
Apa sih yang paling nyaman di dunia ini? Menurutku hal yang paling nyaman nan menyenangkan adalah rebahan setelah melakukan berbagai aktifitas.
Asli nyamaaan banget.
Apalagi sambil scroll instagram. Lihat postingan kuliner yang selalu bikin ngiler, atau postingan-postingan lucu yang bikin ngakak malam-malam.
Namun, kenyamananku di interupsi oleh panggilan masuk dari Mbak Retno. Ish! Ini orang gak bisa lihat aku seneng sedikit, pasti ada aja gangguinnya. Apalagi coba kalau bukan masalah cuan? Dasar mata duitan!
"Yayaaaanngggg..." teriak Mbak Retno yang membuatku menjauhkan hape dari telinga.
"Apa sih Mbak teriak malam-malam," jawabku ketus. Asli, pengang banget telingaku.
"Kamu... Ya Tuhan... Astaghfirullahal 'adziim..."
"Kenapa Mbak? Dirimu gak apa-apa kan?" tumben-tumbenan ini orang nyebut begitu, bikin khawatir.
"Kenapa? Kamu tanya kenapa?" semprotnya.
"Ya kenapa sih malam-malam marah-marah? Gak bosen marahi aku terus?"
"GAAAK! Kamu emang pantes diomeli! Gak kira-kira kamu kasih nomor Mbak! GILA kamu ya!" teriaknya.
"Ngasih nomor ap— Mbak..."
"APA! NYADAR KAMU?" teriaknya lagi. "Sumpaaah Yaaaaang... Kamu kok ngisin-isini (malu-maluin) aku sih Yang? Belajar dari mana kamu bohong kayak gitu? Yang diminta dia itu nomor kamu, kok kamu kasih nomor Mbak? Gemblung kowe! Tak aduin Mamamu biar tahu rasa kamu!" ujarnya berapi-api. Kalau udah ngancam pake ngadu begitu, udah pasti marah besar. Duh...
"Mbak... mmm... anu... aku kan udah bilang kalau—"
"KALAU OPO? Sadar gak sih yang kamu bodohi itu siapa? BOS OKE.COM, Yaaang! Kamu ini gali kuburanmu sendiri tahu gaaak!" Mbak Retno gak hentinya teriak-teriak di ujung sana.
"Gali kuburan apa sih Mbak? Aku cuma kasih nomor Mbak sama si Tian-Tian itu kan? Emang kenapa? Aku kan udah bilang, gak mau berhubungan apapun lagi sama dia. Aku takut Mbak!" Akhirnya aku kepancing emosi juga.
"Tapi gak kasih nomorku juga! Kalau mau bohong, kenapa gak kamu kasih nomor orang lain aja sekalian? Kenapa kamu malah kasih nomor Mbak? Tetap aja kamu ninggalin jejak sama dia! Paham gak kamu!" Emosinya begitu menggebu.
Iya juga. Ya ampun, kok aku gak mikir sampe kesana?
"Terus gimana Mbak?" cicitku lemah.
"Gimana apanya? Tadi dia kayak yang kecewa banget tahu gak!"
"Terus? Mbak No... kasih nomor aku?" tanyaku was-was.
"MENURUTMU?" buset, dia gak sakit tenggorokan apa teriak-teriak melulu?
"Mbak... Serius. Mbak No kasih nomorku?"
"YA! Biar malu kamu! Biar dia aduin sama Mas Andi sekalian!"
"Mbaaak—"
"Bocah bandel! Kalau mau bertindak mikir dulu, Yang!"
"Itu juga aku mikir dulu, Mbak!"
"Mikir pakai dengkulmu! Sumpah. Mukaku kayak di teploki tai sama kamu! Ngisini wae!"
"Mbaak... " rengekku.
__ADS_1
"Biarin. Kalau dia ngadu Mas Andi, terus Mas Andi batalin kontrak kamu, tahu rasa kamu! Sukurin! Aku gak mau ikut campur!"
"Mbak Noooo... Maaf. Aku. Aku tadi bingung Mbak."
"Urus-urusanmu sendiri! Aku nanti tinggal bilang sama Lilik, udah nyerah ngurusi kamu!" ketusnya.
"Mbak No... Maaf."
Nyesel aku sekarang. Kenapa sih bisa gegabah begini? Kalau dia beneran ngadu sama Mas Andi gimana?
"Mbaaak..." cicitku pelan. Asli sekarang aku bingung banget.
"Apa! Takut?" Sindirnya.
"Aku harus gimana Mbak?"
"Terserah. Suka-suka kamu aja, Yang! Tadi aja kamu bertindak semaumu!"
"Mbak... Maaf. Jangan gitu dong..." rengekku lagi. Asli kali ini aku jadi pengin nangis. Gimana kalau yang diucapkan Mbak Retno kejadian? Gimana kalau Mbak Retno beneran ngadu sama Mama? Udah pasti Kanjeng Ratu ikutan murka kalau tahu anaknya berulah. Belum lagi kalau Mbak Gita tahu, gimana? Sumpah, bego banget sih Yang!
"Bodo amat!"
"Iya maaf Mbak. Aku harus gimana sekarang? Aku hubungi dia aja? Mana nomornya Mbak? Biar aku minta maaf," ujarku.
"Ra usah!"
"Kok gitu tho Mbak? Aku yo wes minta maaf tho."
"Minta maaf sana sama Mas Tian!" ketusnya.
"Iya. Mana nomornya, Mbak?" tanyaku serius.
"Dia marah Mbak?"
"MENURUTMU?" Tuh kan. Ngegas lagi.
"Masa gitu aja marah Mbak?"
"Ya kalau kamu di tipu, marah ndak kira-kira?" tanya balik Mbak Retno padaku. "Mbak tadi udah bilang kalau dia tertarik sama kamu, 'kan? Ngeyel banget kalau dikasih tahu," omel Mbak No tak henti.
"Tapi kan Mbak—"
"Udah. Mbak males marah-marah terus sama kamu. Bikin darah tinggi aja! Mbak tutup. Assalamu'alaikum!" ketusnya tanpa mau mendengar penjelasanku lagi.
Sumpah. Baru pertama kali ketemu si Tian, udah bikin ruwet. Mau ngapain sih itu orang hubungi aku segala? Gak cukup apa, tadi bikin aku kena mental?
Asli, gara-gara itu orang, aku jadi gak bisa tidur semalaman. Mikirin Mbak Retno yang pasti murka hari ini. Mikirin minta maaf sama si Tian atau enggak. Mikirin takut si Tian ngadu sama Mas Andi. Belum lagi kalau Mama tahu gimana?
Aku bener-bener kayak tersangka. Padahal salah si Tian kan? Dari awal salah orang itu. Udah ketus, ngancam pula. Ngapain coba pakai minta nomor hape aku? Mbak No malah bilang dia suka aku? Haha lucu.
Mustahil, orang kayak gitu mana mungkin suka perempuan? Sama Mas Andi aja posesifnya gak kenal tempat.
"Yaaangg... di suruh sarapan sama Ama," teriak Farel — pemilik tahta tertinggi di rumah ini begitu masuk ke kamarku.
Ini anak, manggilnya gak berubah dari awal bisa ngomong. Gara-gara dengerin seisi rumah manggil Yang-Yang, dia jadi ikutan manggil nama tanpa embel-embel Tante, Lilik, atau aunty sama sekali.
"Yaang... banguuun..." teriaknya tepat di telingaku saat aku pura-pura tidur. Ish! Ini bocah pagi-pagi udah ngerusuh aja. Emang mirip banget sama bapaknya.
__ADS_1
"Hmm... Yayang masih ngantuk, Reel."
"Cepetan banguuuunnnn... Bule udah nunggu di bawah," ujarnya sambil mengguncang tubuhku.
"Hah? Bule Retno?" tanyaku kaget. Si Farel ngangguk polos.
Mati!
"Bule lagi ngomong sama Ama. Cepetaaan... Kata Ama, Yayang sarapan dulu," ujarnya seraya menarik tanganku agar lekas bangun.
Wah... Beneran murka kayaknya Mbak Retno kalau sampe ngadu sama Mama. Aku mesti gimana?
"Yaaaangg..." teriak Farel yang sesaat keberadaannya tak aku hiraukan.
"Eh? Ayo turun Rel," ajakku. Ini anak malah lihatin aku.
"Yayang gak cuci muka?"
"Oh, iya. Yayang mau cuci muka dulu. Kamu duluan aja," titahku.
"Aku tungguin aja. Nanti kalau Yayang jatuh di kamar mandi, gimana?"
Duh, bocah 5 tahun udah pinter banget gombal. Fix sih, turunan Mas Tantra Puja Permana. Kelakuannya ada-ada aja.
"Emang kalau Yayang jatuh, Farel mau apa?" tanyaku sambil mesem bahagia diperhatiin bocil.
"Ngetawain aja," jawabnya tanpa ekspresi.
Dasar bocah tengil!
"Yayang bilangin Mami ya? Kamu tega sama Yayang," aku pura-pura merajuk sama bocil ini.
"Maaf, Yang. Becanda doang, masa marah," si bocil nyolek pinggangku.
"Heh! Genit! Diajari siapa?"
"Gak di ajari kok. Aku lihat Papi colek-colek Mami gini. Tapi Mami gak bilang genit tuh sama Papi. Malah ketawa-ketawa."
Wah... Parah banget... Si bocil udah dapet edukasi cara merayu gadis sejak dini. Emak Bapaknya mesra-mesraan gak kenal tempat. Gimana kalau ini anak niru yang enggak-enggak?
"Kamu jangan gitu ya Rel, nanti kamu nyolek orang sembarangan, kamu di omeli lho," sengaja aku takut-takuti biar gak jadi kebiasaan.
"Aku gak berani kok. Beraninya sama Yayang aja."
"Bener?"
"Iyaaa... Ayo buruan, Yang. Lama banget," Farel menarik tanganku.
Aku cuma bisa narik nafas panjang sambil berdoa moga aja Mbak No amnesia soal semalam.
Sengaja banget turun tangga pelan-pelan demi menyiapkan mental menghadapi Mbak Retno dan Mama.
"Naaah... ini loh Lik pelakunya..." ujar Mbak Retno pada Mama saat aku tiba di ruang makan. Tatapanku beralih ke Mama yang juga menatapku dengan tatapan yang sudah aku hafal banget akan ada scene apa setelah ini.
"Sini duduk, Yang," titah Kanjeng Ratu tanpa ekspresi.
.
__ADS_1
Absen dong, yang ngikuti novel ini banyak gaak? Hihi...