Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Kabar Duka


__ADS_3

"Boy meninggal, Yang," ujar Mbak Retno padaku.


"Boy? Boy yang—"


"Iya. Yang itu," potong Mbak Retno membuatku syok.


"Innalillahi... Kenapa emangnya? Sakit atau kenapa?" tanyaku penasaran sementara si Babas sepertinya sedang mencuri dengar percakapanku dengan Mbak Retno.


"Denger-denger katanya Aids," cicit Mbak Retno. Aku semakin syok. Apalagi aku tahu bahwa dia... Ya Tuhan, ngeri...


"Kita mau melayat kapan, Mbak?" tanyaku akhirnya.


"Hmm... Mau sekarang?" Mbak Retno balik bertanya.


"Mbak... Kalau sekarang, aku... aku lagi sama Mas Tian," aku melirik si Babas tak enak.


"Pacaran trooosss... Bilangnya putus. Putus apa? Putus urat malu?" sindir Mbak Retno.


"Berisik Mbak!"


"Ya lagi—"


"Jadi kapan mau ke rumah duka?" potongku kembali membahas mengenai Boy. Kalau gak digituin, Mbak Retno bakal nyinyir terus. Mana depan orangnya, pula.


"Terserah kamu. Mau besok juga oke. Kamu tanya temen-temen kamu yang lain gimana? Siapa tahu kamu nanti janjian sama temenmu."


"Iya nanti aku coba cari info juga. Dari tadi aku gak mainin hp soalnya," terangku.


"Terus mainin apa dong? Awas jangan mainin yang aneh-aneh, takutnya nanti malah disemangati setan."


"Aneh-aneh apa sih, Mbak! Orang aku sama Mas Tian lagi di... taman kok. Udah ah, aku tutup dulu. Ini mau pulang.  Nanti aku kabari lagi. Assalamu'alaikum." ujarku langsung menutup telepon tanpa mendengar jawaban dari Mbak Retno. Gak enak juga sama si Babas karena aku berbohong.


Ku lirik si Babas yang sedang menatapku tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Maaf Mas aku bilang lagi di taman. Kalau tahu lagi di sini, nanti dia makin heboh. Terus laporan sama Mama. Terus nanti Mama telepon aku dan Mas juga bakal kena ceramah Mama kayak tadi," terangku panjang lebar.


Si Babas cuma tersenyum, "santai. Mas paham kok," jawabnya. "Siapa yang meninggal?" tanyanya tanpa memutus pandangannya dariku.


"Temen Mas," jawabku. Aku jadi teringat saat pertama bertemu si Babas dulu. Saat itu aku menyamakan si Babas dengan Boy karena ku pikir dia kaum pelangi juga.

__ADS_1


"Oh. Mau Mas antar ke sananya?" tawar si Babas.


"Enggak usah. Aku sama Mbak Retno aja, Mas," tolakku.


Aku masih waras, gak mau bikin heboh kalau aku bawa si Babas ke rumah duka. Selain nanti banyak teman model dan beberapa artis, pasti ada juga wartawan yang meliput karena Boy sendiri udah jadi aktor sinetron meski namanya gak begitu melejit. Gak etis rasanya kalau nanti kena paparazi lagi pas di tempat duka.


"Malam ini ngelayatnya?" tanya si Babas.


"Besok deh, Mas. Biar enak ke sananya. Lagian kan biasanya gak buru-buru di kubur juga. Eh, gatau di kubur atau di kremasi. Aku belum dapat info," ujarku sambil mengambil hp di meja.


"Ya udah, jadi pulang santai aja ya?" si Babas memainkan alisnya.


"Iya. Santai aja. Tahu-tahu nanti Mas sendiri yang diceramahi Mama," ketusku.


Si Babas tertawa, "masih sore, Sayang. Kita pulang ke rumah dari sini jam 7 aja, ya?" pintanya. "Mas masih mau bareng kamu," rayunya padaku.


"Aku takut Mama ceramah, Mas," ujarku jujur. Sekarang aku mau hidup damai dan sentosa. Pengin nikmati hari-hari yang menyenangkan lagi. Kayaknya udah lama gak ngerasain kayak gitu.


"Dari sini jam 7 nyampe rumah jam 8an. Masih belum jam 10, Yang. Mau ya? Mas pengin masak buat dinner kita. Mau ya?" rayunya lagi.


"Ck... Gak makan di rumah aja?" tanyaku.


"Kalau lapar, nanti makan lagi di rumah kamu," Si Babas nyengir. "Sekarang Mas mau masak buat kita. Itung-itung latihan," cengirnya seraya bergerak menuju dapur. Mau gak mau, aku ikut senyum mendengarnya. "Sini Yang, kamu mau makan apa?" ajaknya membuatku mau tak mau bangkit mengikutinya.


"Wagyu, salmon?" tanyanya mengacungkan daging dan ikan kepadaku.


"Bebas. Aku suka dua-duanya asal matang, Mas," jawabku.


"Yakin salmon suka?" tanyanya ragu.


Aku mengangguk, "masih bisa makan, Mas. Kecuali ikan yang memang tercium amis gitu, baru aku gak suka," jawabku mantap.


"Oke. Wagyu aja biar aman," si Babas kembali menyimpan salmon di freezer.


Kalau mau masak daging, ngapain nanya? Dasar om-om labil.


Tapi meskipun labil, kemampuan memasaknya memang patut diacungi jempol. Darah bulenya lebih kental dalam urusan masak-memasak. Terbukti dengan penggunaan bumbu masakan dan cara masaknya dia yang beda dengan keluargaku.


Kanjeng Ratu kalau masak daging cuma di rendang, semur, gule, tongseng, pokoknya makanan yang rempahnya melimpah ruah sampe makan pake bumbunya aja udah enak banget.

__ADS_1


Tapi si Babas masak simple, minim bumbu dan masih tetap menggugah selera dengan tampilannya. Tapi gak tahu rasanya gimana.


Sementara si Babas masak, aku sibuk menata meja makan. Aku jadi membayangkan bagaimanan rasanya hidup berdua dengannya. Apakah akan seseru ini? Atau nanti malah hambar?


Yang jelas, seharian ini aku merasakan sesuatu yang berbeda. Mulai dari pertemuan, obrolan, bahkan tindakan-tindakan si Babas membuat khayalanku berkelana ke masa depan bersamanya.


"Bon appetit," ujar si Babas padaku setelah kami duduk berhadapan. Dinner ala-ala fancy begini ternyata bisa dilakukan di rumah. Tak harus ke tempat mewah. Apa karena rumah si Babas yang mendukung suasana? Ah, tanpa disadari, aku merasa nyaman di sini. Suasananya lebih tenang dari pada di rumah. Sampe aku pun merasa betah berduaan dengannya.


Kalau gak ingat Kanjeng Ratu dan status kami yang masih ilegal buat tinggal bareng, aku enggan pulang ke rumah. Tapi lagi-lagi wajah Mama menghantuiku, mau tak mau kami harus pulang ke rumah dan mendapat sambutan dari Mama yang ternyata sudah menunggu kami dari tadi.


"Mas pulang ya?" bisiknya padaku.


Aku hanya mengangguk meski tak rela harus berpisah. Sumpah, kenapa aku jadi alay begini sih?


"Besok kabari Mas kalau kamu pergi, ya?" pintanya padaku. Aku mengangguk lagi sambil menatapnya menjauh setelah dia pamit pada Mama.


Gladi resik hidup serumah bareng Mas gantengku hari ini sungguh menyenangkan. Aku malah gak sabar buat tinggal bareng dia. Saking gak sabarnya, sampe kebawa mimpi dan bangun dengan hati ceria padahal aku mau ngelayat yang meninggal.


Tapi kesenanganku lenyap begitu tiba di rumah duka. Sesuai dengan outfit serba hitam yang aku pakai, duka kehilangan begitu jelas terasa.


Sebagian bergerombol sambil berbincang dengan mata bengkak. Sebagian lagi sedang berdoa di depan peti jenazah sambil menangis. Boy memang se-humble itu. Wajar jika banyak orang yang kehilangan sosok cerianya.


"Yang..." sapa Mieke teman seperjuanganku.


"Long time no see, lo kemana aja?" tanyaku padanya.


"Gue pindah ke Bali, Yang," jawabnya.


"Pantesan. Gue liat story lo pantai terus. Betah disana?" tanyaku.


"Di betah-betahin aja. Orang disana gue kerja," jawabnya. "Gue balik ke sini karen denger berita ini. Sumpah, gak nyangka Boy bakal ninggalin kita secepat ini. Padahal, tiga atau empat bulanan yang lalu, dia nyamperin gue bareng si Nico," ujarnya sambil memainkan lengannya.


Nico? Nico si brengsek itu? Ternyata orang itu masih hidup?


"Nico?" tanyaku penasaran.


"Iya. Mantan lo. Pantes lo putus sama dia. Gue bar—"


"Yang..." panggil seseorang seraya mendekati kami.

__ADS_1


"Panjang umur lo, Nic," seru Mieke pada seseorang yang pernah singgah di hidupku.


...Waaah.... Akhirnya ketemu si Nico lagi. Yayang dilema gak yaaaa? ...


__ADS_2