
...Sebelum masuk ke area yang mendebarkan. Alangkah baiknya teman readers membantu saya dengan cara mengfollow dan mensubsribe akun saya. ...
...Youtube : cerita ambu...
...Igeh : only.ambu...
...Bantu follow juga disini ya... ...
...Bagi yang sudah bantu, saya ucapkan terima kasih banyak. ...
...Ciee... Formal banget. Hahaha... ...
...Sarangbeooooo... ...
...✨✨...
...✨...
Bak dejavu, mataku berbinar saat melihat dua bidadara duduk bersisian. Awal bertemu dulu, mereka memakai kemeja polos lengan panjang. Tapi kali ini, kedua-duanya memakai batik slim fit membuat otot lengan mereka terlihat menonjol seakan memanggilku untuk menggelayutinya.
Tapi aku gak boleh serakah. Karena yang satu sudah hak paten milik calon adik iparku. Sementara yang satu lagi segera menjadi milikku seutuhnya. Ahiiw...
Pipiku rasanya panas saat bertatapan dengan pria matang yang menyebut dirinya sebagai calon suamiku. Dia... ganteng seperti biasa. Lebih ganteng malah. Apalagi senyum tipisnya membuat hatiku kebat-kebit genit tapi sekuat tenaga aku berusaha jaim seperti biasa.
Mbak Retno bahkan berkali-kali menyenggol lenganku. Tak hentinya dia memuji calon suamiku yang terlihat begitu kharismatik dan lebih muda, dengan tatanan rambut yang sangat rapi juga jambangnya yang dicukur habis.
Pokok'e guanteng puooolll calon bojoku.
"Maaf kalau keluarga Mbak Yayang kaget akan kedatangan kami yang mendadak. Sejujurnya saya malu lho, Bu, Pak. Ini anak sudah berumur, tapi urusan begini saja kayak anak TK yang lagi ngerengek minta mainan. Harus langsung beli gitu lho."
"Begitu cerita ke saya soal wanita yang lagi dia kejar, dia langsung minta saya datang ke rumahnya. Kemarin sampai saya geplak keningnya, tak pikir ini anak halu," ujar Mama Mas Tian membuat seisi ruangan tertawa. Lha, makin medhok wae gaya bicaranya begitu ketemu Mama.
"Dan ternyata, gak halu. Malah orang yang dia suka pernah membantu acara Ellen tunangan kemarin. Kayaknya, diam-diam Tian ngincer Mbak Yayang dari lama," ujar Mamanya lagi membuat si Babas menunduk malu.
Aku pikir hanya Mamaku saja yang suka mempermalukan anaknya. Ternyata, bule kayak Mama Mas Tian juga sama. Padahal awal-awal ketemu Mamanya gak kayak gini. Atau mungkin, memang beliau sudah terkontaminasi makanya jadi begini? Tabiat ibu-ibu pada umumnya.
"Begitu tahu Mbak Yayang yang jadi incerannya. Saya omeli dia habis-habisan. Kenapa kemarin nikahan adiknya, gak ngundang keluarga Mbak Yayang kalau gitu? Bikin malu orang tua," ujar Mama Mas Tian lagi. "Mohon maaf ya, Ibu, Mas, Mbak," ujarnya pada keluargaku.
"Ndak apa, Bu. Dua-duanya memang kayaknya masih malu-malu mau berterus terang. Anak saya juga begitu. Ada laki-laki yang mau serius kok malah dia maju mundur. Bikin saya gemas," timpal Mama gak mau kalah saing untuk menjelekkan anaknya.
"Mbak Yayang ragu ya sama Tian?" tanya Mama si Babas padaku.
Aku yang gak siap mendapat pertanyaan langsung menelan ludah kasar. "Emm..."
__ADS_1
"Wajar kalau ragu. Saya sebagai Mamanya juga ragu," tambahnya membuat kami tertawa lagi.
"Takutnya dia mau seriusin anak orang karena tersulut adiknya menikah gitu lho," ujarnya. "Kamu serius kan Mas?" tanyanya melirik anak lelaki kebanggaannya.
"Iya, Ma. Saya gak mungkin main-main," jawab Mas Tian mantap. Tanpa senyum sedikitpun. Kayaknya dia juga kesal sama Mamanya.
"Bagus. Jangan sampe bikin malu Mama. Udah datang jauh-jauh ke sini, tapi kamu gak sepenuh hati," ujarnya memberi wejangan di depan kami semua.
"Jadi begitu, Ibu, Mas, Mbak semua. Sesuai penuturan anak saya tadi. Kami ke sini, pertama untuk silaturahmi. Ke dua, sesuai dengan permintaan anak saya, kalau boleh, ingin serius mengajak Mbak Yayang selaku putri, adik, kakak, atau tante kesayangan keluarga — untuk menjadi pendamping Sebastian. Melangkah bersama dalam sebuah ikatan yang sakral mengarungi suka duka kehidupan. Mudah-mudahan keluarga Mbak Yayang mau berbesar hati menerima anak saya yang memang sudah tidak muda lagi ini," tutupnya membuat kami semua tersenyum mendengar akhir kalimat Mama Mas Tian.
Memang beda banget ya, omongan Ibu-Ibu pengurus organisasi. Bicaranya terstruktur, intonasinya tegas, tanpa terdengar gemetar sama sekali. Bahkan Mamanya terlihat begitu rileks saat berbicara. Walaupun diselipi ejekan untuk anaknya sendiri.
"Oh, satu hal lagi. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya ke sini tidak diwakili oleh perwakilan keluarga. Malah saya sendiri yang maju karena benar-benar mendadak. Sementara keluarga Tian kebanyakan tidak tinggal di sini. Jadi saya sedikit sulit untuk mengatur waktu. Ditambah, Tian yang gak sabar minta saya cepat-cepat menandai Mbak Yayang. Kayaknya takut di salip sama yang lebih muda dari dia," tambah Mama Mas Tian membuat keluargaku lagi-lagi tersenyum. "Sekali lagi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya," ujarnya.
"Gak apa-apa, Bu. Kami cukup maklum. Kamipun sama seperti Ibu. Hanya ada keluarga inti dan tetangga kiri kanan saja yang memang sudah seperti saudara," jawab Pak RT yang mewakili keluargaku atas permintaan Mama. Maklum, Mama dan Bu RT, bestie dari dulu. Jadi kalau ada apa-apa, pasti Mama mengabari Bu RT.
"Sebelumnya, saya mohon maaf. Saya tidak bisa menerima permintaan dari Ibu," ujar Pak RT membuat beberapa orang terkejut menatap Pak RT. Si Babas bahkan menatapku dengan kedua alis bertaut.
"Karena... yang berhak menjawab permintaan Ibu, Mbak Yayang sendiri," lanjut Pak RT.
"Duh, Pak RT bikin saya kaget," timpal Mama Mas Tian.
Suasana jadi sedikit riuh.
"Pak RT mau ngeprank nih," celetuk Mas Andi membuat kami tertawa.
"Jadi... Mbak Yayang, silahkan dijawab sesuai dengan hati nurani Mbak Yayang," Pak RT mengalihkan pandangannya padaku.
Tiba-tiba keringat dingin membasahi tengkukku. Duh, deg-degan banget jadi pusat perhatian semua orang. Meskipun acara kami terkesan sangat santai, tapi tetep aja bikin aku dag dig dug serr.
"Mmm... Saya..." ku lirik Mama yang menatapku. "Saya... bersedia," cicitku malu. Si Babas tersenyum lebar mendengarnya.
"Jadi kawin, Yan?" goda Mas Andi membuat kami tertawa. Si Babas mendelik sebal pada Mas Andi.
"Belum lho, Mas. Belum jadi hak milik. Baru mau diikat. Belum boleh di apa-apain," timpal Pak RT.
"Masnya bawa pengikatnya?" tanya Pak RT menatap si Babas.
Lali! Cincinnya kan masih aku pake? Duh—
"Bawa, Pak," ujar si Babas kemudian melirik Mbak Ellen yang mengeluarkan kotak cincin dari dalam tasnya. "Ini, Pak," si Babas mengulurkan kotak cincin berwarna silver pada Pak RT.
Kok dia bawa cincin lagi? Terus yang aku pake cincin apa?
__ADS_1
"Saya yang pasangin, Mas?" goda Pak RT.
"Jangan, Pak!" seru si Babas panik membuat Mas Andi tertawa kencang.
"Ya sudah, Masnya maju sini. Mbak Yayang juga maju," ajak Pak RT.
"Pas di tempat yang didekorasi, Pak. Biar cakep di fotonya," usul Mbak Retno.
"Oh, iya. Ya sudah. Mas Mbaknya di tengah," Pak RT menggeser tubuhnya.
Dengan jantung berdegup, aku pindah posisi menghadap Mas Tian.
"Mas, ini?" gumamku membuat si Babas menatap jariku yang tersemat cincin pemberiannya.
"Simpan dulu," jawabnya pelan.
Aku melirik Mbak Retno dan mengedipkan mata agar dia mendekat. Untungnya Mbak Retno paham arti kedipanku.
"Titip, Mbak," ujarku pada Mbak Retno.
"Yang ini buat Mbak aja," goda Mbak Retno membuatku melotot.
"Lho, kok udah pake cincin juga Mbak Yayang? Belum dilamar yang lain kan?" tanya Pak RT kepo.
"Ini... dikasih Mas Tian duluan, Pak," jawabku malu.
"Owalaaah... Udah di tandain duluan ternyata," Pak RT tertawa.
"Kayaknya yang itu hadiah chiki, Pak RT," celetuk Mas Puja yang baru bersuara. Tak ayal, membuat gelak tawa seisi ruangan.
"Sembarangan!" ketus si Babas tak terima.
"Jadinya mau dipasang dua-duanya atau bagaimana?" tanya Pak RT.
"Yang ini aja, Pak. Soalnya yang ini satu pasang," jawab si Babas seraya membuka kotak yang tadi dikembalikan Pak RT padanya.
Ku ulurkan tangan kiriku dihadapan Mas Tian. Dengan disaksikan keluarga, aku dan Mas Tian bergantian menyematkan cincin di jari manis kami masing-masing. Sesaat kami saling pandang sambil tersenyum. Dia menatapku lekat seolah menyampaikan rasa cintanya lewat sorot mata.
...
Ma.... Yayang dipinang MASTENGBUUULLL... ...
__ADS_1
TAMAT.
EH TAPI BOONG. KABOOORRRRRRRR...