Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Tak Ku Sangka


__ADS_3

Menikmati masa liburan produktif dengan rebahan sambil dengerin musik itu sesuatu hal yang sangat langka buatku. Begini aja aku udah bahagiaaaa banget. Jarang-jarang kan, ada kesempatan kayak gini? Walau di pojokan kamar udah numpuk barang kiriman yang harus aku review, tapi tanpa Mbak Retno, aku mana bisa?


Namun sayangnya, kebahagiaanku itu gak berlangsung lama. Selalu aja direnggut. Kalau bukan Mbak Retno, ya Kanjeng Ratu yang merenggutnya.


Atas titah Kanjeng Ratu, aku di suruh turun cuma buat nungguin paket Mbak Gita. Ish! Kenapa sih, Mama gak bisa lihat anaknya santai sedikit? Mesti aja apa-apa di komplenin. Rebahan di komplain, bangun siang di komplain, padahal aku gak berulah sama sekali. Cuma diam di kamar, tapi Mama bilang gerah lihat aku malas-malasan. Masa aku harus qerja qeras bagai quda terus?


"Jangan di pindahin chanelnya, Yang," ujar Mama sambil berdiri setelah mendengar suara adzan.


"Iya," jawabku singkat.


"Awas, Mama shalat, kamu jangan kabur ke kamar! Tungguin di sini. Takutnya paket Mbakmu datang," titahnya.


"Ck... Iya." Bawel banget sih Kanjeng Ratu.


"Iya-iya tapi nanti kamu tinggalin ke kamar, awas aja!" gerutunya.


"Ya Tuhan, iya Mama... Gak percaya banget sama anak sendiri," jawabku kesal.


Ada gak sih, yang punya Mama tapi gak percayaan sama anaknya sendiri selain Mamaku? Kayaknya kalau ngomong gak pakai ngancam tuh, gak afdhol buat Mama.


Lagian, kenapa juga Mbak Gita malah nge-Mall? Bukannya tungguin sendiri kek paketnya! Masa dari siang, aku kudu diem terus di sini demi nunggu si Kang Paket?


"Permisiiii.... Pakeeett..."


Ah, panjang umur juga si Kang Paket. Setelah ini, aku bisa bebas tugas, terusin lagi rebahan yang sempat tertunda.


"Hai..." sapa seseorang, saat aku membuka pagar.


Aku cuma diam. Tak percaya kalau di hadapanku ini... si Babas Tumbas.


Bukannya tadi Kang paket ya?


"Mas ngapain ke sini?" tanyaku refleks. Itu suara hatiku kenapa keluar begitu saja sih?


"Gak boleh ya?" tanyanya.


"Bukan gak boleh, tadi bukannya kurir yang—"


"Ini. Saya yang ambil," cengirnya tanpa merasa bersalah sambil mengacungkan paket di tangannya. "Buat Mbak Gita kan?" tanyanya.


"Ha? I... Iya."


Dia kenal Mbak Gita?


"Jadi, saya boleh ke sini 'kan?" tanyanya lagi.


"Mas, tahu dari mana kalau ini rumah saya?" tanyaku heran tanpa peduli pertanyaan yang dia lontarkan.


"Ada deh," jawabnya dengan senyum tipis. "Saya boleh masuk?"


"Ha? Oh, boleh-boleh. Silahkan, Mas," jawabku bingung sambil membuka lebar pagar rumah.


"Thanks, Yang,"


"Masuk, Mas," ajak ku pada si Babas begitu masuk ke dalam rumah.


"Hmm..." gumamnya seraya memindai rumahku.


"Mamamu ada?" tanyanya.


"Ada. Oh, Mas kesini mau ketemu Mama?"


"Bisa di bilang begitu," jawabnya penuh percaya diri.


Dia kenal Mama sama Mbak Gita? Kok, mereka gak cerita? Gak mungkin kan, si Babas ini instruktur senamnya Mama dan Mbak Gita?


"Emang Mas kenal Mama?" tanyaku.


Si Babas tersenyum, "ini mau kenalan," jawabnya.


Gimana?

__ADS_1


"Mau kenalan?" cicit ku. Otakku selalu lemot deh kalau sama dia.


"Iya. Masa udah jauh-jauh ke sini, saya gak ketemu dan kenalan sama Mama kamu," jawabnya lagi seraya menjatuhkan punggungnya dengan santai di sofa kesayangan Mama. Padahal aku belum mempersilahkan duduk lho.


Mau apa sih ini orang? Tiba-tiba udah ada di depan pagar tanpa di undang. Tiba-tiba bilang mau kenalan sama Mama. Gila kali ya?


"Yang," panggilnya.


"Eh, iya Mas," aku meringis.


"Kenapa? Bingung ya, saya datang?" tanyanya membuatku mengangguk. Dia tertawa pelan.


Tertawa guys.


Baru kali ini, aku melihat tawanya yang super renyah. Lagian, kok dia bisa tahu isi pikiranku sih?


"Ya udah, sana panggil Mama kamu dulu. Mama gak tidur jam segini kan?"


"Enggak lah."


"Ya udah, sana," titahnya.


Aku langsung beranjak ke kamar Mama. Untungnya rumah lagi sepi banget kayak gini. Ternyata ada gunanya si bocil sama orangtuanya jalan ke Mall dari siang. Coba kalau mereka di rumah? Udah pasti mereka heboh dengan kedatangan si Babas.


"Maaa..." sapaku sambil nyelonong masuk ke kamar Mama.


"Apa? Udah datang tukang paketnya?" tanya Mama sambil membuka mukena.


"Itu... ada tamu, Ma," jawabku.


"Siapa?" tanya Mama heran. "Kok, magrib begini bertamu sih, Yang?" tanyanya.


"Ya mana aku tahu lah! Katanya mau ketemu Mama."


"Siapa emangnya?" Mama mengernyit.


Aduh, aku harus jawab apa?


"Itu. Pokoknya Mama ke depan deh."


"Gak tahu. Iya kali," jawabku sekenanya.


"Yang! Yang bener kalau di tanya orang tua. Sopo sih? Pacar kamu?"


"Bukan."


"Lha terus siapa? Jangan masukin orang ke rumah sembarangan, Yang. Kalau orang itu jahat, gimana?"


"Ya, pokoknya temanku, Ma. Bukan orang jahat."


Mana mau dia berbuat jahat ke rumah ini. Rumah orangtuanya aja dua kali lipat dari rumah ini.


"Bilang teman kok susah banget. Udah di kasih minum temannya?"


"Belum lah. Aku di suruh manggil Mama dulu sama dia."


"Kok Mama? Katanya temanmu?"


"Ih, lama deh Ibu Lestari. Udah buruan, ditungguin dia," gerutuku hendak keluar kamar Mama.


"Heh! Tamunya bikinin minum dulu!" titah Mama.


Serius, si Babas mau apa sih ketemu Mama? SKSD banget. Aku sama dia aja sama sekali gak dekat. Komunikasi juga baru semalam. Terus tadi siang batal makan bareng. Malah pas aku telepon, si Babas tutup teleponku duluan tanpa basa-basi sama sekali. Habis itu gaaak ada komunikasi lagi.


Eh sekarang, tiba-tiba nongol depan rumah. Pakai suruh-suruh aku panggil Mama segala!


"Kok bengong tho Yang?" suara Mama bikin aku kaget banget. "Bikinin minum temannya. Malah diam begitu," ujar Mama menyusulku ke dapur.


"Aku gak tahu dia suka apa, Ma,"


"Kasih teh manis, kopi, atau sirup. Kok rempong banget sih kamu," protes Mama.

__ADS_1


"Kalau dia ndak suka gimana?" suaraku sedikit ngegas. Pusing lho aku ini mikirin si Tian datang ke rumah mau apa, Mama malah heboh suruh bikin-bikin minum segala.


"Yowis, air putih aja. Kalau kamu gak malu bawanya," ujar Mama yang selalu menjunjung tinggi gengsinya sendiri.


"Ngapain bawa? Kan di ruang tamu juga ada," jawabku.


"Oh, iya," mama tersenyum geli.


Ya udahlah, dari pada bingung, aku balik lagi aja ke depan. Biarin, nanti aku tawari aja dulu, si Babas mau minum apa. Dari pada udah bikin, tahunya dia malah gak suka kan?


"Mama sibuk?" tanya si Babas begitu melihatku.


"Enggak. Baru beres shalat Mas. Mas bukannya lem—"


"Owalaah... Ada temannya Yayang, tho," sapa Mama tersenyum cerah. Dih, Mama basa-basi banget.


"Iya Tante. Perkenalkan Saya Sebastian. Maaf saya bertamu di jam segini," si Babas juga tersenyum sambil menyalami Mama.


"Gak apa-apa. Mas-nya teman model Yayang itu ya?" tanya Mama dengan ke-sok tahuannya.


Mampus. Kayaknya Mama kira, si Babas itu cowok yang kemarin dekat sama aku. Aku malah lupa cerita sama Mama kalau aku udah gak komunikasi lagi sama cowok itu.


"Bukan, Tante. Saya bukan model," jawab si Babas.


"Oh, terus teman—"


"Kita kenal di launching smartphone kemarin Tante. Kebetulan, waktu itu lokasinya di tempat saya kerja," potong si Babas yang kayaknya gatel pengin bilang kalau dia yang punya Oke.com tapi dia tahan-tahan.


Mau pamer bos?


"Oh, begitu," jawab si Mama. Untungnya si Mama angguk-angguk aja, gak tanya lebih jauh. "Lho, temannya gak di buatkan minum, Yang?" tanya Mama padaku. Dih, akting lagi nih Kanjeng Ratu.


"Oh, iya. Mau—"


"Gak usah, Yang. Maaf kalau saya lancang tiba-tiba datang, Tante. Saya... mau minta izin untuk ajak Yayang keluar sebentar mumpung belum terlalu malam. Boleh Tante?" tanya si Babas tanpa basa basi memotong ucapan ku.


Aku kira, dia selalu ngomong to the point sama aku aja. Tapi melihat begini, kayaknya ke semua orang juga sama. Baru ketemu, bukannya basa-basi dulu sama Mama kek, ngajak ngobrol dulu kek, malah berani minta izin bawa anak orang keluar. Di jam segini pula. Untung aja yang diajak anak gadis, bukan orok. Kalau orok di ajak keluar maghrib-maghrib begini, ntar dibawa wewe gombel gimana?


"Oh, boleh. Tapi jangan pulang malam-malam, ya?" pinta si Mama.


Semudah itu Mama lepasin anak gadisnya? Amazing!


"Siap Tante," jawabnya yang langsung beralih menatapku.


Mama juga ikut-ikutan lihatin aku.


"Yang, kamu mau jalan pakai baju itu?" tanya Mama. Suaranya sih selalu lembut kalau depan orang lain, tapi aku tahu kalau itu kode keras buatku.


"Eh?"


"Sana ganti baju," titah Mama. "Ngisin-isini (malu-maluin)" gerutunya yang masih bisa ku dengar.


"Saya ganti baju dulu Mas," buru-buru aku ke kamar.


Sumpaaahhh... Maluuu banget. Kenapa baru sadar sekarang kalau aku cuma pakai kaos oblong sama celana pendek doang. Udah gitu gak polesan sama sekali.


Mampus Yaannggg! Malu-maluin! Kalau begini, bener kata Kanjeng Ratu. Meski di rumah, harus tetap cantik paripurna kayak beliau.


Eh tapi, kenapa juga aku repot-repot mikirin penampilanku? Dia kan bukan gebetan atau pacarku. Malah bagus kali ya, kalau dia ilfil sama aku.


Wis lah, gak usah dandan heboh. Begini aja aku udah cuantik tenan. Gak usah rempong. Tinggal bawa dompet sama hape aja, cukup. Toh, bukan mau kencan juga.


Tapi aku harus pake baju apa, ya? Gak mungkin kan cuma pake kaos doang? Pake baju formal juga gak mungkin, karena bukan mau kondangan. Duh, yang mana ya? malah jadi bingung!


Sambil mikir, tiba-tiba hapeku nyala. Buru-buru aku lihat aja, siapa tahu penting.


Mbak No :


Cieee... diapelin ke rumah. Ciiieeee...


Ah, ternyata dia ember bocornya!

__ADS_1


.


Kira-kira Yayang mau di ajak kemana sama Mas Babas?


__ADS_2