Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Pernyataan


__ADS_3

Gila.


Gila.


Gila banget.


Udah kayak di samber petir, saat si Babas tiba-tiba aja ngajak membina rumah tangga. Sumpah, ini orang kenapa? Waras gak sih?


Membina rumah tangga itu artinya menikah. Nikah loh. Nikaaah.... Ibadah seumur hidup.


"Mas, bercandanya gak—"


"Saya serius," potongnya mantap.


"Kenapa saya, Mas? Maksud saya, kita ini baru kenal lho Mas. Seperti yang saya bilang, Mas gak tahu sifat saya dan saya juga gak tahu apa-apa tentang Mas. Tapi kenapa?" tanyaku tak habis pikir.


"Saya sendiri, bingung kenapa saya mantap mau nikah sama kamu. Pokoknya, saya merasa cocok saja sama kamu," ujarnya.


"Kalau Mas sendiri bingung. Gimana saya?" tanyaku yang langsung terpotong oleh kehadiran waiters membawa pesanan kami.


Akhirnya, kami makan terlebih dahulu. Seperti sebelumnya, dia begitu santai menyantap makanannya dalam diam. Sementara aku? Pikiranku tiba-tiba aja kacau.


Benar-benar gak habis pikir. Ada orang yang ngajak nikah, tanpa persiapan kasih cincin, bunga, atau apa kek buat tanda keseriusannya. Malah parahnya lagi, kita gak pacaran atau sekedar PDKT-an. Ibaratnya kita kenal baru kemarin sore.


Memang di luar sana, banyak juga yang menikah dengan proses ta'aruf sih. Tapi itu bukan gayaku. Aku gak bisa lho, tiba-tiba nikah dengan orang asing. Dan mungkin rasanya bakalan aneh.


Jujur aja, aku salut dengan mereka yang bisa hidup langgeng saling menerima satu sama lain oleh proses ta'aruf.


Asli. Aku salut banget.


Bisa menumbuhkan cinta dan saling menitipkan hati masing-masing walau mereka sendiri tak saling kenal. Buatku mereka keren. Berani mengambil resiko dengan ikhlas. Sayangnya, aku gak bisa seperti mereka.


Tahu sendiri kan, aku ini over thinking parah. Gimana kalau setelah dia mendapat mahkota yang selama 25 tahun ini aku jaga, tiba-tiba dia ninggalin aku gitu aja? Gimana kalau ternyata orang itu tempramen dan meledak-ledak saat kami bertengkar? Atau gimana kalau keluarganya juga gak suka sama aku, terus ikut menindasku?


Apalagi tadi dia bilang, dia sendiri bingung kenapa tiba-tiba ngajak aku nikah. Gimana nanti kalau sudah berumah tangga, terus tiba-tiba dia bosan? Mau cerai gitu aja?


Aku paham, orang-orang seusia dia rata-rata sudah berumah tangga dan bahkan memiliki anak lebih dari satu. Atau bahkan anaknya ada yang beranjak SMP, mungkin. Tapi gak mendadak ngajak nikah juga, kali.


Atau jangan-jangan, dia kepanasan gara-gara Mas Andi mau nikah hingga dia bersikap impulsif?


"Habiskan makanannya, Yang," ujar si Babas padaku.


Gimana aku mau fokus makan, kalau pikiranku kemana-mana gini?


"Kenyang Mas," kilahku.


"Kamu memang biasa makan sedikit ya?" tanyanya.

__ADS_1


"Enggak juga sih, Mas. Cuma kalau jam malam memang sengaja aku kurangi," jawabku.


"Iya sih. Saya juga biasanya gak terlalu banyak. Tapi ditemani kamu malah semangat banget makannya."


Semangat sampai bikin anak orang jantungan maksudnya?


Bisa-bisanya dia bilang semangat. Sengaja banget biar aku terima lamarannya barusan. Iya kan, yang begitu namanya lamaran? Bukan diskusi pembagian saham Oke.com?


Ya Tuhan, baru kali ini aku dilamar orang, tapi boro-boro bikin aku terkesan. Ini malah bikin aku syok, bingung, aneh juga. Masa dia santai begitu, seolah ucapan yang tadi dia lempar itu, bukan apa-apa baginya. Apa memang dia udah biasa ngajak nikah cewek lain se-random ini?


"So, gimana Yang? Gak apa kan kita bahas yang tadi lagi?" tanyanya sambil menatapku lekat.


"Ya, harus sih Mas. Biar saya gak bingung dan malah kepikiran."


"Kepikiran nikah sama saya?" tanyanya dengan senyum tipis.


Dih, Pede banget.


"Justru saya bingung. Saya sama Mas Tian baru tiga kali ketemu lho. Masa, tiba-tiba Mas ajak nikah? Mas Andi dan Mbak Ellen aja pacaran dulu kan?"


"Andi sih udah ngebet nikah sama Ellen dari tahun-tahun lalu. Cuma... Mereka nunggu restu dari saya. Andi itu memang sahabat saya. Saya tahu Andi luar dan dalamnya dia gimana. Buaya aja lewat sama dia. Makanya, gak mudah bagi saya untuk memberikan restu. Sampai akhirnya Andi benar-benar bisa yakinkan saya seperti kemarin. Dan, ya... saya bisa lepasin Ellen sama dia," jelasnya.


Jadi maksudnya, Mas Andi player sampe dibilang buaya aja lewat sama si Babas? Gak heran sih, hobinya cipika-cipiki mulu sama cewek-cewek. Tapi itu semua gak penting kan? Bukan urusanku juga.


"Dan, saya gak suka buang-buang waktu untuk sekedar pacaran kayak mereka. Mau saya, ketika saya merasa cocok, langsung serius ke jenjang pernikahan. Karena bagi saya, tujuan saya menikah adalah menua bersama seraya menyelaraskan karakter masing-masing. Karena sekalipun pacaran lama, toh tidak menjamin sebuah pernikahan akan berjaya selamanya," ujarnya.


"Mas kepanasan sama Mas Andi karena mau nikah ya?" tanyaku hati-hati. Eh, dia malah tersenyum.


"Gak sih Yang. Gak ada sedikit pun iri sama Andi atau takut Ellen melangkahi saya. Dari awal, saya gak mempermasalahkan hal-hal seperti itu," ujarnya sambil menatapku.


"Mas cuma merasa klik aja sama kamu. Makanya Mas berani mengutarakan hal ini."


Dia bilang apa? Klik? Klik ndasmu! Begitu ketemu aja juteknya minta ampun. Posesif banget sama Mas Andi pula. Hiih kalau ingat itu, aku jadi kesel lagi.


"Pertama ketemu Mas, Mas jutek banget lho. Boro-boro klik, kali. Saya aja lihat wajah Mas, takut banget," keluhku.


Dahlah, aku keluarkan juga unek-unekku. Biarin aja kalau dia ilfil, berarti aku gak perlu repot-repot tolak dia kan?


Si Babas malah tertawa, "maaf ya. Saya waktu itu salah paham. Gara-gara Andi yang sok akrab sama kamu pake manggil 'Yang' segala. Saya pikir, penyakit Andi masih kambuh. Ternyata, nama asli kamu beneran Yayang," cengirnya.


"Terus merasa klik-nya dari mana? Mas aja gak percaya waktu saya mau kasih lihat KTP saya," gerutuku.


"Ya itu, saya terlanjur malu. Makanya saya buru-buru masuk ruangan." Si Babas berdeham sejenak. "Sebetulnya saya bukan penganut 'Love at the first sigh', Yang. Tapi begitu melihat kamu, saya merasa 'yang ini orangnya'. Kamu paham kan maksud Mas?"


"Bohong," sangkalku. "Mana ada, love at the first sigh tapi galak sama saya, Masnya."


"Memang saya galak?" tanyanya.

__ADS_1


Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang, Baaasss!


"Iya," jawabku pendek.


"Maaf ya. Mas gak galak, kok. Cuma waktu itu Mas nervous plus malu gara-gara salah paham itu," terangnya.


Iya-in biar cepet.


"Jadi, Mas gak ada hubungan sama Mas Andi?" ceplosku membuat dia mengernyit dan aku melotot sendiri.


Yaaang, bego banget sih. Malah tanya begitu.


"Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, Andi itu sahabat saya dari saya kecil. Bukan hubungan yang— maksud kamu hubungan— Kamu kira saya sama Andi—" tanyanya histeris.


"Maaf Mas," aku meringis malu.


Duh, begooo. Dia itu pinter baca pikiran orang lho. Kok, bisa-bisanya ini mulut tanya begitu segala.


"Habisnya, Mas kayak yang posesif banget sama Mas Andi. Jadi saya pikir— hehe... Maaf."


Si Babas menggelengkan kepala, "pantes kamu menghindar terus dari saya. Kamu kira saya kaum pelangi," decaknya.


"Jujur, iya Mas, hehe."


Udah lah. Terlanjur buka-bukaan. Biar dia tahu semuanya.


"Habis, Mas juga yang bikin saya salah paham. Pake ngancam sengala!" ketusku.


"Mas ngancam gimana sama kamu?" tanyanya syok.


"Waktu itu Mas ancam saya, jangan dekati Mas Andi. Aku pikir Mas Andi dan Mas ya gitu..."


Si Babas malah senyum tipis. Kan, gilanya kumat. "Hhh... Kayaknya semua harus di jelasin kalau sama kamu, Yang," Keluhnya.


"Jelasin apa?"


"Soal saya kenapa kasih kamu peringatan. Itu supaya kamu gak berharap sama si Andi. Saya tahu, banyak perempuan yang terpikat sama dia. Saya akui, Andi itu ganteng. Dia punya pesona tersendiri untuk memikat wanita dari dulu. Makanya, saya gak mau kalau kamu sampai ikutan begitu. Apalagi dia calon ipar saya. Saya juga gak mau adik saya dipermainkan Andi. Terlebih dari itu, tiba-tiba saja muncul perasan gak rela kalau kamu memujanya. Gak tahu kenapa, saya benar-benar gak suka," ujarnya.


Gak suka?


Maksudnya, dia cemburu? Baru pertama ketemu udah cemburu?


Fix, sinting ini orang!


.


Yang syuka sama si Babas, cuuuuungggggg.....

__ADS_1


__ADS_2