Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Artis Dadakan


__ADS_3

...Siapa kemarin yang minta yang panjang-panjang? Nyooohhh... Aku turutin. Ett... Tapi gak gratis. Ganti sama jempolnya buat teken like, dan komen yang banyak. Mau nyawer juga boleh, hehe. Jangan lupa doain aku biar sehat lagi ya... Mamaciw bestieeee......


...✨✨...


...✨...


"Mas kenapa mau di ajak Mas Andi sih? Mas kan tahu kalau aku mau ketemu Mbak Ellen," protesku sambil menunggu pasangan sejoli yang sampai saat ini belum datang juga.


"Mas gak tahu dia ngajak ke sini. Tadi Andi bilangnya mau ke bengkel. Mas pikir ya beneran ke bengkel, bukan ketemu kalian."


"Emang Mas gak curiga?" tanyaku.


"Enggak. Kenapa curiga?" tanyanya dengan kening berkerut.


"Ya, Mas Andi gak bahas-bahas aku gitu? Atau apa kek yang jadi clue kebohongannya," ujarku masih dengan nada ketus.


"Masa bohong pakai clue segala?" jawab si Babas sambil tersenyum geli.


"Ya, kali aja," aku masih tak mau kalah. Iyalah. Biasanya kan kode-kode dulu gitu. Kayak tadi Mbak Ellen tanya-tanya aku single atau enggak. Tahu-tahu kan dia langsung mau jodohin aku sama si Babas.


"Enggak, Yang. Tadi dia bilang, kalau Ellen lagi ketemu kamu. Tapi Mas cuek aja. Pura-pura gak tahu."


"Kok gitu?" tanyaku.


"Lantas Mas harus gimana? tanya-tanya dia? Nanti dia curiga sama Mas kalau Mas naksir kamu. Terus kamu makin menjadi marah-marahnya sama Mas," ujarnya panjang lebar.


Iya sih.


"Walau sebenarnya Mas gak munafik kalau Mas seneng banget Andi bohongi Mas kali ini," tambahnya membuatku gak paham.


"Maksudnya?"


"Kalau Andi gak bohong, Mas gak mungkin ketemu kamu, Yang," cengirnya.


Dasar buaya! Bikin aku geer aja. Mau gak mah bibirku khianat malah ikutan senyum.


"Iya. Tapi jadi repot, Mas. Mereka mau jodohin kita," protesku lagi.


"Lho, bagus dong. Anggap aja kita deket karena mereka. Jadi kita gak usah backstreet-backstreetan lagi," balasnya tenang.


"Mas! Aku kan udah bilang kalau aku belum siap!" rajukku.


"Terus kamu mau gimana? Pura-pura gak paham maksud mereka yang mau jodohin kita?" tanyanya serius.


"Mau pura-pura gak paham gimana? Mbak Ellen udah bilang sama aku biar kita PDKT-an!"


"Ha?"


"Hah! Hah! Hah!" ketusku.


"Serius? Kapan Ellen bilang?" tanyanya.


"Tadi lah! Sebelum kalian datang," gerutuku. Si Babas malah tersenyum.


"Pinter banget. Ellen kayaknya paham kalau Mas lagi berjuang biar bisa pacaran secara legal," cengirnya.


"Emang kita ilegal? Mana ada pacaran legal! Ngaco banget!"


"Ya, minimal kita gak harus pura-pura kayak begini, Yang. Mas kadang gak paham sama jalan pikiran kamu. Kenapa sih kita—"

__ADS_1


"Mas! Kita udah bahas ini berkali-kali dan Mas terima kan? Kenapa sekarang di bahas lagi?" bentakku tak terima.


Heran deh sama manusia ini. Kukuh banget minta hubungan ini terbuka. Udah aku bilang kan, kalau untuk saat ini aku belum bisa.


Aku belum siap mengarah ke arah pernikahan. Sampe bosen banget aku bilang begini berkali-kali. Aku masih menikmati karirku.


Apa kata followersku nanti kalau aku menjalin hubungan dengan dia? Mereka bisa aja men-jugde aku matre. Mau sama Om-Om karena banyak duitnya. Omongan netizen kan lebih ganas dari kanker.


Dan aku gak terbiasa dapat hujatan. Aku bakal cepet down dan kepikiran terus. Sama kayak awal-awal aku berkarir sebagai influencer. Saat aku mendapat kritikan yang menyerang pribadiku, aku benar-benar down. Malah dulu sampai sakit karena kepikiran omongan mereka. Kalau bukan karena support keluarga dan followers-ku yang mendukungku, mungkin aku gak mau lanjutin lagi.


Dan bukan karena itu aja. Aku tahu kelemahanku sendiri. Makanya untuk saat ini, aku menghindar untuk terjerumus pada kelemahanku itu.


"Oke. Maaf kalau Mas bahas lagi," jawabnya. Raut wajahnya langsung berubah saat ku bentak barusan. Akhirnya si Babas benar-benar tutup mulut membuatku canggung dan merasa bersalah karena sudah membentaknya.


"Mereka kemana sih, Mas? Kok lama banget?" tanyaku berusaha membuatnya biasa lagi.


"Coba Mas telepon," ujarnya sambil mengeluarkan hape dari saku celana. Aku hanya memperhatikannya bicara. Kasihan juga sih si Babas jadi pacarku. Dia gak bebas melakukan apapun yang dilakukan orang-orang saat pacaran.


Dia gak bebas pegang tanganku. Dia gak bebas rangkul aku atau melakukan kontak fisik bentuk apapun denganku. Eh tapi, selama ini si Babas gak pernah kurang ajar sih. Entah itu di tempat umum atau lagi berduaan. Dia benar-benar menjaga kehormatanku. Sekali-kalinya dia berani merangkulku waktu di rumah sakit aja. Itu pun karena aku membantunya ke kamar mandi. Dan berani pegang tanganku pas aku pukul lengannya dulu. Bukan sengaja pegangan tangan kayak aku dengan mantan-mantanku dulu.


"Kak Yayang... Boleh foto bareng?" tiba-tiba suara gadis remaja membuatku tersentak kaget.


"Eh, hai..." sapaku sambil tersenyum.


"Boleh minta foto kan, Kak?" kini teman gadis tersebut ikut bersuara.


"Boleh dong. Tapi kenapa sih mau foto bareng? Kan aku bukan artis," tanyaku usil.


"Kakak kan selebgram. Aku suka deh sama Kakak. Lucu banget kalau lagi ngendors. Gak bikin bosen," ujarnya.


"Iya Kak. Aku malah suka ikut-ikutan beli make up yang kakak review," tambah si gadis yang satunya.


"Beli dasternya, gak?" tanyaku sambil tersenyum.


"Nanti beli, ya? Buat Mamanya boleh tuh," usulku. "Yuk, sini kalau mau foto bareng," ajakku pada mereka berdua.


"Sini biar saya yang fotoin," timpal si Babas tiba-tiba. Dari tadi dia hanya memperhatikan interaksi kami.


"Asyik. Makasih ya, Kak," ujar salah satu gadis sambil menyodorkan hapenya pada si Babas.


Gak sekali dua kali aku dimintai foto bareng saat lagi jalan begini. Bahkan, ada juga yang minta tanda tanganku. Terharu banget sih, ada yang mengenaliku. Ada yang mau menyapaku juga kayak gini. Berasa artis beneran. Dan kebanyakan yang minta foto begini anak ABG. Eh, ibu-ibu juga banyak sih.


Malah pernah sekali, aku di minta mengelus perut ibu hamil katanya biar anaknya mirip aku. Mending kalau calon anaknya cewek, kalau cowok, masa mau mirip aku? Sebenarnya mau mirip gimana ya? Aku aja gak nyumbang apa-apa saat mereka lagi proses penyatuan. Haish! Kok malah ngelantur.


Untungnya kali ini, aku jalan malam hari. Jadi gak begitu banyak orang yang seliweran. Coba kalau siang hari, biasanya satu orang yang minta foto malah merambat sama yang lainnya kayak lagi jumpa fans dadakan.


"Kakak, pacar barunya Kak Yayang, ya?" tanya dua gadis itu saat mengambil hape miliknya.


Si Babas tersenyum.


"Iih... Kepo ya? Mau tahu ya?" jawabku sambil tersenyum. "Ssstttt... Rahasia," jawabku lagi.


Aku udah biasa ditanya-tanya begini. Gak di dm, gak secara langsung. Selalu aja ada orang yang terang-terangan menanyakan hubunganku dengan orang sedang jalan bersamaku sekalipun itu kakak kandungku sendiri. Masih aja ditanya-tanya.


Kadang heran, orang-orang kok gak malu ya, bertanya soal privasi orang lain. Aku juga sering sih kepo, ingin tahu tentang orang lain. Tapi gak pernah sampai mengutarakan secara langsung dan blak-blakan bertanya sama orang itu.


Yang lebih jahatnya lagi, kalau tangan mereka tanpa segan memaki atau mencela dengan bahasa kasar. Kok bisa sih? Tangannya sejahat itu menuliskan kata-kata umpatan kayak gitu? Aku gak bisa lho. Sekalipun aku benci atau gak suka, paling cuma bisa misuh-misuh sendiri. Gak bisa sampe nyakitin nulis hujatan segala. Demokrasi bukan begitu tsaaaay... Itu mah membunuh karakter seseorang tanpa disadari.


"Oh, begini ya kalau jalan sama artis," ujar si Babas sambil tersenyum setelah dua remaja itu pamit dari hadapan kami.

__ADS_1


"Artis apaan sih, Mas!" dumelku. "Mas kayak baru tahu dunia entertain aja," tambahku.


"Tahu sih. Tapi gak pernah ngedate sama artis. Jadi baru tahu rasanya jadi tukang foto dadakan," cengir si Babas membuatku ikut tersenyum juga.


"Gimana emang rasanya Mas?" tanyaku.


"Ada manis-manisnya," jawab si Babas sambil terkekeh.


"Heh! Itu iklan. Katanya gak pernah nonton tv," sindirku.


"Mas tahu dari anak-anak kalau becanda kadang ada yang bicara begitu," ujarnya.


Iya deh, iyaaa. Pak Bos yang mega super sibuk sejagat raya yang pritif, gak punya tv sampe gak tahu apa-apa.


"Btw, Mas. Mas Andi sama Mbak Ellen kenapa belum datang?" tanyaku.


"Andi sama Ellen kayaknya sengaja ngerjain kita, Yang," jawab si Babas.


"Tadi pas Mas telepon, mereka bilang langsung pulang. Alasannya karena takut cincin mereka hilang kalau mereka nonton dulu. Padahal Mas tahu maksud mereka. Biar Mas bisa PDKT sama kamu," si Babas tersenyum miring.


"Padahal gak perlu repot jodohin kita ya, Mas. Kita aja udah pacaran, kok," timpalku.


"Akhirnya di akui," si Babas tersenyum lebar lagi.


"Diakui apa?"


"Akhirnya kamu bilang sendiri kalau kita pacaran," ujarnya.


"Apaan sih, Mas? Gak jelas banget," Malu banget, dari tadi dia sindirin terus. Emang aku sejahat apa sih sampe gak mengakui? Kan aku udah bilang, cuma belum bisa seratus persen terima dia. Bukan berarti aku gak terima dia. Gitu-gitu juga dia suka mampir di pikiranku.


"Jadi, kita mau gimana? Lanjut nonton atau..."


"Pulang aja Mas. Gimana?" potongku.


"Eh? Mas kesini bareng Andi, Yang. Mobil Mas masih di kantor."


"Mau aku antar Mas pulang dulu?" tanyaku.


"Nggak. Mas aja yang antar kamu, ya? Biar nanti Mas naik taksi aja," jawabnya.


"Gak apa-apa, Mas. Aku antar aja."


Kan aku gak tega kalau nanti dia malah naik taksi.


"Yang, dari sini ke rumah kamu itu lumayan jauh. Biar Mas yang antar kamu pulang dulu. Kamu gak usah mikirin Mas pulangnya gimana, Mas laki-laki." ujarnya tegas.


"Tap—"


"Untuk kali ini, Mas gak mau dibantah. Oke?"


Aku hanya mengagguk. Antara takut tapi juga seneng sama sifat si Babas yang bisa tegas begini. Aku suka lelaki yang berprinsip kayak si Babas. Yang bisa melindungi wanita, sekalipun dia harus mengorbankan dirinya untuk membuatku aman. Eh, kenapa aku jadi puji-puji dia?


"Yang, hape kamu bunyi?" tanya si Babas.


"Oh, aku gak sadar, Mas," cengirku sambil mengambil hape dari tas.


Melirik si Babas, aku mengangkat telepon Mbak Retno, "bentar, Mas. Mbak Retno telepon."


"Yaaaanggg... Kamu dimana? Kok sama Mas Tian? Pantesan kamu masuk aku Lambe, Yang...Yang..." ujar Mbak Retno tanpa memberi jeda untuk aku menjawab ucapannya.

__ADS_1


"Ha?"



__ADS_2