
"Mbak... hari ini libur ya? Aku kayaknya gak enak badan," ujarku begitu Mbak Retno mengangkat telepon dariku.
Kepalaku sakit banget gara-gara mikirin buku catatan si Babas sampe aku gak bisa tidur sama sekali.
"Wa'alakumsalam," sindirnya.
"Assalamu'alaikum ya ahli kubur," jawabku yang langsung mendapat bentakan dari Mbak Retno.
"Kurang ajar! Doain Mbak meninggal! Teganya kamu sama Mbak!" omelnya gak henti.
"Becanda, Mbak. Ya ampun..."
"Becandamu itu gak lucu lho, Yang!"
"Iya. Maaf... Mbak, aku serius. Hari ini aku libur ya?"
"Kenapa? Tian apain kamu sampai kamu minta libur gitu?"
"Gak apa-apain, Mbak," jawabku malas.
"Mbak kaget lho, semalam Mbak mau susul kamu eh Tian tiba-tiba telepon katanya biar dia yang anterin kamu pulang. Yowislah, Mbak akhirnya pulang. Gak jadi susul kamu."
"Kenapa gak datang aja sih? Aku telepon Mbak malah gak diangkat-angkat!" gerutuku.
"Ya biar kalian ada waktu buat bicara. Mau sampai kapan hubungan gak jelas begitu? Kalau ketemu kan jadinya jelas. Buktinya dia udah tancap gas lagi buat anterin kamu pulang," jawabnya santai.
"Ya tapi—"
"Jadi baikan? Dia kasih alasan apa sama kamu selama dia menghilang? Mbak semalam sempet tegur dia."
"Mbak tegur gimana?" tanyaku penasaran.
"Ya, jangan ngilang-ngilang. Yayang jadi uring-uringan gak jelas," Mbak Retno terbahak.
"Enak aja! Aku gak uring-uringan, ya!"
"Tapi sensian," cibir Mbak Retno di seberang sana.
"Enggak ya, Mbak!"
"Enggak. Gak salah lagi," jawabnya. "Sing penting sekarang udah clear kan masalahnya? Udah mesra lagi kan?" godanya. "Terus apa alasan dia ngilang selama dua mingguan ini? Ke Mbak bilangnya dia ada masalah di perusahaan," cerocos Mbak Retno tanpa henti. Dia nanya udah kayak wartawan yang berburu berita. Gak sabaran banget. Aku harus respon yang mana dulu coba?
"Idem," jawabku singkat. Biar Mbak Retno penasaran.
"Sudah ku dugong. Pacarmu itu kan bukan orang sembarangan, Yang. Harus banyak-banyak maklum. Tapi gak bisa di maklumi juga sih kalau gak ada kabar sama sekali. Masa buat WhatsApp atau telepon gak ada waktu?" gerutunya. Emang labil Mbak yang satu ini. Tadi dia bilang harus maklum, eh sekarang dia sendiri juga yang bilang gak bisa di maklumi kalau tanpa kabar. Lha, terus aku kudu piye?
"Mantan pacar, Mbak. Udah gak penting lagi kalau sekarang gak kasih kabar," ralatku.
"Ha? Opo Yang? Maksudnya mantan pacar apa? kalian putus?" tanyanya histeris. Nadanya langsung naik dua oktaf dari biasanya. Untung telingaku udah teruji, jadi gak sawan lagi denger suaranya yang melengking itu.
"Hmmm—"
__ADS_1
"Wes, Mbak ke rumahmu sekarang. Awas kalau kamu menghindar!" ancamnya.
Ya udahlah, aku emang butuh Mbak Retno juga biar sedikit tenang. Gitu-gitu dia suka kasih saran, apa yang harus aku lakukan karena aku udah lelah banget setelah menangis semalam kayak Audy. Belum lagi mataku kayak abis oplas, bengkak sampe njendul gini.
Siapa tahu dengan berbagi cerita sama Mbak Retno bebanku sedikit berkurang. Palingan nanti kalau aku cerita, dia ngomel dan gak segan siksa aku dengan geplakannya.
Dan benar aja, begitu tiba di rumah, Mbak Retno buru-buru naik ke kamarku. Gayanya itu lho, grasak-grusuk gak jelas. Suara melengking tinggi jwwab pertanyaan Mama depan pintu kamar.
"Kok bisa putus tho, Yang? Semalam kan dia anterin kamu pulang?" tanyanya begitu sampe di kamarku. Belum duduk sama sekali, bahkan gak ada sapaan basa-basi sebagai pembuka, Mbak Retno langsung gaspol meneror ku dengan pertanyaannya.
"Wa'alaikumsalam," sindirku mengingat sindirannya di telepon tadi.
Mbak No nyengir, "Assalamu'alaikum ya ahli kubur," balasnya tak mau kalah.
Sialan.
"Yang, kok bisa putus? Terus dia kan nganterin kamu?" ulangnya bertanya hal yang sama. Gak sabaran.
"Bisa lah. Emangnya kalau putus gak boleh nganterin?" sarkasku.
Mbak Retno membuka mulutnya yang langsung ku beri kode dengan menempelkan telujuk di bibirku agar dia diam. "Mama belum tahu," ujarku dengan suara lebih pelan.
"Baru Mbak mau tanya," jawabnya. Dia langsung ikutan berbisik. Sumpah, lucu banget kelakuan Mbak Retno.
"Semalam si Tian mau ngomong sama Mama sama Mas Puja juga soal kita putus. Tapi dia kayak yang ragu gitu lho. Ya udah, akhirnya aku suruh pulang aja karena udah malem. Dan aku juga belum siap bilang apa-apa sama Mama."
Menaruh tasnya di kursi, Mbak Retno mendekatiku. "Dia yang mutusin kamu?" selidiknya. "Atau kamu yang putusin dia?"
"Apa?" tanyanya tak sabar.
"Aku yang putusin dia," jawabku. Kemudian mendapat geplakan pedes di pahaku. "Aw..."
"Terus kenapa kamu yang nangis? Gak rela putus? Nyesel?" tanyanya kesal.
"Bukan gitu—"
"Haduh... Dari dulu kamu emang gak pernah beres, Yang," keluhnya.
"Gak beres gimana? Emang Mbak mau digantungin gitu aja tanpa kabar?"
"Ya kan bisa dibicarakan baik-baik. Lagian kenapa gak kamu duluan yang hubungi dia kemarin?"
"Kemarin yang suruh aku bertahan biar gak hubungi dia siapa? Mbak juga kan!"
"Alesan. Emang niatan kamu aja! Pake nyalahin Mbak!" dengkusnya. "Lagian kemarin Mbak suruh bertahan gak hubungi dia bukan berarti kalian putus! Gimana sih? Mana dia janji sama Mbak gak bakalan gitu lagi katanya. Dan Mbak percaya," Mbak Retno melipat kedua tangannya.
"Ya udah. Emang bukan jodoh kalau begitu," gumamku.
"Kamu mau bilang sama Lilik?" tanya Mbak No menatapku lekat.
"Mbak aku..."
__ADS_1
"Hm?"
"Aku... Hm... menurut Mbak aku bilang gak sama Mama?" tanyaku. Padahal bukan itu yang mau aku omongin. Aku pengin jujur kalau aku ambil buku catatan si Babas. Tapi aku takut.
Mbak Retno memijit pelipisnya, "pusing ngurusi hidupmu, Yang... Yang...," keluhnya. "Wis, karepmu lah!" kata kramat yang selalu Mbak Retno ucapkan saat dia bingung atau marah.
"Ngapain aku cerita kalau Mbak juga gak bisa kasih solusi," sungutku membuat Mbak Retno mendelik.
"Lagian, Mbak heran. Kamu itu lho kalau bertindak sesuka hati, ka—"
"Loncat ke sana- ke sini gak?" potongku.
Mbak Retno mengernyit. "Iya. Emang kamu kaya kera. Tapi gak sakti-sakti. Malah ndableg!" ketusnya setelah sadar kalau aku memotongnya dengan lagu opening serial kera sakti.
"Jadi gimana Mbak? Aku kasih tahu Mama jangan?" tanyaku.
"Ra usah dulu lah. Tapi semalam Mamamu gimana?"
"Biasa aja sih. Semalam itu tadinya aku mau nganter si Tian makan dulu. Tapi gak jadi karena Mama udah nyuruh pulang."
"Kok makan dulu?"
"Sibuk nyalamin tamu gak sempet makan bialngnya."
"Kirain Mamamu mau bebasin kamu pulang malem kalau sama si Tian," cengir Mbak Retno.
"Jangan gila, Mbak. Mama setuju sama dia. Tapi s&k tetap berlaku ya," ujarku membuat Mbak Retno tersenyum.
"Iyalah. Namanya juga orang tua. Apalagi kamu gadisnya. Mbak aja yang udah bersuami tetep aja di telepon kalau telat pulang," curhatnya seraya mengeluarkan hape.
"Ya... Situ ngayapnya gak bareng suami sih," sindirku.
Mbak Retno mendelik sebal yang ku balas dengan cengiran. "Kangeen yaaa? Susulin ke Libanon dong," godaku.
"Masih tiga bulan lagi. Nanti kalau dia pulang, Mbak cuti sebulan," ketusnya.
"Cieee... Kejar tayang bikin anak," godaku lagi.
Mbak Retno tersenyum. "Mau di videoin?"
"Amit-amit. Gak seru liat Mbak turun-naik, turun-naik—"
"Heh!"
"Apa? Baju turun-naik. Pikirannya udah traveling aja, Mbak... Mbak..."
"Halah! Kamu juga! Udah pengin turun-naik tapi giliran ada yang mau di ajak turun-naik bareng malah di putusin. Akhirnya nangeeessss... Bisanya nangeeesss..."
"Mbaaaakkkk!"
...Cuuung yang kayak Yayang. Mutusin sendiri, nangis sendiri jugaaaaa......
__ADS_1