
...Part ini panjang bestie, sepanjang perjuangan si Babas menaklukan hati Yayang. Btw bestie, bantu doa biar aku sembuh ya... Mamaciw... ...
...✨✨✨...
"Gaeess... Gaeess... Gaeesss... Kali ini, aku pakai daster kece abis dari Daster Nyonyah by Gita alias Mbakku sendiri. Bahannya dari katun rayon premium. Asli, adeeeem banget ngalahin kulkas dua pintu. Cocok banget buat nugas di rumah kalau lagi ngijah."
"Ini motifnya banyak yang baru. Jadi bukan cuma buat ngijah aja, tapi ada juga yang buat dinas malam. Nih, yang dinas malam, tanpa motif juga ada, warna lebih menantang. Apalagi modelnya sleeveless dress. Talinya aja tipis begini, cocok 'kan buat merayu manja suami, biar dikasih tambahan uang bulanan. Tapi awas, suami sendiri lho ya yang di rayu... Jangan suami orang."
"Eeiittsss... Yang gadis manis jangan berkecil hati. Nih, yang aku pakai juga oke banget. Modelnya lucu banget kan? Motifnya ceria ulala bikin naikin mood banget. Soal harga, gak usah di tanya... harganya murce manjalita."
"Nganjuk, Dawuan, orang Minang ke Karawang, yuukkk... Buruan di pinang sayang. Jangan lupa mampir ke Limijati. Di pinang sesuai hati." Aku senyum sendiri mendengar pantun asal yang ku buat.
"Yang tertarik, boleh cek instagramnya Daster_Nyonyah. Cuss di kepoin, jangan lupa follow dan jangan sampai kehabisaaaannn..."
"Oke. Break dulu, Yang. Tinggal tiga produk," sela Mbak Retno begitu aku beres mereview daster dengan motif terbaru mahakarya Mbak Gita.
"Thanks Yayangkuuu... Selalu keren kalau nge-review," Mbak Gita memberikan kedua jempolnya sambil nyengir bahagia. Gimana gak bahagia coba? Wong, dia pakai jasaku aja gretongan. Tapi gak apa-apa sih, aku juga senang-senang aja. Apalagi, aku bebas milih daster yang aku suka.
"Santai, Mbak. Kayak sama siapa aja," jawabku sambil meraih botol air mineral yang sedari tadi melambai-lambai minta diteguk. Kalau sudah cuap-cuap begini, bawaannya haus terus. Padahal aku ngoceh sendiri.
"Manfaatin aja, Git. Sebelum nanti pensiun," timpal Mbak Retno.
"Enak aja pensiun! Ngumpulin followers sebanyak ini susahnya setengah mati, tau! Masa mau pensiun gitu aja? Sorry layaw..." ketusku membuat kedua Mbakku nyengir.
"Ya kali, kalau udah nikah sama Obos gak boleh kerja lagi selain di kerjain," Mbak Gita tertawa mendengar ucapan Mbak Retno.
"Apa sih Mbak... Kalau aku pensiun, sampeyan juga rugi. Gak dapat cuan lagi," balasku telak.
"Gak apa-apa, sing penting punya adik jadi sultinah dadakan, bisa dong kedip-kedip," cengir Mbak Retno.
"Kedip-kedip ngapain nih?" tanya Mbak Gita.
"Apalagi dong Git, kalau bukan buat jadi nasabah sultinah," cengir Mbak Retno.
"Dih, aku gak suka di kedipin ya? Lagian kalau aku sultinah, aku ogah kasih pinjem Mbak. Ntar Mbak gak mau bayar," ketusku lagi.
"Gampang. Tinggal ngadu sama sultan Tian. Dia pasti ngasih. Iya gak, Git?" Mbak Retno melemparkan pandangannya pada Mbak Gita meminta dukungan.
"Nyerah. Aku gak ikutan. Nanti Yayang gak mau promo-in dasterku lagi," Mbak Gita angkat tangan sambil cekikikan.
"Tahu nih Mbak No kayaknya ngebet banget sama Mas Tian. Situ naksir kan, Mbak?"
"Siapa yang gak naksir coba? Udah ganteng, perhatian, baik, tajir lagi. Tapi aku tahu diri, mana mungkin dia naksir upik abu sepertiku ini," ujarnya dramatis.
Ku lempar botol minum milikku, "Inget Mas Danu, Mbak! Tak laporin biar tahu rasa!" ancamku. Dasar manager ganjen. Udah punya laki masih aja matanya jelalatan kalau lihat yang ganteng dikit.
"Halah, paling Mas Danu cuma nyengir. Mana berani macam-macam!" balas Mbak Retno.
"Ya iyalah gak bisa macam-macam. Lagi LDR-an gitu. Kalau deket pasti di sumpel lambemu, Mbak," ledekku.
__ADS_1
"Ya kalau di sumpel lambe Masmu, aku sih doyan," ujarnya. Mbak Gita yang sedari tadi menyaksikan perdebatan kami tergelak lagi.
"Wong Edyan!" ketusku membuat Mbak Retno malah tertawa bahagia.
"Lha, kok edan? Uenak puooolll... Kayak gak pernah aja," Mbak Retno mencebik. "Jangan-jangan, udah maen lambe-lambean sama Mas Tian," tuduh Mbak Retno padaku.
"Nyebut tho Mbaakk... Pikirane kok ngeres gitu lho. Tak bilangin Mama, tahu rasa!" ancamku.
"Lha, aku salah apa? Kalau Lilik dengar ya pasti cuma ketawa. Wong, aku udah halalan toyyiban sama Mas Danu," Mbak Retno berkelit. Padahal tadi dia tuduh aku sama si Babas.
Tapi kalau di pikir-pikir, aku sama si Babas emang sering banget lambe-lambean. Maksudnya, adu argumen gitu lho. Bukan beneran adu bibir. Awas aja kalau dia berani macam-macam sama aku. Aku tinju lagi lengannya!
Udah aku bilang, aku masih belum sepenuhnya membuka hati. Walau kepercayaan ku kepadanya lagi-lagi bertambah setelah deep talk kami waktu di rumah sakit minggu lalu, tapi tetap aja, gak bikin aku langsung percaya banget gitu lho. Pokoknya, aku gak bisa digoyahkan semudah itu.
Apalagi si Babas juga sering banget nyulut emosiku. Bikin hatiku maju mundur buat terima dia seratus persen. Untungnya seminggu ini hidupku agak anteng. Si Babas gak ngajak adu lambe karena dia ngebut ngerjain kerjaannya yang sempat tertunda gara-gara sakit kemarin. Jadi, udah seminggu juga aku gak lihat batang hidungnya sama sekali. Dia cuma telepon atau WhatsApp aku yang isinya itu-itu aja. Kayak, 'lagi ngapain? udah makan? Makan sama apa? jangan jajan sembarangan, Yang. Mau Mas kirim makanan?'. Pertanyaannya gak kreatif banget. Dia itu pacarku atau ahli gizi yang lagi mantau tumbuh kembang anak?
Tapi masa antengku tidak bertahan begitu saja setelah nomor asing tiba-tiba menghubungiku. Tahu gak siapa?
Mbak Ellen, dong. Gilaaa... Dia tahu nomorku dari mana coba? Kalau gak dia bilang minta nomorku dari Mas Andi kayaknya aku bakalan mencak-mencak sama si Babas lagi. Untung aja Mbak Ellen bilang duluan.
"Gak apa-apa kamu jalan sendirian, Yang?" tanya Mbak Retno saat aku bersiap untuk ketemu Mbak Ellen.
"Gak apa-apa. Tapi Mbak No, yakin gak ikut?" tanyaku.
Mbak Retno menggeleng, "bukan gak pengin. Kamu tahu sendiri kalau Ibu udah ada maunya gimana? Mana dadaakan minta anternya," keluh Mbak Retno yang di minta mengantar Ibunya arisan.
"Kenapa sih, arisannya harus malam, Mbak?" tanyaku heran. Biasanya arisan ibu-ibu kan siang hari.
"Ya udah sih, turutin aja, Mbak," ujarku sambil menahan senyum. Untung Mama gak seheboh Bude yang hobinya wara-wiri.
"Yang, kenapa kamu gak bilang sama Mas Tian aja, biar dia yang antar kamu. Atau kamu minta Mas Tian yang ambil undangannya. Mbak cuma khawatir, pulangnya pasti malem. Mana lumayan jauh juga tempatnya," usul Mbak Retno mengalihkan topik pembicaraan kami.
"Gak, Mbak. Kan Mbak Ellen gak tahu kalau aku deket sama kakaknya. Nanti dia curiga dong," jawabku sambil mengaitkan anting di telinga. Setelah mendapat telepon dari Mbak Ellen waktu itu, akhirnya aku jujur soal hubunganku dengan si Babas pada Mbak Retno. Dan, reaksi Mbak No sesuai dengan dugaanku. Langsung lapor sama Mama. Emang susah mau nyembunyiin apapun dari keluarga ini. Tapi untungnya, mereka paham kalau aku belum mau dikenalkan dengan keluarga si Babas. Walau awalnya menentang, tapi akhirnya semua keputusan kembali di tanganku.
"Lagamu itu, Yang... Yang... Udah kayak artis papan atas aja pake backstreet segala," sindir Mbak Retno.
"Biarin aja. Tian juga terima, kok."
"*Yowis k*arepmu. Hati-hati aja di jalannya. Jangan lupa nanti bikin story tipis-tipis buat followersmu," Mbak Retno mengingatkanku yang ku balas dengan anggukan.
Sebenarnya, gak ada Mbak Retno gak enak juga. Gak ada teman buat jadi tameng. Tapi, masa iya aku harus tergantung terus sama Mbak Retno, kan ya? Dia juga ada kesibukannya sendiri. Untungnya, Mbak Ellen juga berangkat sendirian karena Mas Andi masih sibuk sama kerjaan, katanya. Sebelas dua belas sama si Babas. Tapi baguslah, aku gak harus jadi nyamuk buat mereka. Kan, gak nyaman juga lihat orang mesra-mesraan depan kita. Apalagi Mas Andi orangnya PDA (Public Display Of Affection). Nunjukin kalau dia cinta banget sama Mbak Ellen.
"Mbaak..." ku lambaikan tanganku begitu Mbak Ellen tiba di tempat yang telah kami sepakati.
Kami janjian di resto Jepang yang ada di Sency, sekalian dinner sesuai ajakan Mbak Ellen. Yang bikin heran, kenapa sih, gak adeknya, gak kakaknya, dua-duanya hobi banget makan sushi? Padahal kalau mau makan nasi di gulung-gulung gitu, kenapa gak di rumah aja? Aku juga dulu sering kok, di kepalin nasi panas cuma campur garam doang sama Mama. Rasanya lebih nikmat daripada sushi yang kami pesan malah. Lebih heran lagi, mereka itu keturunan Jerman lho, bukan Jepang. Masa gak pernah pesan makanan Western gitu. Kayak cilok atau seblak, kek. Eh, salah ya?
"Yaaanggg... Apa kabar?" sapa Mbak Ellen ceria. Si cantik, baik hati yang selalu bikin insecure kalau ketemu. Ngomong-ngomong, Mas Andi gak kewalahan jagain bidadari kayak Mbak Ellen gini? Aku takut dia di culik kalau jalan sendirian begini.
"Baik, Mbak. Mbak sehat?" tanyaku.
__ADS_1
Mbak Ellen mengangguk, "harus dong, Yang. Kan mau kewong," ujarnya sambil terkikik geli.
"Duh, bahagia bener, Mbak. Nular lho ke aku," tuturku sambil tertawa.
"Kamu mau nikah juga Yang? Sama siapa? Kok gak bilang-bilang?" tanyanya. Wajahnya terlihat syok banget.
Aku menggeleng, "bahagianya yang nular, Mbak. Bukan nikahnya... Aku mau nikah sama siapa, jodohku aja belum ada," bohongku. Maaf Mbak Ellen, ku tak sanggup bilang kalau aku dekat dengan kakakmu.
"Serius belum punya calon?" tanyanya sambil menyentuh tanganku. "Mau gak sama Masku? Dia juga jomblo lho. Jomblo karatan," tawanya menguar membuatku ikut tersenyum mendengarnya. Gila... Adiknya aja nyinyirin.
Eh, apa dia bilang? Mau jodohin aku sama si Babas?
"Gimana Yang? PDKT aja dulu, ya?"
"Kan udah kenal Mbak," sanggahku.
"Maksudnya, kenalan lebih intim lagi. Ah Yayang, masa gak paham," Mbak Ellen mencolek lenganku.
"Aduh, aku ke sini mau terima undangan Mbak. Masa malah-"
"Bentar Yang," suara hape Mbak Ellen menghentikanku bicara. Buru-buru Mbak Ellen menempelkan hapenya di telinga.
"Ya, Mas... Iya, di Sushi Tei... Oke, aku udah sama Yayang... Iya, ditunggu," Mbak Ellen menaruh hapenya kembali.
"Mas Andi baru nyampe, Yang," info Mbak Ellen kepadaku.
"Lha? Bukannya sibuk, Mbak?" tanyaku. Alamat beneran jadi nyamuk kalau begini.
"Gak tega kalau aku pulang sendirian katanya. Makanya tadi aku ke sini pake taksi biar dia yang jemput," ujarnya sambil tersipu.
"Jadi gimana, Yang? Mau kan? Aku sama Mas Andi sebenarnya udah ngeship kalian dari pas tunangan kemarin. Pas lihat kalian ngobrol, kayaknya cocok banget. Kamu yang humble kayaknya bisa nyeimbangin Masku yang kaku banget," ujarnya menggebu.
"Mbak tapi kan aku-"
"Please Yang. Cuma kenal lebih dekat aja kok. Cocok ya syukur. Enggak pun, aku gak maksa. Senyamannya kalian aja. Ya, mau ya... Hehe... Kok aku malah maksa ya, Yang? Habis gimana dong, kasihan juga sih, liat Mas Tian dilangkahi aku," ujarnya sambil menatapku.
"Emang Mas Tian gak dekat sama yang lain?" tanyaku. Penasaran juga. Siapa tahu si Babas bohong sama aku.
"Gak ada, Yang. Yang aku tahu, terakhir pacaran itu SMA. Setelah Papa meninggal, dia gak pernah bawa cewek lagi. Apalagi jamannya dia kuliah. Boro-boro bawa cewek atau main-main kayak orang-orang. Dia sibuk kuliah sambil kerja. Sampai sekarang kayak begitu tuh hidupnya. Lurus-lurus bae."
"Sebenernya, aku gak enak harus melangkahi Mas Tian, tapi aku mdjfikflsknshusisoslksnbxuudi"
Aku gak dengar lagi penjelasan Mbak Ellen, mata dan otakku malah fokus sama seseorang yang berjalan di belakang Mas Andi.
Mampus, yang lagi di ghibahin malah ikut ke sini.
...
__ADS_1
...