
...Ada yang nungguin Yayang Babas gaaakkk? ...
...Maaf agak lama. Lumayan sok sibuk nih, bolak balik sekolah sama rumah sakit. Doain kami sehat selalu yaa.... ...
...Terima kasih... ...
...Biar gak lama, nyoohh... Yayang Babas minta dikunjungi. Jangan lupa mampir ngetik komen. Nyang mau absen di igeh juga bole. Cuuusss.... ...
...✨✨...
...✨...
Ternyata meliburkan diri saat patah hati adalah pilihan yang salah. Harusnya, aku tetap menyibukkan diri agar lebih produktif dan pikiranku tetap waras. Tapi karena gak ada kerjaan, otakku malah terus memutar memori tentang si Babas.
Bukan aku menyesal karena putus dengannya, bukan. Tapi karena aku masih gak menyangka kalau aku dicintai seseorang demikian rupa sampe dia nulis di buku segala. Kayak abege jaman dulu yang kalau curhat pake buku diary terus buku diarinya pake gembok gitu lho. Bedanya, dia nulis dibuku saku, buat nulis catatan-catatan penting.
Emang sih, cara seseorang untuk mencurahkan isi hatinya itu berbeda-beda. Mungkin, Tian lebih nyaman cerita sendiri pada bukunya daripada harus berbagi pada Mas Andi sahabatnya sendiri.
Tentu saja aku salut dengan caranya. Tak hanya gentar mengejarku, Tian malah bercerita tentangku di buku itu. Lucu banget. Hari gini gitu lho, masih nulis diary. Laki-laki pula yang nulisnya. Kan jarang banget laki-laki seperti dia. Sudah gitu, semesta kayaknya bekerja untuk si Babas karena tiba-tiba aja aku bisa mengetahui isi hatinya melaluu buku itu.
Dan bukan itu saja yang bikin pikiranku mumet. Otakku terus menerus bekerja membuat skenario apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan buku catatan si Babas yang masih bolak-balik ku baca.
Pening.
Sampe tiba-tiba dering telepon membuatku tersentak. Moga aja Bab—
"Ya, Mbak?" sapaku pada Mbak Gita. Harapan doang di telepon si Babas.
"Yang, Yayang tahu Tian lagi dimana?" tanya Mbak Gita tanpa basa-basi.
"Ha? Kenapa memangnya, Mbak?" tanyaku heran. Kok, Mbak Gita tiba-tiba aja nanya begitu?
"Enggak. Mbak kan lagi di Kokas, janjian sama temen. Eh, lihat pacar kamu lagi jalan sama Mas Andi Mas Andi itu lho. Mbak panggil-panggil, dia kayaknya gak denger. Ya udah, Mbak berhenti manggil karena malu di liatin orang," Mbak Gita terkikik.
Dih, mentang-mentang udah lihat foto Mas Andi, Mbak Gita jadi sok akrab gitu. Sama orangnya aja belum pernah ketemu sama sekali. Bisa gitu ya? Padahal cuma denger dari cerita doang, tapi seakan udah mengenal orang itu.
Tapi jangankan Mbak Gita, aku pun juga kadang kayak gitu sih. Kalau diceritain tentang orang yang gak aku kenal, pas kebetulan ketemu orang itu, aku malah gak asing lagi.
"Oh, iya kali Mbak. Aku masih ngonten jadi gak buka-buka chat dari tadi," ujarku bohong. Padahal aku sama sekali gak tahu si Tian kemana dan sama siapa. Bukan ranahku lagi untuk tahu itu semua.
Lagipula, waktu pacaran juga aku gak pernah tanya-tanya begitu. Sama sekali gak tertarik. Bodo amat dia mau ngapain juga. Tapi kalau si Babas, selalu tanya-tanya aku dimana, sama siapa, dan sedang berbuat apa, kayak lagu Kangen Band.
Merasa diingatkan oleh Mbak Gita, aku jadi penasaran juga. Ngapain si Babas sama Mas Andi ke sana?
"Oh, sorry kalau Mbak ganggu. Mbak cuma excited aja bilang sama kamu. Habisnya, udah lumayan lama juga gak ketemu dia. Semalam waktu nganterin kamu pulang, Mbak kan gak ketemu," Mbak Gita terkikik. "Kalian masih kan, Yang?" tanya Mbak Gita penasaran.
"Masih, Mbak," jawabku asal. Masih apa dulu? kan gak jelas nanyanya. Masih lajang? Ya, masih. Masih perawan? Ya masih. Masih cantik? Opkrooss (ofcourse) gak perlu diragukan lagi. Selalu cantik paripurna anaknya Mama Lestari walaupun belum mandi.
__ADS_1
"Syukurlah. Ya udah, Mbak tutup ya? Nanti Mbak infoin kalau lihat dia lagi. Mbak mau cari baju dulu. Titip si jagoan ya?" pinta Mbak Gita sebelum menutup telepon.
Pantesan hari ini gak ada WhatsApp dari si Babas. Biasanya tiap pagi rajin nyapa walaupun hanya bilang 'selamat pagi, Yayang. Have a great day.' Isi WhatsApp-nya begitu terus setiap hari. Kayaknya hasil copas (copy paste), karena gak pernah berubah.
Eling Yang, udah putus. Ngarep opo kuwi?
"Gita ketemu Tian?" tanya Mbak Retno padaku. Aku sampai lupa kalau Mbak Retno masih di kamarku. Dia sibuk memilah milih endorsan.
"Enggak. Cuma lihat aja," jawabku pendek.
"Lihat dimana?" tanyanya.
"Di Kokas. Mbak Git lagi disana juga."
"Jangan-jangan, Tian janjian sama cewek baru, Yang?" kompor Mbak Retno padaku.
"Apaan sih! Dia jalan sama Mas Andi, bukan ketemu cewek baru," gerutuku.
"Biasa aja kali, gak usah cemburu gitu?" sindir Mbak Retno telak.
"Siapa yang cemburu? Aku biasa tho, Mbak," balasku.
Iya sih, kok aku malah kesel ya denger ucapan Mbak Retno? Kalau si Babas beneran move on gimana? Masa si Babas udah gaspol cari yang baru? Padahal belum 24 jam lho aku bilang putus. Belum juga kelar masa idah, kalau orang cerai mah.
Tapi feelingku, si Babas kayaknya gak mungkin punya yang baru secepat ini. Semalam aja dia masih gombal kok.
"Iya. Biasa ngegas," sindir Mbak Retno lagi.
"Iya sih. Orang ganteng, banyak duit kayak dia gak mungkin nganggur lama-lama," balas Mbak Retno.
Sialan.
"Eh, tapi ngapain itu manten keluyuran ke Mall. Baru juga nikah semalam?" tanya Mbak Retno menghentikan aktivitasnya.
"Mana aku tahu, Mbak."
Aku juga kepo. Tapi mau tanya siapa, coba?
"Dah, ah. Lanjut lagi, Mbak! Gak pengin pulang cepet, tho?" Ku alihkan atensi Mbak Retno biar gak terus-terusan bahas si Babas.
"Wis kelar. Besok tinggal gaspol," ujarnya seraya bangkit kemudian meregangkan tubuh.
"Oke," jawabku pendek.
Aku jadi bingung mau ngapain lagi. Kayaknya lebih baik godain si Farel dari pada menggalau terus kayak gini. Tapi baru aja mau turun, Mbak Gita telepon lagi. Gak pake lama, buru-buru aku angkat teleponnya.
"Yang, Tian sama cewek lain. Kamu lihat gak, foto yang Mbak kirim?" tanyanya. Seketika darahku naik ke ubun-ubun.
__ADS_1
"Belum lihat, Mbak," jawabku menahan sesak setelah mendengarnya.
"Kamu lihat dulu, Yang. Siapa tahu kamu kenal. Mereka berempat lagi makan," terang Mbak Gita.
"Bentar, Mbak," jawabku buru-buru membuka WhatsApp dari Mbak Gita.
Si Babas, Mas Andi, Mbak Ellen, dan... Aku gak kenal siapa wanita itu. Apa mangsa baru yang mau dijodohkan Mbak Ellen sama Mas Andi? Mengingat begitu excited-nya pasangan suami istri itu untuk menjodohkan si Babas.
"Yang..." tegur Mbak Gita di seberang sana.
"Dalem, Mbak." buru-buru aku tempelkan lagi hape ke telingaku.
"Kenal?" tanya Mbak Gita. "Apa... Mbak samperin aja?" tanyanya lagi.
"Enggak usah, Mbak. Kenal kok. Itu... Itu masih saudaranya kalau nggak salah, Mbak. Gak jelas sih mukanya. Tapi bentukannya kayaknya saudaranya yang pernah dikenalin sama aku." Mbak Retno melengos sebal mendengar alasanku setelah dia ikutan melihat foto yang dikirim Mbak Gita.
"Oh... Mbak udah takut si Tian selingkuh. Pokoknya kalau dia macam-macam, Mbak ikut maju," ancamnya membuatku terkekeh.
"Santuy sistah, lanjut blenjong. Don't worry, Mbaeee."
Aku yang worry. Aku, Mbaaak. Kalau boleh jujur. Tapi aku gak berani.
"Yowis, Mbak tutup. Mau nitip, nggak?" tanyanya.
"Nggak, Mbak. Makasih," ujarku masih sok-sok-an bersemangat.
Aku jadi pengin cepet-cepet tanyain langsung sama si Babas dia lagi dimana? Aku pengin tahu, si Babas bakal jujur atau bohong sama aku kalau dia jalan sama cewek lain. Kalau dia bohong, pupus sudah harapanku. Berarti si Babas juga tipe-tipe buaya buntung dan aku harus rela kalau ternyata dia bukan jodohku. Tapi kalau dia jujur, aku bakalan kasih kode lagi sama dia. Biarin deh malu-maluin juga, asal gak terang-terangan aja. Sing penting, lempar umpan, main cantik. Tetep harus dia yang balik. Bukan aku yang ngemis.
"Tuh kan, apa Mbak bilang. Dia udah punya gandengan lagi. Orang kayak dia gak bakal susah cari cewek, Yang. Kamu aja yang gak sabaran. Malah putusin sekelas kakap kayak dia. Mau cari apa lagi coba? Lele? Atau ikan sapu-sapu kayak si Nico?" sarkas Mbak Retno padaku.
"Udah sih, Mbak. Kita gak jodoh. Kenapa Mbak yang ribet sih?" jawabku pasrah. Pengin nangis padahal.
"Hhh... Yowislah. Karepmu, Yang." Mbak Retno meloyor ke luar kamar.
Jujur aja, aku malah jadi gak semangat sama sekali setelah melihat foto tadi. Untungnya aku masih bersikap seolah baik-baik aja. Gak mungkin kan, aku tunjukin apa yang aku rasakan pada semua orang? Orang di luar sana tahunya aku bahagia, happy, ketawa-ketiwi.
Setelah mondar-mandir cari wangsit, akhirnya ide cemerlang muncul juga. Buru-buru aku telepon si Babas. Namun setelah di angkat, sengaja aku gak jawab salam si Babas dan hanya mendengarkan suaranya.
"Halo Yang?"
"Yang?"
"Yayang?"
"Spadaa... Apa ada Yayang disini?" tanyanya berkali-kali hingga akhirnya dia memutuskan panggilan telepon dariku. Aku sengaja nungguin, si Babas bakal telepon balik atau enggak.
Babas Tumbas is calling
__ADS_1
Umpan udah masuk, saatnya bermain cantik, Bestieee...
...Wahaha... Ada yang suka akting macam si Yayang? Pura-pura kepencet, pura-pura salah whatsapp. Ada gaaaakk? Yoo... Ngaku... ...