
Memikirkan hal yang membuatku gila, mendorongku bicara frontal pada si Babas. Tanpa basa-basi, aku mengutarakan pertanyaan yang membuat si Babas tertohok seketika.
Sebenarnya aku malu. Tanpa mukadimah, aku langsung gaspol bertanya gitu aja. Cuma, sudahlah. Daripada nantinya aku malah nething sama si Babas, mending aku tanyakan langsung sebelum semuanya terlampau jauh seperti aku dengan Nico.
"Maksud kamu, Mas ga—"
"Bisx Mas," potongku pelan tanpa pake istilah macem-macem.
Babas mengubah posisinya untuk menghadapku. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu? Apa temanmu yang meninggal itu kayak gitu?" tanyanya.
Aku diam. Aku gak tahu Boy sejenis dengan si Nico atau enggak. Yang jelas, aku sekarang takut dibodohi lagi oleh orang yang dekat denganku.
"Hmm?" si Babas mengangkat kedua alisnya saat aku tak kunjung menjawab.
"Ya Tuhan, Yang... Kamu ragu sama Mas?" tanyanya lagi.
Aku masih diam.
"Kamu berpikir Mas kayak gitu?" si Babas kali ini lebih cerewet.
"Aku cuma takut, Mas. Temanku terlihat normal. Tapi ternyata dia..."
"Mas juga sama Yang..." ujarnya membuatku mengangkat wajah untuk memandangnya.
"Maksudnya? Mas juga—"
"Mas juga takut kamu yang gitu," wajah tengilnya terbit membuatku menatap nyalang ke arahnya.
"Amit-amit! Aku seratus persen cuma suka laki-laki ya!" ketusku.
"Bagus. Jadi suka Mas?"
"Suka!" jawabku cepat. "Eh, apa?" tanyaku seperti orang bodoh sementara si Babas terbahak. Sialan! Malah dikerjain Om-Om.
"Mas juga suka sama kamu. Dan Mas 1000% normal," ujarnya masih dengan senyuman yang melengkung dibibir.
"Mas gak suka laki-laki?" tanyaku sekali lagi.
"Lihat kelakuan Andi aja Mas sering kesel, gimana Mas mau suka yang sejenis Andi," ujarnya.
"Ya itu kan Mas Andi. Siapa tahu Mas suk—"
"For God Sake, kamu kira Mas suka pantat?" sarkasnya dengan wajah frustasi sementara aku malah geli mendengar dia bicara sedikit frontal.
"Kenapa kamu senyum-senyum? Kamu ngerjain Mas?" tanyanya.
"Enggak. Aku malah pengin ketawa Mas bilang sefrontal itu," ujarku sambil menahan senyum. Sumpah, kenapa jadi geli sendiri begini sih? Lihat ekspresi si Babas pas ngomong kayak gitu malah lucu banget.
"Lagian, ada-ada aja kamu. Mas normal Yang. Mas udah lama gak pacaran karena Mas fokus menata masa depan. Bukan berarti Mas jeruk makan jeruk atau suka ganti-ganti pasangan," terangnya membuatku sedikit lega.
__ADS_1
"Percaya sama Mas, ya?" ujarnya dengan suara lembut membuatku salah tingkah ditatap si Babas untuk meyakinkanku.
"Maaf, Mas. Aku cuma takut. Aku... syok aja pas tahu temanku ternyata begitu. Dia sama sekali gak menunjukan kelainan. Makanya begitu aku tahu, aku gak percaya," ujarku.
"Terus kamu jadi takut Mas juga gitu?" tanyanya tepat sasaran. Aku mengangguk tanpa bersuara.
"Kalau kamu tadi bilang amit-amit. Mas juga sama. Amit-amit. Mas cuma suka sama kamu," ujarnya membuat hatiku berdesir.
"Gimbil!"
"Apa?"
"Gombal! Makanya hapalin bahasa gaul!"
"Ya maaf. Mas gak belajar itu. Tadi malam ngerjain koding." Kemudian mengulurkan tangannya untuk menggengam tanganku.
"Udah kan? Gak ada ganjelan lagi di hati kamu? Atau masih ada yang mau kamu tanyain?" tanyanya seraya mengelus punggung tanganku dengan jempolnya.
Aku menatap si Babas ragu.
"Apa?" tanyanya seolah tahu aku masih ingin bertanya. "Tanyain aja daripada ke depannya kamu malah nebak-nebak."
"Mas... punya penyakit berat?" tanyaku hati-hati. "Aku bertanya ya Mas, bukan nuduh," ujarku.
"Kebetulan sekitar lima bulan yang lalu, Mas sudah melakukan full medical check up, hasilnya Mas sehat. Tidak ada indikasi penyakit berat atau penyakit bawaan di tubuh Mas. Sekali-kalinya sakit berat selama lima bulan terakhir, waktu di rawat kemarin," terangnya dengan tenang.
"Maaf," cicitku merasa diingatkan kembali atas sakit yang diderita si Babas kemarin. Itu semua karena kejahilanku juga.
"Aku serius, Mas. Aku lagi takut, tahu!" ketusku akhirnya.
"Iya. Udah? Clear sekarang?" tanyanya lagi.
"Mas beneran suka aku atau aku cuma selingkuhan atau pelarian aja?" tanyaku lagi. Kini aku lebih rileks bertanya. Kalau dipikir-pikir kenapa aku jadi kaya bocil sih? Ah, bodo amat deh. Asal hatiku plong dan bisa melangkah ke depannya dengan ringan.
Babas melepas genggaman tangan kami kemudian menyibit pipiku dengan kedua tangannya. Menarik paksa wajahku untuk menatapnya.
"Ngomong apa?" tanyanya. Aku yang kaget cuma berkedip. "Sekali lagi ngomong gitu, Mas cium kamu, gak dilepasin," gerutunya seraya melepas wajahku kemudian menjauh untuk membenahi posisi duduknya menghadap stir dan berdeham.
"Sakit tahu Mas! Wajahku di tarik gitu!" Ku usap kedua pipiku pura-pura kesakitan.
"Pikiran kamu itu selalu jauuuuhh ke depan. Tapi negatif semua isinya. Coba deh, berpikir yang positif. Kasihan otak kamu kalau diisi yang negatif terus. Kamu juga jadi gak tenang," ujarnya tanpa memandangku sementara aku masih menatapnya. "Kalau Mas jadikan kamu pelarian atau selingan atau apapun itu namanya, Mas gak mungkin ngejar kamu sampe segila ini, Yang. Seumur hidup Mas, ini buat pertama dan terakhir kalinya Mas kayak gini," gerutunya tak henti. Masih tanpa melirikku.
"Mas ngomong sama kaca?" tanyaku. Si Babas melirikku.
"Maksudnya?"
"Ya lagian Mas ngomong lihatnya ke depan gitu," protesku.
"Daripada Mas kelepasan pengin cium kamu," jawabnya membuatku bungkam seketika.
__ADS_1
Ini Om-Om kalau ngomong suka bikin sport jantung. Aku jadi diam salah tingkah. Begitupun si Babas.
"Ehm... Ke rumah Mama sekarang?" tanyanya.
"Em... Mas kenapa gak tanya aku sebelumnya kalau kalian mau datang minggu depan?" tanyaku kembali masuk ke bahasan inti kami. "Kenapa sih, Mas gak bilang dulu?"
"Mas kan tadi bilang sama kamu di telepon," sangkalnya.
"Iya. Tapi kan Mas bilangnya setelah ada keputusan mau datang hari Minggu."
"Terus kapan dong? Kemarin, setelah nganterin kamu pulang, Mama udah di ada di rumah Mas dan Mas cerita sama Mama. Mama excited banget. Langsung bilang hari Minggu ini ke rumah kamu," terangnya.
"Jadi Mama yang pengin? Bukan Mas?"
"Mama yang menentukan harinya dan Mas dengan senang hati," cengirnya. "Kamu kenapa gak mau?" tanyanya.
"Bukan gak mau, aku cuma... kaget aja. Apalagi sebelumnya aku tahu soal temanku itu. Gimana gak pusing coba?"
"Ck... Tapi kan Mas gak gitu, Yang," protesnya.
"Iya, tahu," jawabku pendek.
"Terus gimana? Gak masalah kan kalau keluarga kita ketemu lebih cepat? Lagipula, kita udah sama-sama mau. Kalau diundur lagi, gak menutup kemungkinan kamu akan menghindar lagi dengan berbagai alasan," terangnya jujur.
"Mas takut aku pindah haluan?" tanyaku tengil.
"Iya. Takut kamu malah suka cewek juga," jawabnya yang langsung ku geplak lengannya.
"Sembarangan!" gerutuku. Tapi si Babas malah tersenyum geli.
Cukup legaaa setelah bertanya pada si Babas. Untungnya dia menyikapi kelakuanku dengan kepala dingin. Aku gak kebayang, kalau dia tersulut karena pertanyaanku dan kita jadi berantem hebat karena dia tersinggung. Mungkin, gak tahu bakal gimana hubungan ini.
Tapi dilihat dari sisi kedewasaannya tiap menyikapi masalah denganku, membuatku semakin mantap untuk melangkah dengannya. Tapi... gimana cara aku memberitahu Mama? Aku gengsi kalau bilang duluan sama Mama. Pasti Mama bilang, 'Kaan... Mama bilang juga apa. Dia itu yang terbaik buat kamu', dan ceramahan panjang lebar lainnya.
"Mas... nanti Mas yang bilang sama Mamaku, ya?" pintaku sama si Babas. Siapa lagi coba yang harus bilang selain aku atau dia. Gak mungkin aku nyuruh Mbak Retno. Yang ada nanti dia ikutan ceramah.
"Bilang apa?" tanyanya.
"Kok bilang apa sih?" sewotku.
"Oh buat hari minggu nanti? ya... Iya nanti Mas yang bilang. Kan keluarga Mas yang mau datang," ujarnya mantap.
"Aku gak mau ikutan ngomong lho. Mas tahu sendiri Mama gimana," curhatku padanya.
"Iya. Tenang aja. Nanti Mas pasti bilang. Yuk sekarang?" tawarnya.
Gila... Ngebet banget ni Om-Om...
...Niat hati mau bikin novel BasYang ending di chapter 50an ternyata gagal. Hihi... ...
__ADS_1
...Maafkan aku yang terlalu menikmati kedekatan mereka. ...
...Lanjut terus gak? Atau ku buat ending aja? ...