Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Debat


__ADS_3

"Saya juga gak suka kamu dekat dengan cowok lain, Yang. Apalagi, Mamamu sendiri yang bilang," ujarnya.


"Mama bilang apa?"


"Ya, tadi pas saya datang. Mamamu kira, saya ini teman model-mu itu," sungutnya.


"Cuma itu?" tanyaku lagi.


"Ya. Entah kenapa, saya gak suka dengarnya, Yang. Kalau begitu, Mamamu juga tahu 'kan sama cowok itu? Maksud saya, Mamamu tahu kalau kamu sedang dekat sama dia," keluhnya.


"Mas, saya tuh jarang banget cerita ini itu sama Mama kalau bukan Mbak Retno yang ceritain. Pokoknya semua tentangku, Mbak Retno yang lapor ke Mama. Dan akhirnya, ya udah. Saya jujur aja ke Mama pas Mama tanya-tanya. Meskipun yang saya bawa ke rumah itu, orang-orang tertentu. Bukan berarti semua cowok yang di ceritain Mbak Retno, saya kenalin ke Mama. Gak lah. Untuk urusan itu, saya tahu mana yang harus saya kenalkan,mana yang cuma sekedar teman bagi saya. Tapi ya gitu, Mama selalu tahu saya sedang dekat dengan siapa. Dan saya juga lupa bilang ke Mama kalau kami sekarang gak sedekat kemarin," ceplosku.


Sudut bibir si Babas terangkat saat mendengar penjelasanku.


"Jadi, saya termasuk orang tertentu?" tanyanya.


Wajahnya kenapa bisa kayak bunglon gitu sih? Sebentar serius, sebentar kesal, sekarang malah terlihat jahil.


"Maksudnya?"


"Kan saya kenalan sama Mama kamu? Jadi saya termasuk orang-orang tertentu versi kamu itu," jawabnya dengan senyum tipis.


"Ya enggak lah! Mas kan datang sendiri. Bukan saya yang kenalin."


"That point. Saya maju duluan tanpa harus kamu kenalin. Saya berani mengenalkan diri saya sendiri, itu tandanya saya serius," ujarnya.


Ini orang kenapa pede banget?


"Hmm... Tapi maaf, saya gak bisa, Mas. Maksud saya, saya gak bisa terima ajakan Mas," tolakku.


"Kenapa?"


"Kok kenapa sih Mas? Kita baru kenal lho Mas. Komunikasi aja baru semalam."


"Memang kenapa kalau komunikasi baru semalam? Kamu gak percaya sama saya?" tanyanya.


"Ya iyalah," jawabku cepat. Duh mulut, jujur banget sih.


"Kenapa? Kamu sudah bertemu dengan Mama saya. Kamu juga kenal adik saya dan calon ipar saya. Kamu sudah tahu keluarga besar saya. Kamu juga tahu rumah saya, kam-"


"Saya gak tahu Mas. Saya gak kenal Mas lebih dekat. Saya gak tahu sifat asli Mas kayak gimana. Saya juga gak tahu Mas ini player atau bukan. Bisa jadi kan, Mas bukan cuma ngajak saya untuk membina rumah tangga. Saya kan gak tahu," selaku.


"Saya sudah lama gak berhubungan dengan wanita, Yang. Kalau kamu mau tahu tentang saya, biar saya jelaskan dari hal basic. Nama lengkap saya Sebastian Budi Oetomo. Usia saya 35 tahun. Saya alum-"

__ADS_1


"Bukan soal profile begitu, Mas!" protesku. Masa umur segitu yang dibahas biodata! Emangnya kita mau ta'arufan?


"Terus kamu mau tahu saya tentang apa?" tanyanya.


"Duh, gak tahu Mas. Saya pusing," keluhku.


"Oke. Santai, Yang. Minum dulu," titahnya.


Aku menuruti anjurannya. Buru-buru ku tandaskan isi gelasku. Pening banget rasanya. Sampai aku gak bisa berkata-kata lagi.


"Udah jam segini, Mas," ujarku setelah gak sengaja melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Oh, gak kerasa ya Yang," cengirnya.


Ndasmu gak kerasa! Selama dua jam, diisi oleh argumen masing-masing yang bikin aku emosi jiwa sama kelakuannya. Tapi dia kayaknya menikmati banget perdebatan kami. Sementara aku sendiri di buatnya gerah.


"Ya udah. Yuk, pulang," ajaknya. "Saya gak mau first impression saya jelek di depan Mamamu," tambahnya.


Ya Tuhan, ini orang gak jauh beda sama Mama. Menjunjung tinggi harga diri dan penampilan.


"Besok udah mulai kerja?" tanya si Babas sambil menjalankan mobil.


"Gak tahu, Mas. Saya sengaja gak tanya-tanya Mbak Retno, takutnya dia malah terbebani gitu lho. Sementara kalau ngendorse kan santai gitu. Jadi, ya udah, nunggu dia sembuh aja dulu," jawabku.


"Bagus lah. Kamu juga bisa pertimbangkan tawaranku tadi," ujarnya.


"Mas-"


"Oke Yang. Kamu pikirkan saja dulu," ujarnya menenangkanku.


"Mas. Nikah itu bukan perkara mudah-"


"I know," potongnya.


"Terus... Yang paling penting bagi saya untuk naik pelaminan ya harus di mulai dari saling mencintai Mas. Sementara kita-"


"Makanya, saya sudah tertarik sama kamu dari awal. Saya suka kamu yang tegas menghindari saya. Gak mandang saya dari jabatan atau rupa saya," ujarnya dengan percaya diri.


"Sekalipun kamu jutek sama saya. Tapi kamu menarik di mata saya. Apalagi kalau kamu sedang bingung, itu bikin saya gemas," si Babas tersenyum tipis.


"Hilih gimbil," gerutuku.


"Apa tuh?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Gombal! Masa gitu aja gak tahu!" ketusku.


"Saya gak gombal. Gombal itu kan bohong. Sementara saya mengutarakan apa yang saya rasakan."


Duh, ini orang harus di buat jera kayaknya. Sengaja ku lipat sebelah kakiku kemudian duduk menyamping menatapnya biar si Babas makin ilfil. Tapi dia hanya melirikku sepintas. Kayaknya gak peduli.


"Mas, sudah saya bilang kan? Perkara nikah itu bukan perkara mudah. Sama sekali gak ada dalam pikiran saya untuk menikah sekarang-sekarang," tegasku.


"Kenapa? Masalah cinta lagi?" tanyanya.


Ya iyalah! Emang masalah apalagi? Ngapain nikah kalau gak saling mencintai? Aneh banget.


"Ya bukan itu aja, Mas!" ketusku.


"Terus apa? Yang jelas dong. Kita urai satu-satu masalahnya kemudian kita pecahkan sama-sama, Yang," ujarnya lembut.


Aku hanya mendengkus sebal. Kenapa sih dia bebal banget?


"Oke. Yang pertama masalahnya apa?" tanyanya melirikku sepintas lalu menatap jalanan kembali.


"Kita baru kenal," jawabku cepat.


"Kenapa kalau kita baru kenal?" tanyanya.


"Ya, saya gak kenal sama Mas. Sifat Mas kayak gimana. Kelakuan Mas kayak gimana. Kan saya udah bilang tadi!" ketusku lagi. Kok kayaknya dia gak paham-paham sih!


"Saya orangnya mudah di cintai, Yang. Pertama, dari segi penampilan. Kedua, dari segi finansial. Ketiga, saya orangnya gak ribet. Saya gak suka buang-buang waktu. Ke empat, saya orangnya jujur. Kalau saya suka, saya bilang suka. Kalau enggak, saya juga pasti jujur kalau gak suka. Simple," jawabnya kalem.


"Sudah berapa wanita yang Mas ajak nikah? Kok lancar banget kayaknya," sindirku.


Dia melirikku kemudian menggeser lighting ke bahu jalan.


"Mas, kok berhenti?" tanyaku heran. Jangan-jangan dia tersinggung terus nyuruh aku keluar mobilnya lagi.


Ah, masa bodo!


"Yang, dengar. Di usia saya ini, saya cuma pacaran 2x. Yang suka sama saya, banyak. Maaf bukannya sombong. Tapi, saya gak sembarangan ngajak orang pacaran apalagi nikah. Betul kata kamu, nikah itu rumit. Justru itu, saya merasa menemukan kemudahan dengan kamu. Tiba-tiba aja saya merasa klik sama kamu. Tiba-tiba saja hati saya yang bilang bahwa kamu yang selama ini saya cari. Kalau saya mau main-main, saya bisa saja cari yang lain. Banyak kok yang dekati saya. Dari mulai anak pejabat sampai artis yang seliweran di televisi. Tapi bukan mereka yang hati saya mau. Dia milihnya kamu," ujarnya menggebu sambil menatapku lekat.


Terus aku kudu piye tho Maaaasss?


.


Bagi sebagian orang, dilakar itu menyenangkan. Tapi karena ini si Yayang yang super ribet dengan isi pikirannya sendiri, yaaaa... gitu deh.

__ADS_1


Kira-kira si Babas bisa meluluhkan hati Yayang, gak?


jangan lupa bantu vote, dan komen yang meriah, Bestieeee


__ADS_2