Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Over Thinking


__ADS_3

Sudah dua minggu pasca aku diomeli Mama dan Mbak Retno untuk minta maaf sama si Babas Tumbas, sudah dua minggu pula WhatsApp-ku di anggurin. Di-ang-gu-rin pemirsa.


Sialan emang si Tian itu!


Dia niat ngerjain aku ternyata. Biar aku malu plus diomeli habis-habisan sama Mama dan Mbak Retno kali ya? Sampe aku dipaksa minta maaf sama dia tapi gak ditanggapi sama sekali. Ngenes kan!


Udah ketus, belok, sombong, idup lagi! Kenapa manusia-manusia yang sifatnya kayak gitu malah dikasih wajah tampan dan mapan? Seakan mendukung sekali kalau mereka itu 'mahal'. Merasa dirinya paling "WOW" dari orang lain.


Dan herannya lagi, kenapa pula orang yang kayak gitu banyak di agung-agungkan? Dibilang cool, atau keren oleh sebagian orang. Padahal sejatinya mereka itu tidak menghargai orang lain. Definisi lelaki menyebalkan versi aku, ya...yang begini.


Sebenernya, aku udah lupa sama si Babas itu. Malah aku bersyukur banget, dia gak menghubungiku. Itu artinya, aku bisa hidup tenang tanpa harus basa-basi dan mengeluarkan bakat aktingku untuk beralasan dan menebar senyum palsu.


Tapi, tiba-tiba saja Mas Andi mengajakku bertemu. Otomatis otakku ingat kembali sama si pacar posesifnya itu. Jangan-jangan Mas Andi sudah dapat laporan dari si Babas Tumbas perkara kebohonganku. Gimana kalau ucapan Mbak No bener terjadi, kalau tiba-tiba aku di cut jadi BA HPEC?


Jujur aja, berkecimpung di dunia seperti ini tuh benar-benar harus kuat mental. Betul kata Mbak Gita waktu itu, kita harus benar-benar menjual diri. Dalam artian, harus menunjukan bakat dan prestasi. Meskipun sebagian orang malah diperkuat oleh relasi. Gak sedikit juga yang suka jilat sana-sini. Malah, saling sikut dan menjatuhkan itu menjadi hal lumrah demi popularitas. Bukan cuma itu, terkadang sebagian dari mereka juga melakukan settingan, ya karena itu tadi hanya demi sebuah popularitas. Miris.


Tapi aku gak gitu. Sama sekali memulai semuanya dari nol. Merangkak sedikit demi sedikit tanpa satu pun relasi atau menjilat sana-sini. Makanya, aku harus menjaga apa yang sudah aku raih saat ini. Kan katanya, semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Apa masalah ini termasuk angin kencang untuk karirku?


Kalau boleh menarik ke belakang, aku mending gak kenal sama sekali dengan lekong itu. Baru pertama kali ketemu, langsung bikin hidupku gonjang-ganjing.


Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga. Asli. Aku sampai gak paham sama hidupku,  kenapa jadi ruwet begini sih? Aku takut si Babas Tumbas pakai cara halus untuk menjatuhkanku. Tapi masa iya, pihak HPEC gak profesional? Aku kan gak terlibat skandal ataupun bermasalah dengan hukum.


Yang kamu bohongi itu BOS OKE.COM, YANG!


Tuh kan, suara Mbak Retno terngiang lagi di kepalaku. Aku yang lagi berjalan ke meja Mas Andi, rasanya jadi mules gak karuan. Dari semalam udah kepikiran terus mengingat pertemuanku dengan Mas Andi hari ini. Sementara Mbak Retno malah biasa aja. Iyalah, dia mana peduli. Kayaknya dia bakal bahagia kalau aku dipermalukan mereka.


Bahkan lambaian tangan Mas Andi membuatku semakin gugup untuk mendekatinya. Ku lihat wajahnya semakin berkharisma. Beda ya, yang kebutuhan lahir batinnya terpenuhi seperti Mas Andi ini. Auranya sampe aur-auran.


"Hai, Yang, Mbak Retno... Apa kabar?" sapa Mas Andi padaku.


"Sehat, Mas. Mas Andi apa kabar?" sapaku balik.


"Sehat, dan bahagia dong," jawabnya disertai tawa.


Bahagia banget yang punya pasangan. Jadi iri, eewwww...


"Sorry kalau saya bikin kaget tiba-tiba hubungi kamu, Yang. Gak keberatan kan?"


"Enggaklah Mas. Masa sih keberatan,"


Semua itu bohong. Gak pake owuouwoo kayak lagu loh. Jelas-jelas dari kemarin dilanda cemas, deg-degan bahkan sulit tidur setelah dia hubungi. Pinter banget sih aktingku, mulut sama hati bisa gak sejalan gitu.


Tapi kan gak mungkin juga kalau aku bilang keberatan. Nanti dia bilang, aku gak tahu diri lagi.


Untungnya ngobrol basa-basi dengan Mas Andi itu menyenangkan. Apalagi melihat wajahnya yang adem banget kayak ubin mesjid, kecemasan dan ketakutanku sedikit mencair.


"Ehm... To the point aja ya Yang, saya ngajak kamu ketemu, sebenarnya ad—"


"Hai, sorry banget aku terlambat," ujar seseorang yang membuat atensi kami teralih.


Aku dan Mbak Retno saling lirik melihat seseorang yang sedang cipika-cipiki dengan Mas Andi.

__ADS_1


"Akhirnya, datang juga," Mas Andi tersenyum lebar. "Maaf juga aku gak bisa jemput, Beb," lanjutnya seraya menarik kursi untuk mempersilahkan wanita cantik duduk di sampingnya.


Dia siapa sih? Pacar Mas Andi yang baru? Kok manggilnya Beb? Jangan-jangan namanya Baby lagi, sama kayak aku yang seolah-olah nama panggilan sayang.


Atau... Mas Andi player juga? Aku lihat, Mas Andi tiap ketemu cewek gak cukup jabat tangan, mesti aja cipika-cipiki. Tipikal pria genit berduit. Untung aja dia dianugrahi wajah ganteng. Bukan Om-Om berperut buncit dan berkepala licin.


"Hai, ini pasti... Mbak Yayang?" sapa cewek itu padaku.


Aku mengangguk sambil menerima uluran tangan. "Betul Mbak, Mbak..." jawabku bingung. 


"Kenalkan, saya Ellen," ujarnya ramah yang langsung beralih ke Mbak Retno untuk mengenalkan dirinya.


Kok dia tahu namaku? Emangnya dia kenal aku? Tapi aku gak kenal dia kok. Ya Tuhan... Gak mungkin. Gak mungkin kan dia yang bakal gantiin aku jadi BA HPEC?


"Kenapa Yang? Kok, bengong," goda Mas Andi padaku.


"Eh? Hehehe... Gak apa-apa Mas. Saya cuma... mmm... kagum aja. Mbak Ellen cantik banget," jawabku.


Asli. Dia emang cantik banget. Cuma aku gak rela kalau nanti dia yang menggeser posisiku.


"Iya dong. Calon istri siapa dulu," jawab Mas Andi bangga.


"Hah? Serius calon istri Mas Andi?" tanya Mbak Retno terdengar sedikit histeris.


"Ya iyalah. Masa saya ngaku-ngaku depan orangnya," Mas Andi tertawa riang. Asli, kayaknya bahagia banget.


Tapi Mbak Ellen tiba-tiba menyikut lengan Mas Andi, "belum resmi ya Hon," ujarnya seraya melirikku.


Kok aku jadi bingung sih?


"Ya kan, baru mau minta tolong sama kalian," ujar Mas Andi.


"Hah? Maksudnya gimana Mas?" tanyaku.


"Kamu belum bicara, Hon?" tanya Mbak Ellen pada Mas Andi.


"Baru mau ngomong. Tapi kamu keburu datang, Beb," jawabnya sambil melirikku.


Jadi ini bukan perkara penggantian BA kaan?


"Langsung ke intinya saja ya Yang. Mmm... Jadi gini, saya sama Ellen mau... tunangan. Nah, karena kita maunya privat party. Maksudnya yang sederhana saja karena cuma dihadiri keluarga inti dan sabahat dekat. Dan kita mau acaranya santai. Bukan yang formal-formal banget gitu lho, Yang. Paham kan maksud saya?" tanya Mas Andi yang membuatku refleks mengangguk.


"Maka dari itu, Saya dan Ellen sepakat meminta kamu untuk jadi MC di acara kami," ujar Mas Andi seraya menatapku.


"Jadi Mbak Ellen bukan untuk mengganti saya jadi BA kan Mas?" tanyaku yang langsung mendapat injakan kaki dari Mbak Retno.


Sakit, Bestie!


"Ha?" Mas Andi bengong. Kemudian dia tertawa, "Siapa yang mau gantiin kamu emangnya Yang?" tanya Mas Andi masih tertawa.


"Maksudnya saya jadi Brand Ambassador?" kini Mbak Ellen yang bertanya.

__ADS_1


Mampus. Kan, malu-maluin ini mulut.


"Hehe... Maaf Mas. Soalnya Mbak Ellen cantik banget, saya pikir—"


"Dia selalu gitu lho Mas. Over thinking. Punya ketakutan berlebih gitu. Belum apa-apa, dia selalu mikirin hal buruknya duluan," potong Mbak Retno yang membuatku meringis malu. Bukannya belain malah sengaja bikin malu aku.


"Tenang Yang. Tenang. Gak ada yang mau gantiin posisi kamu. Kamu udah pas jadi BA buat tipe smartphone itu," ujar Mas Andi. "Lagi pula, dia mana mau jadi BA," ejek Mas Andi seraya melirik Mbak Ellen.


Ah... Syukurlah.


Lega.


Legaaaa bangeeetttt...


"Maaf Mas. Duh... saking terpesonanya sama Mbak Ellen saya jadi ngaco begini. Maaf ya Mas, Mbak."


Sumpah, pengin masuk liang rasanya. Malunya gak ketolongan. Ketara banget kan kalau aku takut disangi.


Untungnya respon Mas Andi dan Mbak Ellen cuma ketawa geli melihatku.


"Mbak Yayang lucu loh, Hon. Bener kata kamu, kayaknya bakalan cocok," Mbak Ellen masih tertawa melihatku.


"Aku bilang juga apa," Mas Andi juga menatapku. Asli, mukaku mau di taruh dimana ini?


"Pokoknya begitu, Yang. Tujuan saya ngajak kamu bertemu hari ini. Saya dan Ellen mau minta tolong buat jadi MC di acara kami. Soalnya, saya tertarik pas saya saksikan kamu siaran waktu itu, asyik aja gitu. Mengedukasi orang, tapi cara kamu jelasinnya beda. Saya sampai kepikiran gimana kalau acara saya nanti juga terkesan beda kalau kamu yang MC-in" lanjut Mas Andi yang membuatku terbang melayang karena pujiannya.


"Acaranya kapan Mas?" tanya Mbak Retno.


"Minggu depan. Nanti saya kirimkan rundown acaranya deh ke kamu. Bisa kan?" tanya Mas Andi.


"Siap. Bisa Mas. Kebetulan banget minggu depan free. Tadinya Yayang sama saya mau liburan gitu. Tapi khusus buat Mas, InsyaAllah kami siap," jawab Mbak Retno lugas.


"Dari kamunya deh, Yang. Mau kan?" tanya Mas Andi. Kayaknya dia bosan kalau Mbak Retno terus yang jawab.


"Hah? i... Iya Mas. Saya mau banget Mas. Suatu kehormatan buat saya bisa turut andil dalam kebahagiaan Mas Andi," jawabku.


Walau hati kecil ada rasa kecewa dia gak pilih aku. Padahal aku udah geer tiap Mas Andi melirikku. Hiikss...


"Ah, syukurlah. Terima kasih ya Mbak Yang," kini Mbak Ellen tersenyum lembut padaku.


"Panggil Yayang aja, Mbak," jawabku sungkan.


"Oke. Biar ikrib ya Yang," Mbak Ellen tertawa renyah. Tawanya bener-bener nular banget. Bedalah kalau orang cantik yang ketawa. Kayaknya bikin dunia berseri indah.


Kalau di lihat-lihat, Mas Andi dan Mbak Ellen serasi banget. Tatapan keduanya itu lho, kayaknya full of love gitu. Eh, kalau Mas Andi sama Mbak Ellen, gimana nasib si Babas Tumbas ya?


.


Hollaaaaa....


Selamat hari raya idul Adha bagi jmat muslim seduniaaaa....

__ADS_1


Yuk, bantu vote dan meriahkan komennya. Terima kasih.


Sarangbeooooo....


__ADS_2