Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Bertemu Lagi


__ADS_3

Ada gak yang lebih menyebalkan saat lagi lapar-laparnya tapi pas mau makan di ganggu oleh seseorang? Sumpah, rasanya kesal setengah mati sampai ingin telan semua makanan dengan mangkuk-mangkuknya sekalian.


Dan yang lebih menyebalkan lagi, reaksi Kanjeng Ratu yang buru-buru ngajak pulang begitu mendengar orang itu ada di rumah. Siapa lagi kalau bukan makhluk super duper nyebelin bernama Sebastian Budi Oetomo.


Aaarrggghhhh jiaaanccucok rowoooo!


Gila dong, Mama langsung minta di bungkus ramen yang ada di hadapannya begitu mendengar si Babas ke rumah. Padahal tinggal hap doang itu ramen. Sedangkan aku, makan ramen udah kayak di kejar setan. Boro-boro bisa menikmati.


"Di rumah masih ada makanan kesukaanmu, Yang. Jangan marah kayak gitu tho. Gak enak, di tungguin Masmu. Masa kita malah asyik nge-Mall," ujar Mama sambil nyetir.


Saking antusiasnya, Mama rela gantiin aku nyetir dong, karena aku gak mau pulang. Demi si Babas Tumbas lagi.


"Lagian, kamu juga. Udah tahu Masmu mau ke rumah, kamu malah ajak Mama perawatan. Udah bener kan tadi di rumah aja!" omelnya.


"Lha? Kok aku sih yang di salahin? Aku aja gak tahu si Tian mau datang. Terus tadi yang mau perawatan siapa? Yang gak mau tolak rezeki dari anak, siapa?" sindirku.


"Mama kan gak tahu kalau Masmu mau datang. Kalau tahu, Mama juga gak mau lah. Maksudnya, ganti hari lain perawatannya gitu lho," ujarnya gak mau rugi.


"Bukan Masku, Ma. Masku ya Mas Puja. Mama dari tadi Masmu-Masmu terus. Gak jelas!" ketusku.


"Kalau bukan Masmu, ngapain dia ngapel ke rumah?"


"Ya mana ku tahu lah! Siapa tahu, dia sebenarnya emang ngincer Mama," ketusku lagi sambil menatap kaca samping. Kesel banget, sumpah!


"Ngomongnya itu lho! Sembarangan terus! Gak ada sopan santunnya sama orang tua!" gerutu Mama.


Bodo amat. Aku benar-benar marah banget sama Mama. Terutama sama si Babas. Datang semaunya pasti dengan alasan surprise. Boro-boro surprise, yang ada pengin cekik dia kalau ketemu. Lagi pula, surprise itu untuk pasangan yang dimabuk asmara. Sedangkan aku sama dia aja semrawut gak karuan.


Udah gitu, kedatangannya bikin perutku jadi sakit begini. Tahu kan rasanya makan tergesa-gesa kayak gimana? Habis makan, boro-boro santai sejenak sekedar menurunkan ramen ke dalam perut. Lha ini, ramen masih di tenggorokan, udah langsung di tarik pulang sama Mama.


"Eeeh... Mas Tian. Lama nunggu?" tanya Mama basa-basi begitu tiba di rumah.


"Enggak kok, Tante." si Babas yang lagi main bareng Farel, buru-buru menyalami Mama. Syukurlah dia juga di temani Mas Puja. Biar tahu rasa tuh si Babas diinterogasi Masku. Biasanya mantanku dulu, langsung mundur alon-alon setelah ketemu Mas Puja. Moga aja, si Babas juga sama.


"Lumayan lama, Ma. Katanya dari Bogor langsung ke sini. Malah kita dibawakan oleh-oleh juga," timpal Mbak Gita.


"Owalaaahh... Padahal gak usah bawa oleh-oleh segala lho. Kan kita jadi keenakan," ujar Mama sambil tertawa. "Makasih ya Mas Tian," ujar Mama disela tawanya.


"Sama-sama Tante," jawab si Tian sambil mencuri pandang ke arahku.


"Yayang pitsanya (pizza) mana?" tanya Farel sambil mendekatiku.


"Ya ampuuun... Ama sampai lupa pesanan Farel. Tadi Ama buru-buru pulang," jawab Mama.


"Besok aja, ya?" bujukku.


Kan, kedatangan si Tian emang bikin masalah. Bukan cuma aku aja yang kesel. Tapi si bocil juga pasti ngambek kalau udah begini.


"Gak mau! Mau sekarang!" teriak si bocil.


Tuh, kan!


"Eh, kok rewel? Kasihan Ama sama Yayang baru pulang kalau beli sekarang. Besok aja, ya?" bujuk Mas Puja.


"Enggaak! Sekarang pokoknya!


" Mami yang buatin aja ya?" Mbak Gita ikut bersuara.


"Gak mauuuu!" si bocil mulai deh drama.


"Beli sama Om aja gimana? Mau?" ajak si Babas ikut menenangkan Farel.


"Enggak!"


"Beli pizza sama es krim sama Om, mau?" ajak si Babas lagi.

__ADS_1


"Gak mau! Maunya beli mainan," tawar si bocil. Tuh kan, kecil-kecil udah belajar aji mumpung kayak Bapaknya.


"Deal. Yuk, berangkat." Si Babas malah antusias banget.


"Farel di rumah aja. Biar Yayang sama Om aja yang beli ya?" bujuk Mbak Gita sambil melirikku.


Sialan. Aku tahu maksudmu, Mbaakk...


"Gak mau! Mau ikut!" rengek Farel.


Bagus, Cil... Nangeess yang kenceng sekalian.


"Oke. Let's go buddy. Kita beli mainan," ajak si Babas. "Eh, saya boleh bawa dia keluar kan, Ja?" tanya si Babas pada Mas Puja.


Dih, manggilnya sok akrab banget. Mentang-mentang umurnya lebih tua si Babas dari pada Masku, seenaknya aja udah manggil Ja-Ja segala.


"Boleh. Tapi jangan lama-lama," jawab Mas Puja.


Aku tahu dong, Mas Puja gak semudah itu melepaskanku berduaan sama si Babas. Tapi aku juga heran, kenapa si Farel malah nempel sama dia? Padahal, ini pertama kali Farel ketemu si Babas. Biasanya anak itu agak susah kalau ketemu orang baru. Lha ini, mereka langsung asyik ngobrol berdua di kursi depan sementara aku diminta Farel untuk duduk di belakang. Di kacangin pula!


"Gimana puasa hari ini, lancar?" tanya si Babas setelah memesan pizza. Niat hati mau take away, jadi dine in gara-gara ide si Babas yang langsung di setujui Farel.


Kan, makin kompak aja!


"Alhamdulillah," jawabku enggan.


"Tadi buka puasa di luar?"


Aku hanya mengangguk.


"Buka sama apa?" tanyanya lagi.


"Ramen."


"Kok, ramen?"


"Pengin aja," jawabku.


Si Babas cuma menghela nafas. Dia kayaknya menahan diri untuk tidak membahas lebih lanjut.


"Tadi Mas buru-buru ke rumah kamu buat ajak kamu buka puasa. Tapi malah telat datangnya. Dan ternyata, kamu lagi buka puasa di luar sama Mama," ujarnya.


"Iya. Gara-gara Mas juga aku jadi gak menikmati makananku. Mama buru-buru ngajak pulang begitu tahu Mas di rumah!" ketusku. Pecah juga rasa kesalku padanya. Bodo amat kalau dia tersinggung dengan ucapanku. Aku ngomong apa adanya kok.


"Maaf. Tadinya Mas mau susul kamu. Tapi Mbakmu bilang tunggu aja karena dia tahu Mas dari Bogor langsung ke rumah," jawabnya. "Mbakmu kayaknya tahu perjuangan Mas gimana cuma buat ketemu kamu," ujarnya lagi seolah ingin aku bersimpati.


"Tapi aku gak suka. Mas gak ada kabar seharian, tahu-tahu datang ke rumah gitu aja tanpa kasih kabar aku dulu. Mending kalau aku lagi di rumah kayak kemarin, kalau kayak sekarang? aku jadi buru-buru pulang!" ketusku.


"Tadi Mas gak ada waktu buat main hape, Yang. Acaranya di padatkan, sampai coffee break dan tea time di pangkas biar cepat beres. Dan pas makan siang, Mas pengin hubungin kamu, eh malah sharing bareng jurnalis yang lain. Maaf ya, bukan maksud Mas mengabaikanmu," ujarnya.


Alasan! Padahal bisa WhatsApp kan? Biasanya juga ganggu aku terus!


Lho, kok aku malah kayak ngarep dia WhatsApp-in gini? Aish!


"Nungguin Mas kasih kabar ya?" tanyanya usil.


"Gak lah! Aku cuma gak suka cara Mas datang ke rumah. Suka tiba-tiba kayak gini!" omelku.


"Maaf. Mas kangen kamu sih. Jadi ya... begitu beres, Mas maunya langsung ketemu kamu," jawabnya.


Aku cuma mendengkus sebal. Males debat lagi.


"Maaf ya..."


Aku diam sampai pesanan datang ke meja kami. Seperti biasa, si Babas sudah duduk tegak dengan pisau dan garpu di tangannya. Table mannernya benar-benar dia terapkan dengan baik. Sementara aku sedikit rempong sama si Farel.

__ADS_1


"Farel, kenapa gak pakai garpu makannya?" tanya si Babas.


Wooaahhh... Tumben banget dia bersuara lagi makan gini. Ternyata, dia buktiin ucapannya kemarin.


"Enak pakai tangan, Om," jawab si Farel.


"Tapi tangannya jadi kotor. Tuh, lihat," tunjuk si Babas dengan dagunya.


"Kan bisa cuci tangan."


Bagus Cil. Ada gunanya kamu cerewet. Bisa timpalin omongan dia terus.


Si Babas melirikku yang lagi menahan tawa.


"Percis Tantenya," bisiknya yang masih ku dengar.


"Apa!"


"Enggak. Lucu aja. Farel bisa mirip kamu," jawabnya.


"Mirip apanya?"


"Kalau ngomong gak mau ngalah," jawabnya sambil memasukan potongan pizza ke dalam mulut.


"Enak aja! Mas yang gak pernah mau ngalah! Sekalinya kalah debat langsung pura-pura mau ke kamar mandi," sindirku mengingat kejadian waktu sahur tadi.


"Mas beneran mau ke kamar mandi, Yang. Lagian, kalau di terusin bikin Mas... Udahlah. Gak usah di bahas," jawabnya tanpa melirikku.


"Tuh kan gitu!" gerutuku. Jujur aja, aku merasa gak puas kalau dia begitu. Kalau mau debat, debat sekalian. Biar keluar semua unek-uneknya daripada kayak gini.


"Yang, Mas tersinggung tiap kali kamu ingetin Mas bukan siapa-siapa kamu. Padahal Mas kan lagi berusaha untuk jadi bagian hidup kamu. Kamu bicara kayak gitu, seolah gak menghargai Mas," ujarnya.


"Aku bicara apa adanya kan? Mas emang bukan siapa-siapa aku," jawabku gak mau kalah.


"Iya." Si Babas kali ini mengangguk pasrah membuatku malah jadi merasa bersalah.


"Rel, cepat habiskan biar cepat pulang," ujarku pada Farel untuk memancing si Babas bicara.


"Tapi aku belum beli mainan, Yang," protes Farel.


"Ck... Udah tutup tokonya. Harusnya kalau mau beli mainan dari tadi, bukannya malah makan di sini," omelku pada Farel.


"Om yang ngajak," jawab si Farel gak mau di salahkan.


"Iya. Om salah. Maaf ya..." jawabnya pendek. Wajahnya mulai ditekuk lagi.


Aku tahu dia sebenarnya marah lagi. Tapi tumben banget dia sensi begitu sih? Padahal pas awal-awal, aku juga pernah bilang kalau dia bukan siapa-siapa aku, dan dia jawabnya santai. Kenapa sekarang malah ngambek?


Asli, aku malah gak nyaman kalau kayak gini. Dari makan pizza sampe sekarang mau nyampe rumah, si Babas masih bungkam seribu bahasa. Aku juga males mau ngajak ngomong dia.


"Lho, Mas kenapa berhenti?" tanyaku saat si Babas menepikan mobilnya. Runtuh sudah adu kekuatan buat gak ngomong sama dia.


"Farel tidur. Kamu pindah ke depan, biar Farel aku tidurkan di belakang. Kasihan, nanti leher dia sakit," jawabnya seraya membuka pintu mobil.


Perhatian juga itu orang.


Dengan cekatan, si Babas mengangkat tubuh mungil Farel kemudian menatapku.


"Yang, pindah ke depan," titahnya membuatku sedikit gelagapan. Ya ampun, Yang... bodoh banget cuma diem bae.


Buru-buru aku keluar dan lagi-lagi memperhatikan si Babas membenarkan posisi tidur Farel. Di lihat-lihat, udah cocok banget si Babas kalau jadi bapak.


"Kok diem?" tanyanya membuatku terkesiap. Pandangan mata kami beradu, tapi buru-buru aku melihat ke arah lain.


"Yuk, masuk," ajaknya sambil mengusap kepalaku.

__ADS_1


Maaaa... Kok, aku deg-degan sih?



__ADS_2