Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Dirinya


__ADS_3

Terbawa perasaan saat berbincang dengan si Babas tadi membuatku melakukan hal diluar nalar.


Sumpah, gak kepikiran sama sekali bisa melangkah secepat dan sejauh ini. Tiba-tiba si Babas menyematkan cincin emas putih yang begitu pas melingkar di jari manisku.


Ini mimpi bukan sih? Kenapa aku dengan mudahnya nerima lamaran si Babas? Padahal, gak ada bayangan kalau aku akan tunangan atau serius dengan seseorang dalam waktu dekat ini. Fatalnya, malah aku sendiri yang mengulurkan tanganku untuk dipasangkan cincin ini. Gak tahu malu banget. Dia bakal berpikir aku murahan gak ya?


Sayangnya, aku gak bisa menghindar untuk menyelematkan wajahku yang terlanjur kayak kepiting rebus ini. Si Babas malah menarikku ke unitnya karena tiba-tiba dia di telepon oleh kantornya untuk mengecek kerjaan yang katanya urgent. Mbuhlah urusane opo, aku juga gak paham. Yang pasti, sekarang aku cuma duduk di depan televisi dengan pikiran melanglang buana, sementara dia masuk ke dalam kamarnya meninggalkanku seorang diri di sini.


"Yang..." panggilnya dari dalam kamar.


"Apa Mas?" jawabku sedikit berteriak. Namun aku segera bangkit menghampirinya. "Apa?" tanyaku lagi.


Dari balik monitor, si Babas menatapku, "maaf Mas cuekin bentar ya. Kamu kalau mau apa-apa ambil sendiri. Gak apa-apa kan?" tanyanya.


"Iya," jawabku pendek karena terpaku dengan tiga monitor yang berderet menutupinya. Gilaa... Komputer sebanyak itu buat apa coba?


"Sini," pintanya padaku.


Ragu-ragu aku mendekat. "Akun sosmed Oke di hack, Mas coba bantu tim IT buat balikin akunnya. Kamu gak apa-apa kan?" tanyanya serius.


"Iya gak apa-apa, Mas," jawabku.


"Kamu gak marah kan, kita belum rayain hari jadi kita?"


"Ha? Hari jadi apa?"


"Balikan lagi," cengirnya membuatku ikut tersenyum malu.


"Lanjutkan aja Mas. Aku tunggu di luar aja ya? Biar Mas fokus," tawarku.


"Boleh. Kalau cape, tiduran aja di kamar Mas, ya?"


Gila aja. Nanti kalau aku pules terus di apa-apain sama dia, gimana? Masuk ke sini aja deg-degan parah. Takutnya ada setan lewat terus aku sama dia sama-sama khilaf. Ih, amit-amit gustiiii... Jangan sampe terjadi hal yang iya-iya sebelum waktunya. Dedek masih butuh banyak bimbingan buat ke arah sana.


"Aku nonton tv aja, Mas," jawabku. Si Babas hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Gak usah sungkan di sini ya? Bentar lagi juga kamu bakal tinggal di sini," godanya.


"Apa sih, Mas!" jawabku seraya melangkah keluar kamar.

__ADS_1


"Jangan di tutup, Yank," ujarnya saat aku hendak menutup pintu kamar. Aku hanya menurut tanpa menjawab lagi.


Unit si Babas begitu tertata rapi, bersih, sesuai banget dengan ciri khasnya dia. Tak ada satu pun barang yang disimpan sembarangan. Bahkan sapu, lap pel sampe printilan-printilan kecil pun tersimpan di tempatnya masing-masing.


Aku sebagai perempuan sedikit tersentil dengan keapikan si Babas. Apalah dayaku yang kamar dan gudang tak ada bedanya. Semua barang endorsan masuk ke dalam kamar padahal untuk ngonten, aku punya studio tersendiri di rumah. Tapi tetap aja, kamarku jadi tempat penyimpanan barang-barang endors.


Jauh banget sama si Babas. Kayaknya kamarnya khusus buat tidur, dan yang barusan ku masuki sepertinya kamar ke dua yang dia sulap jadi ruang kerja.


Lama nungguin, aku jadi bosen sendiri. Sampe aku iseng masuk ke area dapur, siapa tahu ada makanan yang bisa aku kunyah daripada ngantuk.


Dan, baruuu kali ini aku melihat dapur laki-laki seperti masuk ke dapur master chef. Yang lebih mencolok adalah talenan yang digantung berderet berwarna-warni. Dia koleksi talenan atau bagaimana sih?


"Kamu lapar?" tanya si Babas membuatku tersentak kaget.


"Mas! Kaget tahu!" ketusku. Si Babas cuma tersenyum.


"Maaf," jawabnya. "Kamu lapar?" tanyanya lagi.


Aku menggeleng, "cuma mau cari gelas, Mas," Maaf bohong. Malu dong kalau ketahuan lagi sidak.


"Gelas bukan di situ," si Babas berjalan ke kabinet dekat meja makan. "Ini," dia mengulurkan gelas padaku.


"Air putih aja, Mas," aku mendekat saat dia menuangkan air untukku.


"Mas, Mas suka koleksi talenan ya?" tanyaku.


"Ha?" Si Babas melirik ke arah dapur, "enggak. Sesuai fungsinya saja," jawabnya santai.


Sebanyak itu? Padahal fungsinya kan sama aja.


"Yang merah untuk daging, biru untuk seafood, kuning untuk unggas, putih untuk makanan siap makan, hijau untuk sayuran," terangnya seolah menjawab rasa penasaranku.


Sumpah, aku cuma bisa melongo mendengar penjelasannya. Gilaaa... Di rumah cuma punya dua talenan kayu dan plastik. Mau potong daging, ayam, ikan, sayur, seafood, talenannya ya itu-itu juga. Ini kok?


"Sebanyak itu?" tanyaku.


"Kenapa?" tanyanya seolah aneh pertanyaanku. Aku malah aneh sama dia.


"Aku di rumah cuma punya dua Mas. Potong apapun pake itu-itu juga," jawabku.

__ADS_1


"Oh," dia tersenyum. Kayaknya bingung mau jawab apa.


"Mas kenapa banyak banget? Kan bisa pake itu-itu juga," jawabku.


"Mmm... Sesuai fungsinya aja Yang. Jadi gak campur-campur," ujarnya melihatku. Dia bicara hati-hati banget seolah takut menyinggungku.


"Mas... COD?" tanyaku.


"Ha? COD apa?" si Babas balik bertanya. "COD talenan maksudnya?" tanyanya lagi.


"Bukan. Itu loh, maksudnya... OCD*," aku terkekeh sendiri, "Maaf ya, aku tanya gini," aku meringis tak enak.


"Gak apa-apa. Mas cuma mmm... Gak bisa lihat barang berantakan aja Yang. Dan seperti yang kamu lihat, Mas pakai barang sesuai fungsinya. Maksudnya lebih ke spesifik gitu."


Aku mengernyit bingung.


"Maaf kalau nanti kamu risih dengan Mas, Yang. Mas biasa masak sendiri. Mas mengerjakan semuanya sendiri. Itu kenapa, Mas tinggal di apartemen yang kecil gini karena lebih mudah untuk Mas beres-beres. Mas selama ini lebih enjoy melakukan semua sendiri dari pada pake Mbak atau yang bantu. Mas cuma takut, dia malah risih sama Mas."


"Maksudnya gimana? Kok takut risih?"


Si Babas berjalan kembali masuk ke area dapur. Dia menarik laci, "sini," ajaknya.


Aku mendekat dengan pandangan tertuju pada laci yang dibuka. Gilaaa... Lengkap banget. Berderet pisau dari yang paling besar sampe yang paling kecil tersusun rapi. Sendok dengan berbagai bentuk, garpu, sumpit...


"Mas—"


"Nanti kamu gak masalah kalau Mas minta kamu pakai ini semua sesusai fungsinya?" tanyanya padaku.


"Ini hanya sebagian kecil Yang. Maksudnya ada wajan, panci, dan lain-lain yang dipakai sesuai dengan apa yang akan di masak," terangnya menatapku lekat. "Mas gak suka pakai barang, misalkan khusus untuk motong sayur, malah dipake untuk daging. Mas... gak bisa. Nanti kamu gak apa-apa kan?" tanyanya lagi.


Gilaaaa... Makin berdenyut kepalaku. Lihat cincin tersemat di jemariku aja, aku udah gak nyangka. Ini belum apa-apa, dia udah... Ah, aku gak tahu harus bilang apa lagi.


"Jadi Mas beneran OCD?" tanyaku.


"Mas gak pernah periksa sih, kalau Mas OCD atau enggak. Yang jelas, Mas terbiasa semuanya teratur. Kamu... Gak masalah kan, Yang?" lagi-lagi dia bertanya.


Aku meringis. Bingung mau jawab apa. Kalau sekarang langsung mundur, boleh gak siiih?


*OCD (Obsessive Compulsive Disorder)  atau disingkat OCD adalah bentuk masalah kesehatan mental yang membuat pengidapnya mempunyai pemikiran dan dorongan yang tidak bisa dikontrol yang sifatnya berulang (obsesi) serta munculnya perilaku (paksaan) kompulsif. Contoh perilaku kompulsif misalnya mencuci tangan hingga berulang kali setelah melakukan kontak langsung terhadap sesuatu yang menurutnya tidak bersih. 

__ADS_1


[Sumber : google]


__ADS_2