mbak Retno dengan semangat 45 memberitahu jadwalku hari ini. Sebel banget kan? Gak bisa di ajak kompromi banget punya manager. Padahal tadi aku udah bohong ada keperluan, tapi di patahkan gitu aja sama si Mbak Retno ini.


"Kamu gak makan sashimi-nya?" tanya si Babas memecah keheningan setelah makanan dihadapannya tandas tak bersisa.


Selama makan, dia sibuk sendiri sama makanannya. Sampai kakiku dan Mbak Retno senggol-senggolan di bawah meja karena merasa 'krik-krik' banget suasananya.


Meskipun effort Mbak Retno begitu besar untuk mengajak bicara si Babas. Tapi dijawab singkat, padat, dan jelas. Bikin orang yang dengernya jadi ngenes.


"Dia gak suka ikan mentah, Mas. Makan ikan aja pilih-pilih," bukan aku lho yang jawab. Tapi Mbak Retno.


Si Babas mengernyit, "kenapa gak suka? Bau amis?"


"Iya. Apa lagi kalau Mamanya goreng ikan, habis satu botol pewangi ruangan dia semprot-semprot," Mbak Retno lagi yang jawab. Bagus. Aku emang males ngomong sama ini makhluk.


"Sayang banget. Padahal proteinnya tinggi," balas si Babas melirikku.


Kalau gak doyan mau gimana lagi? Mau makanan itu proteinnya tinggi kek, mau vitaminnya tinggi kek, atau bahkan lemaknya banyak, kalau gak doyan, ya gak doyan. Gak bisa di paksain tho? Sok ngatur banget.


"Tapi sayuran suka kan?" tanya si Babas lagi yang masih aku cueki.


"Wah, jangan di tanya, Mas. Dia sama kambing, sepupuan."


Lhaaa, elo dong Mbak, kambingnya. Kan kita sepupuan. Pengen banget ngakak sambil bilang gitu ke Mbak Retno, tapi lagi jaim mode on.


Lagian si Mbak Retno semangat banget jawab pertanyaan si Babas. Tumben banget. Biasanya dia sibuk makan. Apalagi di resto mahal kayak gini.


Si Babas tersenyum lebar, "bagus lah. Seenggaknya bukan cuma junkfood yang masuk ke perutnya."


Kalau junkfood emang kenapa? Gak bikin kita langsung mati juga kan? Apalagi mie, sosis, burger, mie instan. Beuuhh... Seleraku!


"Emang Mas Tian gak suka junkfood?" kini Mbak Retno balik bertanya.


"Bukan gak suka sih, lebih ke... mmm... Menghindari aja. Sesekali saya makan mie instan juga. Tapi dalam setahun masih bisa di hitung jari," jawabnya sambil memegang ocha miliknya.


Gilaaa... dia bilang apa? Dalam setahun bisa di hitung jari makan mie instan? Aku dalam seminggu gak makan mie, sakau banget lambungku. Pasti meronta-ronta minta diisi micin. Pokoknya micin lovers sini merapat bareng aku.


Jangan deket-deket si Babas. Dari tadi perasaan banyak mojokin aku. Bikin aku gak betah. Kayaknya mending cepat pulang ke rumah, guling-guling di kasur daripada harus senyum palsu kayak sekarang.


"Yang, Mbak ke toilet dulu ya?" Bisik Mbak Retno. Tapi... dia mengedipkan mata padaku. Maksudnya apa sih? Suruh aku nyusul ke toilet?

__ADS_1


"Sama aku?" tanyaku tak paham kodenya.


"Jangan dong. Kamu temani Mas Tian dulu. Nanti Mas Tian nangis kalau ditinggal sendirian," usil Mbak Retno. Si Babas cuma lempeng aja tanpa ekspresi mendengarnya.


Nyebelin banget. Udah tahu aku gak mau berduaan bareng si Babas.


Well, demi menghindari ke-krik-krikan, aku ambil hape di tasku setelah Mbak Retno pergi.


"Boleh saya minta nomor kamu?" tanya si Babas yang ternyata memperhatikanku dari tadi.


"Hm?"


Dia menyodorkan hape-nya, "tulis aja nomor kamu, Yang," ujarnya.


Kasih gak ya? Kalau dia teror aku, gimana? apa... Aku kasih nomor Mbak Retno aja?


"Ini mas," ku berikan kembali hape miliknya.


"Makasih, Yang," lagi-lagi dia tersenyum tipis. "Boleh 'kan kalau aku hubungi kamu?" tanyanya.


Beggo banget ini orang. Harusnya sebelum minta nomor hape tanya begitu dulu. Bukan habis minta nomor baru bilang.


"Boleh kok, Mas."


Tapi nanti bukan aku yang jawab. Sana, ngobrol sama Mbak Retno aja! Sukurin, aku kerjain. Aku gak mau lagi komunikasi apapun sama si lekong ini. Nyeremin.


"Gak apa-apa Mas. Udah biasa kok," potongku. Bosen deh, muter di minta maaf terus. Nyesel kan udah suudzon sama aku? Makanya kalau cemburu tahu tempat, dong!


"Mas... udah lama kenal Mas Andi?" tanyaku akhirnya. Sebenernya bingung mau bahas apa, tapi jujurly penasaran juga sih sama hubungan mereka, siapa tahu dia cerita sejak kapan mereka jadian? Udah ngapain aja? Kan aku juga kepo.


"Lumayan sih. Dari SMP," jawabnya seolah mengingat-ngingat. "Kenapa? kamu naksir dia?" tanyanya sambil menatapku.


"Nggak kok, Mas," jawabku cepat. Gila aja... Aku gak mau cari mati. Baru tanya gitu aja, dia udah siap-siap mau ngegas.


"Baguslah. Jangan coba-coba naksir dia," ujarnya tegas.


Tuh kan. Belum apa-apa udah di ultimatum. Bikin ngeri-ngeri syedeepp. Hatiku jadi ciut lagi.


Untung aja Mbak Retno datang, bikin aku sedikit lega. Saat Mbak Retno duduk, ku injak kakinya sebagai kode. Mbak Retno melirikku sambil melotot menahan sakit.


"Mas... kita pamit ya?" ujarku tanpa basa-basi. Asli aku nyerah berhadapan dengan dia.


"Kenapa buru-buru Yang? Bukannya nanti sore-"

__ADS_1


"Ada yang harus aku beli Mas. Mumpung masih di sini," jawabku sambil menginjak kembali kaki Mbak Retno.


"I-iya Mas. Untuk keperluan endorse. Hehe... Gak apa-apa kan kalau kita pamit duluan Mas Tian?" tanya Mbak Retno kikuk.


"Ya. Saya juga harus kembali ke kantor. Makasih buat waktunya Yayang sama Mbak Retno," ujarnya dengan tangan terulur.


Aku menyambut tangannya, "makasih juga udah traktir kami, Mas, hehe." Buru-buru aku berdiri, biar Mbak Retno gak banyak basa-basi lagi. "Kita pamit ya Mas Tian. Assalamu'alaikum," ujarku. Ku tarik tangan Mbak Retno seraya keluar dari restoran.


"Yang! Apa-apaan sih kamu? Gak ada attitude-nya banget tahu gak?" semprot Mbak Retno sambil menarik tangannya dari peganganku.


"Mbak Retno ngapain coba nyuruh aku berduaan sama dia?" aku tak kalah nyolot.


"Ya masa kamu gitu aja gak paham? Udah tahu dia tuh tertarik sama kamu."


"Tertarik gimana? Mbak Nooooo... Ya Tuhan. Dia tuh pacarnya Mas Andi," ujarku frustasi.


Mbak No menggeplak lenganku, "gila kamu! Jangan bikin gosip yang enggak-enggak! Tahu dari mana kamu?"


"Dari mata kepalaku sendiri lah. Mereka berantem depan aku gara-gara Mas Andi manggil aku, 'Yang'. Si Tian kira aku ada affair sama Mas Andi. Gila dong, dia ketus banget sama aku pas di Oke tadi. Begitu tahu nama asliku Yayang, baru dia minta maaf sama aku."


"Masa sih? Gak percaya aku," sanggah Mbak Retno.


"Kok gak percaya? Mbak No gak ingat sama si Boy temenku yang badannya kekar itu? Macho banget, ganteng juga. Tahunya dia suka batangan kan? Masih inget gak waktu dia curhat sama kita dulu?"


"Iya juga sih." Mbak Retno mengangguk tapi masih terlihat ragu.


"Tadi aja aku di ultimatum sama si Tian. Masa dia bilang 'jangan coba-coba naksir Andi' gilaaaa kan?" ujarku berapi-api.


"Serius?" tanya Mbak Retno menatapku curiga.


"Aku kelihatan bohong Mbak? Gak guna juga aku bohong. Kenapa aku pengin pulang karena aku takut sama dia. Kalau aku di apa-apain sama dia gara-gara dia cemburu gimana?"


Mbak Retno diam. Gak bisa jawab 'kan dia?


"Yowis. Sing penting honor kamu tadi langsung cair. Sampai gak nyangka banget, kita dibayar kontan. Udah kayak ijab qobul aja," cengir Mbak Retno. Tuh kan, urusan duit mah dia ijo banget.


"Baguslah. Aku jadi gak berurusan lagi sama dia," Serius. Aku lega banget. "Eh tapi Mbak..." ku lirik Mbak Retno takut-takut.


"Apa?"


Aku menelan ludah kasar. Bilang Mbak Retno gak ya soal nomor hape tadi?


.

__ADS_1


Pengalamanku kasih nomor hape yang salah sama orang asing yang tiba-tiba ngajak kenalan. Wkwkwkwk...


Asli bestie, dihadapkan dengan orang random kayak gitu bikin ngeri-ngeri syedep. Ada yang sama?


__ADS_2