Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Double Date?


__ADS_3

...Masih bonus bab panjang. Seperti... Ah, sudahlah. Baca dewek. Monggo......


...Eh, ojolali. Doakan aku sembuh ya... Makasih... ...


...✨✨...


...✨...


"Mas ngapain ke sini sih!" ketusku dalam hati sambil menatapnya. Si Babas melihat ekspresi wajahku hanya mengangkat alis sebagai respon.


Moga aja si Babas menangkap sinyalku agar dia segera pulang. Bukan apa-apa, aku cuma takut ketahuan Mas Andi dan Mbak Ellen kalau ada sesuatu diantara kita. Aku takut si Babas gak bisa akting kayak aku. Nanti kalau dia keceplosan gimana? Mau ditaruh dimana mukaku kalau sampai mereka tahu yang sebenarnya?


"Hallo Yang... Sehat?" tanya Mas Andi sambil menyalamiku.


"Sehat Mas. Saya gak perlu tanya kabar Mas kan ya? Dari wajahnya udah kebaca kalau Mas sehat dan bahagia banget," jawabku sambil tertawa.


"Keren. Bisa tahu gitu, Yang. Udah kayak peramal aja," Mas Andi ikut terkekeh. "Oh ya, saya ajak Tian ke sini, biar Yayang gak jadi nyamuk sendirian," Mas Andi menyindirku tanpa basa-basi. "Gak apa-apa kan ya?" tanyanya padaku sambil tersenyum jahil.


Kalau aku bilang apa-apa, emang si Babas bakal di depak dari sini?


"Gak apa-apa dong, Mas. Apa kabar Mas Tian?" sapaku sambil mengulurkan tangan.


"Baik. Saya gak perlu tanya kabar kan ya?" tanya si Babas padaku sambil tersenyum tipis seolah menyindir pertanyaanku pada Mas Andi tadi.


Nyebelin ini orang.


Aku curiga, kayaknya pertemuan ini sengaja direncanakan Mas Andi dan Mbak Ellen. Soalnya, mereka main kode pas lihat aku sama si Babas.


"Belum apa-apa, udah gaspol aja, Yan," celetuk Mas Andi. Si Tian hanya menatap Mas Andi datar.


"Mas tumben gak sibuk? Kok mau aja diseret Mas Andi ke sini?" tanya Mbak Ellen saat si Babas memutar tubuhnya untuk duduk di sampingku.


"Sibuk. Tapi si Andi maksa minta ditemani ke bengkelnya Ko Rudi. Tahunya bengkelnya pindah ke sini," ketus si Babas yang membuat Mas Andi terbahak.


"Daripada nguli terus, Yan. Ngejar apa lagi sih? Duit udah numpuk. Iya gak, Yang?" Mas Andi melirikku sambil tersenyum.


"Aku gak ikutan, Mas. Gak paham," jawabku sambil terkikik.


Hhh... Sedikit lega, si Babas ternyata bisa akting juga tanpa aku briefing terlebih dahulu. Moga aja mulus sampai pulang.


"Bukan perkara duit, Ndi. Tapi tanggung jawabnya juga," balas si Babas sebal.


"Iya deh iya, Pak Bos."


"Lagian, Mas libur sakit cuma tiga hari, masa bayar hutangnya sampe lembur-lemburan begini? Kalau sakit lagi, gimana?" semprot Mbak Ellen.


Sebenarnya, si Babas dikelilingi orang-orang yang care sama dia. Mas Andi, Mbak Ellen bahkan ibunya sendiri memperlakukan si Babas penuh perhatian dengan cara mereka masing-masing.


Aku tahu hal itu, saat si Babas ku tinggal di rumah sakit kemarin. Waktu itu, aku dan Mas Puja dilarang menginap oleh si Babas karena dia merasa gak enak pada keluarga kami. Akhirnya, si Babas sendiri yang menghubungi Mas Andi untuk menemaninya. Tentu saja tak hanya Mas Andi yang datang, Mbak Ellen dan Mamanya juga ikut heboh mengurusnya. Dengan begitu, otomatis aku gak mungkin menampakan diri kembali di rumah sakit. Masa bodoh, kalau aku dibilang tega karena gak menemaninya. Yang jelas, aku dan Tian sudah berkomitmen untuk backstreet dari keluarganya.


"Ada sedikit problem makanya Mas lembur," jawab si Babas datar.


"Beb, kalian belum pesan?" tanya Mas Andi pada Mbak Ellen. "Kok mejanya masih kosong?"


"Belum. Kita baru datang langsung ngobrol," jawab Mbak Ellen membuat Mas Andi menggelengkan kepala.


"Kebiasaan," Mas Andi memanggil salah satu waitress kemudian dengan lancar menyebutkan menu makanan yang ingin dia pesan.


"Sibuk apa sekarang, Yang?" tanya Mas Andi.


"Biasa Mas. Ngendors. Apa lagi dong?" tanyaku sambil tersenyum.


"Wiiihh... Mantap. Makin laris aja nih, Yayang," puji Mas Andi padaku.

__ADS_1


"Kalau endorse gitu sama gak sih harganya?" tanya Mbak Ellen.


"Maksudnya gimana Mbak?" tanyaku tak paham.


"Kan, kadang kamu endorse makanan, pakaian, make up. Itu satu harga?" tanyanya lagi.


"Kamu kayak tanya barang di Miniso aja, pake bilang satu harga," timpal Mas Andi membuat kami tertawa.


"Oh, kalau aku sih satu tarif, Mbak. Yang ngebedain itu, misal tarif story berapa, feed instagram berapa, atau IGTV berapa. Selebihnya, barang apapun yang di endorse sama aja sih."


"Ck! Gak sopan kamu tanya pendapatan orang!" tegur si Babas pada Mbak Ellen.


"Ya maaf, aku cuma penasaran aja Mas. Gak apa-apa kan Yang?" tanya Mbak Ellen padaku.


"Santai Mbak," jawabku kalem.


"Kamu mau open endorse, Beb? Biar Mas yang managerin," timpal Mas Andi.


"Aku harus berguru dulu sama Yayang, dong," cengir Mbak Ellen.


"Nah, itu beda lagi tarifnya Mbak," celetukku membuat semua tertawa.


Dan untuk kesekian kalinya, si Babas membisu saat mengunyah makanan begitu makanan tiba di meja kami. Entah untuk menyempurnakan aktingnya, atau gak berminat pada bahasan kami yang receh. Yang jelas, dia beda banget dengan dua sejoli yang tak berhenti ngoceh di hadapanku.


Aku heran, kenapa si Babas begitu teratur dalam hidupnya? Mbak Ellen — adik kandungnya sendiri — gak begitu. Malah dia terlihat normal daripada si Babas yang kaku kayak patung.


"Eh, habis ini kita nonton yuk, Yang? Mau gak?" ajak Mbak Ellen.


"Nonton apa?" tanyaku.


"Yuk, doctor strange. Aku belum sempat nonton," balas Mas Andi menatap Mbak Ellen penuh harap.


"Enggak, ah. Aku maunya Badarawuhi. Penasaran, serame apa filmnya sampai booming banget," sela Mbak Ellen.


"Ya udah. Kamu aja sendiri yang nonton doctor strange," sewot Mbak Ellen.


"Ck... dari pada itu, kenapa gak Doll 3 aja?" usul Mas Andi.


"Gak. Aku maunya karya anak bangsa. Cintailah produk dalam negeri," jawab Mbak Ellen yang membuatku refleks tersenyum.


Kok malah ingat ucapan si Babas waktu itu sih? Kata-kata Mbak Ellen sama persis dengan omongan si Babas walaupun beda konteks. Kayaknya mereka beneran orang Indonesia asli yang nyangkut di wajah semi bulenya.


Padahal orang Indonesianya sendiri, gak sedikit yang mencintai produk luar negeri dan lebih bangga menggunakannya. Berasa paling keren kalau pakai produk luar. Gitu katanya.


"Apa yang harus di cintai dari produk Indonesia?" timpal si Babas.


Lha... Mancing mania juga si Bapak. Kayaknya dia juga inget obrolan kami waktu itu.


"Banyaklah. Food, film, dan yang paling penting, Mas cari istri orang Indonesia juga dong, gak usah bule-bule. Kan cinta Indonesia," cengir Mbak Ellen melirikku.


Gak usah di gituin, Masmu udah kepelet duluan sama pesonaku, Mbakkk...


Pengin banget bilang gitu sama Mbak Ellen. Tapi harus ku tahan.


"Seperti Yayang, contohnya," timpal Mas Andi. "Eh, Yayang single kan?" tanyanya padaku.


Semua mata otomatis menatapku.


Mampus. Aku harus jawab apa? Bilang single, kalau si Babas tersinggung merasa tak di anggap gimana? Bilang punya pacar, tadi sama Mbak Ellen aku udah menutupi hubunganku dengan kakaknya. Ya Tuhan, masa aku harus bilang—


"Apa sih Ndi, tanya privasi orang begitu!" ketus si Babas.


Syukurlah. Kayaknya si Babas paham kebingunganku.

__ADS_1


"Ya, biar gak salah target, aja. Kan gak lucu kalau ternyata Yayang punya pacar terus pacarnya cemburu karena dia main sama kita. Nanti dikiranya kita lagi double date lagi," jawab Mas Andi santai.


"Gak mungkin!" sela si Tian membuatku otomatis menengok ke arahnya.


"Maksudnya, gak mungkin cemburu kalau Yayang sudah izin duluan sama pacarnya."


Hampir keceplosan kan? Kalau sampai kita ketahuan, lihatin aja! Aku putusin langsung!


"Tenang, guys... Yayang single, kok. Tadi dia bilang sama aku. Iya kan, Yang?" Mbak Ellen melerai si Babas dan Mas Andi yang adu argumen.


"Clear," Mas Andi menjentikkan jarinya kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah si Babas. "Gaspol, Yan!" ujarnya dengan wajah excited.


"Kalian bisa gak kekanakan? Saya sudah biasa menghadapi kelakuan kalian, Yayang belum tentu biasa dengan sikap kalian yang kekanakan kayak gini. Siapa tahu, Yayang malah gak nyaman!" suara si Babas sedikit meninggi membuat Mas Andi dan Mbak Ellen bungkam seketika. Jangankan mereka, aku aja ciut mendengar suaranya.


"Malu sama Yayang kalau sikap kalian masih begini. Mau nikah, bukannya makin berwibawa, Ndi!" sentaknya lagi.


"Emm... Gak apa-apa kok, Mas. Aku enjoy," timpalku untuk mencairkan suasana. Dia kan yang bikin suasana makin gak nyaman? Apa-apaan pake ngomel-ngomel segala? Gak jelas banget!


"Tuh, Yan. Jangan terlalu kaku jadi orang. Yayang aja gak apa-apa. Iya kan, Yang?" sambar Mas Andi. "Kita cuma bercanda ya, Yang. Jangan dianggap serius. Tapi kalau kalian beneran serius, kita pasti dukung."


"Ndi!" si Babas melotot membuat Mas Andi mengunci mulutnya dengan tangan.


"Udah, ah. Ganti topik. Jadi gimana? Kita langsung nonton aja?" tanya Mbak Ellen.


Boleh gak sih kalau aku pengin pulang aja? Tapi kalau pulang, yang ada suasana makin keruh.


"Aku ngikut aja mau nonton apa. Semua film aku suka, kok," Bohongku.


Pasrah deh kali ini, lebih baik aku nonton film horor sambil merem dari pada harus ngobrol dan malah dikorek tentang kehidupanku.


"Yes! Badarawuhi. Let's go!" Mbak Ellen antusias. Kelakuan Mbak Ellen sama sekali gak mencerminkan usianya. Dia kayaknya kekanakan banget, tapi cocok sih dengan pembawaannya yang ceria.


"Beb, kamu udah ambil Mas Kawin kita?" tanya Mas Andi tiba-tiba serius.


"Eh?" Mbak Ellen terlihat kaget.


"Kan! Ayo, ambil dulu mumpung jam segini. Gimana sih kamu? Kalau tokonya tutup gimana? Mas kan udah bilang, sebelum ketemu Yayang kamu ambil dulu,"semprot Mas Andi pada Mbak Ellen.


"Sorry. Aku beneran lupa, Mas," cicit Mbak Ellen.


Menggenggam tangan Mbak Ellen, Mas Andi berbalik menatap si Babas. "Yan, lo pesenin tiket aja dulu. Gue sama Ellen mau ambil Mas kawin bentar."


"Yang, kamu duluan gak apa-apa? Nanti aku nyusul, ya?" Mbak Ellen juga pamit kepadaku.


"Sip, Mbak. Gak apa-apa," Ku acungkan jempolku.


Mas Andi dan Mbak Ellen bergegas meninggalkan kami.


"Ck... Mereka itu..." gumam si Babas yang membuatku melirik untuk menatapnya.


Ya ampun, kenapa sih dia ngomel mulu.


Sadar ditatap olehku, si Babas balas melihatku. Seketika kami tersenyum geli sampai tertawa — menertawakan apa yang kami simpan dari Mbak Ellen dan Mas Andi.


"Kita mau di jodohin, Sayang?" tanya si Babas masih dengan tawanya.


Ha? Dia manggil apa?


...



...

__ADS_1


__ADS_2