Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Tak Terduga


__ADS_3

Jam lima sore, aku sudah standby di rumah Mbak Ellen untuk melakukan gladi bersih setelah sebelumnya — aku, Mbak Ellen, Mas Andi dan pihak EO meeting bersama beberapa hari yang lalu.


Mas Andi sempat bilang padaku untuk melaksanakan acaranya secara santai. Tapi nyatanya, kedua belah pihak keluarga tidak setuju. Mereka tetap ingin melakukan pertunangan secara formal seperti pada umumnya. Maklum lah ya, yang namanya orang tua biasanya gak mau lepas dari tradisi dan adat istiadat.


Aku sebagai pihak luar, hanya mengikuti apa yang mereka minta. Toh, sebagai MC, aku cuma menjalankan runtutan acaranya saja. Dan semua persiapan segala macam, sudah ada pihak EO yang bertugas.


Untung saja mereka akhirnya mau menggunakan jasa EO, kalau nggak, aku bakalan ikut repot. Apalagi Mbak Retno mendadak meriang dari kemarin. Alhasil, aku sekarang sendirian gak ada yang menemani. Biasanya, Mama yang mendampingi kalau Mbak Retno berhalangan. Tapi kali ini, Mama juga harus awasi si bocil karena orangtuanya ke luar kota. Yowislah, sendiri aja kayak ban sirkus.


"Mbak, ini kan nanti ada penyampaian maksud dan tujuan rombongan pihak laki-laki, bisa 'kan kalau ditambah dengan permohonan izin melangkahi kakaknya Ellen juga?" tanya Ibu-ibu berwajah bule yang ternyata Mamanya Mbak Ellen.


Keren lho, Mamanya Mbak Ellen walaupun bule, tapi melokal. Kalau ngomong sama aku, ada medhoknya sedikit. Malah bicara bahasa Indonesianya udah fasih banget. Asli, gayanya kayak emak-emak Indonesia. Daster for life banget. Walaupun dasternya bukan daster premium buatan Mbakku, tapi tetep bikin Mama Mbak Ellen terlihat elegan. Padahal cuma pakai daster lho. Pantes aja beliau gak setuju acara pertunangan anaknya dilakukan secara santai.


"Nanti yang minta izinnya siapa Bu?" tanyaku heran. Biasanya acara tunangan gak ada acara minta izin buat melangkahi kayak gini. Tapi sebagai MC, aku ya nurut aja.


"Ellen sama Andi. Bisa kan?" tanyanya.


Aku membuka kertas rundown acara yang sudah ku buat sambil memperlihatkan pada Mamanya Mbak Ellen.


"Nah, pas ini saja Mbak. Jadi begitu kami menerima lamaran Andi, sebelum penyematan cincin, mereka berdua minta izin dulu gitu lho sama Tian," ujarnya seraya menunjuk bagian inti acara.


Sebentar.


Tian?


"Tian?" tanyaku pada akhirnya.


"Iya. Kakaknya Ellen. Tulis saja Sebastian, Mbak," pintanya padaku.


Sebastian?


Sebastian si Babas Tumbas yang itu bukan sih?


"Beres semua Mam?" tanya seseorang menghampiri kami.


IYA YANG ITU, YAAANG!


Ya Tuhan.


YANG ITU.


Yang manggil Mam sama Mamanya Mbak Ellen.


Berarti...


Mati kon, Yang!


"Hai, baru datang?" sapa Mama Mbak Ellen sambil mengecup pipi anaknya alias si Babas Tumbas itu.


"Iya. Tadinya aku mau ganti baju dulu di rumah, tapi si Ellen berisik banget, minta aku buru-buru kesini," jawabnya tanpa melihatku. Asli. Aku gak di lirik sama sekali sama si Tian.

__ADS_1


Sialan.


"Maklum, dia nervous juga kali. Lagian, ngapain pulang ke rumahmu dulu? Emang kamu tamu undangan? Datang pas acara di mulai. Harusnya kamu yang urus ini semua. Kasihan Andi sama Ellen malah sibuk sendiri." Omel Mamanya Mbak Ellen. Sumpah, ngomelnya aja masih terdengar halus banget di telingaku. Beda banget sama Kanjeng Ratu yang selalu pake urat kalau ngomong.


"Ya, Mama tahu sendiri kan, aku belakangan ini sibuknya kayak gimana?" elak si Babas Tumbas.


"Ya udah. Yang penting kamu sekarang udah datang," Mama Mbak Ellen gak sengaja menyenggol lenganku, "Oh ya ampun, Mama sampai lupa lagi ngomong sama Mbaknya, nah ini yang namanya Sebastian, Mbak. Sudah dicatat di sana kan?" tanya Mama Mbak Ellen padaku.


Refleks, aku dan Tian bertatapan. Tapi, aku buru-buru melihat kertas yang ku pegang.


Asli, mendadak tremor begini.


"Oh, sudah Bu. Sudah," jawabku. "Pak Tian, apa kabar?" sapaku sambil tersenyum kikuk. Mau gak mau aku sapa si Babas. Gak mungkin kan aku pura-pura amnesia gak kenal dia?


"Oh, hai, Yang. Kamu ngapain?" tanyanya.


Anjayani similikiti! Kamu ngapain katanya?


Nyuci piring sambil kayang, Baas. Hobaaah...


Gak lihat apa, aku bawa-bawa kertas begini mau ngapain?


"Loh, kalian kenal?" tanya Mama Mbak Ellen.


"Ya, dia salah satu BA di perusahaan Andi," jawab si Babas Tumbas. Aku cuma tersenyum kikuk walau hati sebenarnya dongkol banget. Kenapa sih, setiap ketemu si Babas Tumbas, bawaannya panas melulu? Apa dia titisan jin atau setan yang harus di ruqyah gitu?


"Oh begitu. Mama kira, Mbaknya dari EO juga," ujar Mama Mbak Ellen.


"Oh, ya... ya... Maaf, saya kira dari EO, ternyata teman Ellen dan Andi. Nanti, kalau butuh apa-apa, jangan sungkan ya Mbak. Makasih loh, udah mau bantu kami," Mama Mbak Ellen mengelus punggungku.


"Sama-sama, Bu. Senang membantu Mbak Ellen dan Mas Andi," lagi-lagi aku tersenyum. Kali ini tulus loh gak dibuat-buat.


"Ya sudah, fix tambahkan yang tadi ya Mbak. Saya tinggal dulu kalau begitu," ujarnya. "Yuk, Mas. Apa mau ngobrol sama Mbaknya?"


"Nanti aja, Mam. Aku mau ganti baju dulu," jawabnya singkat seraya tersenyum tipis kepadaku, kemudian merangkul Mamanya masuk ke dalam.


Jadi, si Babas itu kakaknya Mbak Ellen? Aku gak mimpi kan? Kenapa aku gak ngeuh sih?


Kenapa kemarin si Babas terlihat cemburu banget sama aku? Apa karena Mas Andi pacar adiknya, dia jadi posesif jagain Mas Andi biar gak macam-macam? Begitu?


Ya Tuhan. Kalau kayak gini, lebih baik aku cosplay jadi kura-kura biar bisa sembunyi di cangkang dari pada harua ketemu si Babas.


Sumpah. Bodoh banget! Udah mikir yang enggak-enggak sama si Babas.


"Kamu hobinya emang bengong ya?" suara seseorang membuatku tersentak.


Dia lagi.


"Eh, eng... kenapa Mas?" tanyaku. Jantungku langsung gak karuan begitu melihat wajahnya.

__ADS_1


"Kamu dari tadi cuma bengong di sini? Dari saya datang sampai rapi begini, kamu gak pindah-pindah tempat. Kenapa Yang? Berat ya, jadi MC buat kecengan sendiri?" sindir si Babas padaku.


"Hah? Maksudnya gimana Mas?"


Si Babas cuma menggeleng, "lupain."


"Kalau gitu saya permisi, Mas," pamitku. Cukup tahu diri, ini di mana. Jadi, lebih baik menghindar dari pada moodku anjlok karena sindirannya.


"Apa saya terlihat seperti hantu, Yang?"


"Ha?"


"Kamu tiap lihat saya kayaknya mau kabur terus," ujarnya datar.


"Eng... Enggak Mas. Saya gak kabur. Saya cum— tadi kan Mas bilang, saya begong terus di sini. Makanya, saya mau cek yang lain dulu," ketusku.


Tuh kan, aku coba tahan gak kesel, tapi susah kalau sama dia.


"Kamu kan cuma MC. Mau cek apa?" sarkasnya.


Tarik nafas panjang, Yaaang. Senyum yang cantik.


"Ya, bantu teman-teman yang lain aja, Mas."


"Mereka kan bukan temanmu, gak usah sok akrab bantu-bantu."


ASTAGA. Aku udah berusaha sabar loh ini.


"Dari pada aku bengong kan, Mas. Permisi!" ketusku.


Boleh berkata kasar gak sih? Ini orang nyebelinnya luar biasa. Aku doain belok beneran, tahu rasa!


"Yayang..." panggilnya membuatku menoleh, "Contekanmu ketinggalan," ujarnya seraya menggerakan dagunya ke arah kertas yang tergeletak mengenaskan di lantai.


Alih-alih inisiatif ngambilin. Dia cuma gerakin dagunya doang sedikit. Dasar manusia setengah tiang!


Kalau kayak gini, aku gak nyesel sama sekali udah kasih nomor Mbak Retno sama dia. Orangnya rese banget!


"Itu juga Yank," ujarnya padaku setelah aku memungut kertas susunan acara.


"Apa mas?" Aku melirik ke meja samping.


"Itu gelas."


"Gelas?"


"Iya. Itu gelas. Saya cuma kasih tahu saja. Barang kali kamu lupa kalau itu namanya gelas," ujarnya dengan senyum geli.


MAKSUDNYA APA SIH BAASSS?

__ADS_1


.


Yang udah nembak si Babas kakaknya Ellen, HEBAAT... percuma plintir-plintirin ceritanya. Kalian bisa nebak juga. Awkwkwkwk...


__ADS_2