
"Kamu mau makan dimana?" tanya si Babas padaku saat kami keluar pagar menuju mobilnya.
Kasihan juga, parkir mobilnya malah di depan rumah tetangga. Untung aja, mobilnya gak baret diisengi orang. Mana mobil keren pula.
Dan, kesan pertama begitu membuka pintu mobil si Babas adalaah... Classy. Iyalah mobil mevvah gitu loh. Tapi serius, begitu masuk ke mobil dia rasanya nyamaaan banget. Bersih, rapi, wangi, keren. Cocok banget sama pembawaan si Tian yang ganteng.
Interiornya juga oke banget. Beda banget sama mobil sejuta umat yang aku pakai. Mana kursinya juga empuk lagi. Fiturnya canggih banget. Aku yang norak, langsung jatuh cinta sama mobil ini.
"Yang, mau makan dimana?" tanyanya lagi.
"Terserah Mas aja. Mas kan yang ajak saya makan," jawabku.
"Maaf ya, saya tiba-tiba datang gak kabarin kamu dulu," ujarnya dengan senyuman. Tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Mas telepon Mbak Retno ya?" tuduhku.
"Yah... Ketahuan deh," si Babas menggodaku.
Apaan sih?
"Kok malah telepon Mbak Retno? Mas kenapa gak tanya saya aja kalau mau ke rumah?" protesku.
"Nanti sama kamu di kasih alamat palsu lagi," sindirnya.
"Ck... Ya eng—"
"Becanda, Yang. Kan biar surprise aja. Tadi kita batal makan siang, kebetulan jadwalku di padatkan. Jadi jam empat sudah beres semua. Dan, saya merasa bersalah sama kamu, makanya saya ke sini," terangnya.
"Surprise sih surprise, Mas. Tapi Mbak No jadi ledekin saya," gerutuku.
"Kok ledekin?" tanyanya heran.
"Ya, Mas pake minta alamat sama dia segala."
Si Babas cuma nyengir, "ya udah, gak apa-apa. Sekarang kita mau makan dimana?" tanyanya.
"Mas kan yang—"
"Oke, yang deket aja ya? Biar efisien waktu. Soalnya kalau kemalaman, takutnya Cinderella-nya berubah lagi," goda si Babas.
Refleks ku pukul lengan si Babas, "enak aja! Saya bukan Cinderella ya!" protes ku yang membuat si Babas terbahak seketika.
Ya Tuhan, sedekat apa sih aku sama dia? Sampai dia tertawa lepas begitu? aku juga bisa mukul lengannya segala. Duh, berani banget ini tangan pukul-pukul lengan orang. Semua gara-gara Mbak Retno, bikin aku ketularan.
"Bercanda Yang," jawabnya membuatku lega. Dia gak marah ternyata.
Jujur aja, ada rasa deg-degan duduk berduaan di mobil mevvah milik si Babas. Kayak mimpi tahu gak sih. Tiba-tiba aja dia ke rumah, terus jalan begini. Di luar ekspetasiku.
"Ehm, diam-diam ternyata ada yang ceritain saya sama Mamanya ya?" goda si Tian padaku.
"Cerita apa?" tanyaku. Aku paham sih, dia mulai nyindir lagi.
__ADS_1
"Cerita sama Mamanya kalau dia salah paham waktu saya minta nomor telepon waktu itu. Sampai Mamanya ikutan minta maaf juga," Si Babas nyengir bahagia.
"Saya gak ceritain Mas ya!" sangkalku. "Mbak Retno yang ngadu sama Mama! Sampai saya di ceramahi Mama gara-gara salah kasih nomor hape doang. Terus mereka suruh saya telepon Mas. Mas gak angkat teleponku. Akhirnya mereka nyuruh saya WhatsApp juga. Dan Mas juga gak bales tuh WhatsApp saya!" ketusku.
Si Babas cuma tertawa. Kayaknya dia seneng banget denger aku menderita. "Maaf Yang. Waktu kamu telepon, saya gak dengar. Terus saya cuma baca sepintas WhatsApp dari kamu karena mau jemput Mama juga. Habis itu, maaf Mas lupa," akunya.
Terserah lah, Bas...
"Jadi... Mama sudah tahu saya dari waktu itu, ya..." goda si Babas lagi dengan senyuman jahil.
Kenapa sih dia centil banget malam ini? Sok akrab banget lagi, kayak kita kenal udah lama aja manggil Mama-Mama seenaknya.
"Saya bilang, bukan saya yang ceritain Mas sama Mama, ya!" protes ku. "Tadi juga Mama kira Mas itu orang lain kan?" belaku membuat si Babas merubah raut wajah jahilnya.
"Em... Yang, kamu lagi dekat dengan orang lain?" tanyanya mendadak serius.
"Iya," jawabku pendek.
Iya kan, sekarang aku duduk dekat orang. Bukan demit.
"Kamu bilang gak sama dia, kalau sekarang lagi jalan sama saya?"
"Belum sempat," godaku.
"Bilang aja sekarang, Yang. Biar saya yang minta izin sama dia," pintanya.
"Ih, ngapain Mas yang minta izin?"
"Gak lah. Santai aja, Mas."
"Oke deh," jawabnya tak kalah santai. Tapi setelah itu, dia diam sampai bikin aku gak nyaman banget. Jadi nyesel godain anak orang kalau bikin suasana awkward begini. Mana di mobilnya pula.
"Kita makan dimana, Mas?" tanyaku memecah keheningan.
"Mana ya? Ada rekomendasi gak? Di daerah sini yang enak makanan apa? Atau kamu lagi pengin makan apa?" tanyanya.
Apa ya? Nasgor sama pecel lele tendaan langgananku sih, ada. Tapi gak mungkin kan aku ajak dia ke sana? Dari penampilannya saja, dia kayaknya gak pernah makan di warung tenda begitu. Aku paham betul, dia kayaknya picky eater. Makan mie aja bisa di hitung jari kan katanya.
"Pizza, steak, gimana?" tanyaku.
Bingung kan, aku gak tahu dia sukanya apa selain sushi dan sashimi. Itu juga karena dia yang bawa aku ke resto Jepang waktu itu.
"Atau mau sushi?" tanyaku akhirnya.
"Gak usah. Kamu kan kurang suka," jawabnya. "Makan yang kamu suka aja, Yang. Atau steak juga boleh. Kamu gimana?" tanyanya.
"Oke Mas," jawabku.
"Tapi kamu beneran makan, kan?" tanyanya untuk memastikanku.
"Iya, Mas."
__ADS_1
"Deal. Kita ke sana saja," jawabnya.
Tiba-tiba aja dia membelokan mobilnya ke salah satu hotel.
"Mas, kok ke sini?" protesku begitu dia memarkirkan mobilnya.
"Loh, kamu gak mau makan di sini?" tanyanya.
Oh, ya ampun... Kirain dia mau seret aku buat bobo bareng. Bodoh banget udah mikir yang enggak-enggak.
"Bukan gak mau, mmm... saya ini biasa banget loh. Takutnya malu-maluin Mas." Resto hotel bintang lima lho ini, sementara aku cuma pakai jumpsuit meskipun masih terlihat semi formal.
"Gak, kok. Kamu cantik seperti biasa," jawabnya bikin aku malu aja. "Tapi kalau kamu gak nyaman, kita cari tem—"
"Gak usah, Mas. Di sini aja," potongku.
"Yakin?" tanyanya.
"Iya Mas."
Tadi katanya biar efisien waktu. Sekarang, dia malah nawarin pindah tempat lagi. Nanti yang ada malah muter-muter gak jelas dan gak jadi makan. Aku sih gak masalah kalau gak makan juga. Tapi kasihan juga kalau dia gak makan. Apalagi dia pulang kerja.
Lho, kok aku mikirin dia sih?
"Yang... Serius kamu sedang dekat sama seseorang?" tanyanya selagi menunggu makanan datang.
Duh, gimana ya? Jujur gak ya?
"Ya, sekarang kan aku lagi duduk dekat Mas, hehehe," jawabku.
Grogi Maa... dilihatin dia terus. Tadi di mobil sih aman, dia lihat jalanan. Lah sekarang? Kita duduk berhadapan gini, dia bisa bebas lihatin wajahku.
"Serius, Yang?" pintanya.
Kenapa setelan wajahnya bisa cepat berubah gitu sih? Tadi cengegesan terus. Sekarang malah serius banget kayak lagi rapat pemegang saham aja.
"Hmm... Ya gitu sih Mas. Teman biasa aja. Sama kayak saya dan Mas gini," jawabku. "Eh, saya sama Mas kan... baru kenal," ujarku.
"Kalau saya gak mau jadi teman biasa gimana?" tanyanya.
"Maksud Mas—"
"Kamu mau gak jadi teman hidup saya? Membina rumah tangga dengan saya?"
HA?
DIA... NGAJAK APA?
.
Gaspooooolllll Baaaassss...
__ADS_1
Yayang harus gimana niiihhhh?