Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Gamang


__ADS_3

...Yang nunggu BasYang mana suaranyaaa? ...


...Yuk, di iqro. Biar gak perlu lama-lama. Enjoy... ...


...✨✨...


...✨...


Sepanjang perjalanan pulang, aku cuma bisa bungkam. Padahal Mbak Retno mengajakku bicara banyak hal, tapi ku tanggapi sekedarnya.


Entahlah, rasanya jiwaku melayang mendengar pengakuan Nico tadi. Hati dan otakku berperang. Hatiku percaya akan ucapannya. Tapi nalarku menyangkalnya.


Untungnya Mbak Retno cukup paham kalau aku lagi begini. Dia cuma menyalakan musik buat mengisi sepi untuk menghilangkan rasa suntuk.


Namun masih saja aku gak habis pikir. Kenapa Nico yang harus mengalami hal itu, Tuhan? Nico orang baik. Aku nyaman sama dia. Aku juga mencintainya. Bahkan, rasa sayangku tak luntur sekalipun Nico ninggalin aku gitu aja. Buktinya, aku gak bisa marah, benci atau ngamuk-ngamuk sama dia. Aku malah menerima semua kejujurannya. Dan sedikit iba walau sebenarnya aku di sini yang jadi korban.


Cuma tetep saja rasanya semua itu kayak mimpi. Kebersamaan kami bukan hitungan jari seperti aku mengenal si Babas. Aku tahu baik dan buruknya Nico. Aku tahu apa yang dia suka dan tidak dia sukai. Aku tahu kapan Nico marah, kapan Nico lagi bete. Aku tahu makanan kesukaannya. Sampe brand baju yang sering dia pake, aku tahu semuanya. Tapi kenapa? Kenapa aku bisa luput dari hal yang satu itu?


Di depanku, Nico tidak pernah menunjukan ketertarikan pada lelaki sejenisnya. Tapi kenapa? Lagi-lagi otakku tak terima.


Apalagi di sini, ternyata akulah selingkuhannya. Dia bahkan lebih dulu berhubungan dengan Boy. Astagaaa... Apa waktu Boy curhat dulu, dia sudah merajut kasih dengan si Nico? Gila!


Aku mendesah keras. Rasanya frustasi. Tapi tepukan Mbak Retno di lenganku membuatku menoleh seketika.


"Istighfar kamu. Bersyukur Tuhan gak menyatukan kalian," ujar Mbak Retno seolah mengerti apa yang sedang aku pikirkan.


"Mbak..."


"Hm. Apa? Ngomong aja. Jangan di pendem sendiri," ujarnya melirikku sepintas.


"Mbak... Aku... Aku cuma gak nyangka. Kenapa Nico..."


"Wes tah. Emang udah jalannya. Untung dia ngilang. Kalau nggak, gak kebayang nasibmu gimana, Yang-Yang. Amit-amit kalau kamu lanjut sama dia," Mbak Retno bicara tanpa melirikku kali ini.


"Mbak gak ngeliat yang aneh dari dia selama ini kan? Kenapa bisa sih? Aku masih gak percaya, Mbak," ujarku seraya membalikan tubuhku untuk menghadap Mbak Retno.


"Sama. Mbak juga kaget banget. Masih gak nyangka. Sayang banget si Nico. Udah ganteng, pinter, macho tahunya malah begitu," Mbak Retno menggelengkan kepalanya. "Untung aja kemarin dia beneran ngilang. Kalau enggak, kamu-"


"Dia emang sengaja ninggalin aku!" ketusku. "Katanya gak mau ngerusak aku," ujarku sesuai dengan ucapan Nico tadi.


"Baguslah. Dia masih sadar diri. Tapi kenapa dia gak jujur dari awal? Kalau tahu dari awal, kamu gak mungkin terjebak rasa cinta sama dia!"ketus Mbak Retno.


Aku cuma diem. Males ngejelasin kenapa Nico gak jujur dari awal.


"Awas aja kalau nanti kamu masih berhubungan sama dia, Yang," ancam Mbak Retno padaku.

__ADS_1


"Ck... Ya sekedarnya aja, Mbak. Yang jelas aku kan udah tahu dia begitu. Dia juga tahu kok, aku udah ada Tian,"


"Bagus kalau dia tahu," jawab Mbak Retno sambil memutar stir. "Moga aja dia gak ganggu-ganggu kamu lagi."


"Mbak hati-hati jangan sampe cerita sama orang lain," ancamku merasa hal ini adalah aibku sendiri karena aku ikut terseret arus si Nico. Walau bagaimanapun, akulah yang jadi tameng di depan orang-orang. 


"Kamu gak percaya sama Mbak?" sindirnya.


"Mbak kan suka ngadu sama Mama. Jangan bilang lho... Nanti Mama pasti ngomel," ketusku.


Mbak Retno tersenyum, "Mangkane, omongan orangtua itu di dengar. Udah jelas gak seiman, tapi kamu masih ngotot. Sekarang, udah tahu dia begitu, kamu baru sadar. Kemana aja selama ini?"


"Mamamu gak mungkin ngelarang kalau kalian jelas seiman. Buktinya, Mas Tian yang umurnya jauh sama kamu, Mamamu setuju," ujarnya membuatku teringat lagi pada si Babas.


"Mulai kerasukan Mama," gumamku membuat Mbak Retno sedikit menyunggingkan senyum. "Pokoknya awas aja kalau Mbak bilang-bilang sama Mama perkara si Nico. Aku pasti marah sama Mbak," ancamku lagi yang tak mendapat jawaban Mbak Retno.


Aku kembali menatap jalanan. Tanpa sadar ku mainkan cincin yang tersemat di jemari.


"Mbak..."


"Hmm..."


"Libur lagi ya?" pintaku.


Mbak Retno melirikku galak, "terserah!" ketusnya.


"Banyak. Itu di bawa separo siapa tahu mau take video di luar."


"Emang apa aja yang dibawa?"


"Kripik pedes, lotion, sendal, craft, sama topi," ujarnya.


"Ya udah. Cari taman aja, ya? Tapi setelah beres aku mau ngomong sama Mas Tian, Mbak," pintaku. Mbak Retno menatapku curiga.


"Cuma mau mastiin, Mas Tian kayak Nico atau nggak," ujarku untuk menjawab tatapannya.


"Kalau dia gak kayak Nico, kamu tetep hati-hati. Setan ada dimana-dimana," ujarnya. "Jangan mentang-mentang mau tunangan lantas kalian berbuat seenaknya," lanjut Mbak Retno setelah ku beritahu semuanya. Apalagi dia melihat cincin ini, gimana gak histeris coba?


"Ck... Gila apa ya? Sama Nico udah bertahun-tahun, aku biasa aja. Aman-aman aja. Apalagi sama Tian yang baru kenal, Mbak. Tahu gak, aku mau ketemu Tian karena resah. Boro-boro mau tergoda setan," ketusku.


"Ya siapa tahu kalian malah khilaf," Mbak Retno tetep keukeuh pada pendiriannya. "Apalagi Tian udah berumur. Bisa aja selama ini dia sering jajan di luar," lanjutnya membuatku tertegun.


Ya Tuhan, iya juga.


"Tapi jangan nething dulu. Siapa tahu Mas Tianmu itu beneran dijalan yang lurus."

__ADS_1


"Terus aku harus gimana?" tanyaku akhirnya.


"Ya tanya-tanya mengalir aja. Masa harus Mbak yang turun tangan," ejeknya.


Seolah terpanggil oleh obrolanku dan Mbak Retno, Tian tiba-tiba telepon untuk membahas pertemuan kekeluarga.


Bayangkan, baruu aja syok karena si Nico. Kini si Babas memberitahu kalau Mamanya akan datang di hari Minggu. Itu artinya tiga hari lagi. Gilaa... Pening banget rasanya kepalaku. Belum apa-apa, aku sama dia udah debat aja di telepon karena hal ini. Sampe bikin aku semangat buat cepat-cepat beresin kerjaan.


"Tian tuh Yang," Mbak Retno menggedikan dagunya menatap lurus ke belakangku dimana Tian berjalan menghampiri kami untuk menjemputku setelah kami berdebat.


"Udah beres kerjanya, Mbak?" tanya si Babas basa-basi menyapa Mbak Retno.


"Baru beres. Gak ngantor, Mas Tian?" Mbak Retno balik bertanya.


"Ngantor. Cuma... Saya mau bahas sesuatu dulu sama Yayang. Saya boleh ajak Yayang sebentar buat ketemu Mama saya, Mbak?" tanya si Babas membuatku kaget.


"Kok ketemu Mama?" protesku.


"Biar jelas semuanya," jawab si Babas seraya menatapku.


"Udah. Kamu ikut Mas Tian aja dulu, Yang. Asal jangan pulang terlalu malam ya, Mas?" pinta Mbak Retno.


Aku hendak protes lagi tapi Mbak Retno melotot membuatku urung bicara.


"Iya, Mbak. Seperti biasa paling telat jam 9 atau 10 malam," jawab si Babas kemudian melirikku kembali. "Yuk," ajaknya.


Aku menghela nafas. Tapi cuma bisa pasrah mengikuti si Babas berjalan menuju mobilnya.


"Mas, jangan ketemu Mama dulu," pintaku begitu kami masuk ke dalam mobil.


"Dar—"


"Sebelum lebih jauh, aku mau tanya sesuatu sama Mas," potongku membuat kening si Babas berkerut.


"Apa?" tanyanya.


"Mas suka laki-laki?" tanyaku to the point.


"Ha?"


...Bestiee... Aku mau ingetin lagi, yang belum follow atau subrek di sosmed yuukkk... bantu follow. ...


...Igeh : @only.ambu...


...Yucup : cerita ambu...

__ADS_1


...Mamaciiw... ...


__ADS_2