Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Taruhan


__ADS_3

Aku gak ngerti sama hatiku sendiri. Bisa-bisanya dia mau khianati aku. Masa selama aku duduk di samping si Babas, jantungku dibuat ajep-ajep gak karuan. Padahal aku lagi sebel setengah mati lho sama di Babas. Tapi kenapa jadi gini sih?


"Biar aku aja yang gendong Farel, Mas," ujarku saat kami tiba di rumah.


"Gak usah. Tolong bukain pagarnya aja, Yang," jawabnya sambil bersiap menggendong Farel.


"Yang, tolong bawa pizza-nya juga," titahnya lagi.


Aku gak tahu lho si Babas pesan pizza juga untuk di bawa pulang. Kapan pesannya coba? Tiba-tiba tadi waitress nganterin pizza ke meja kami.


"Lho, tidur?" sapa Mama saat kami masuk ke rumah.


"Iya, Tante. Kayaknya kekenyangan jadi cepet ngantuk anaknya," jawab si Babas seolah paham dengan dunia anak.


"Lho, kok dia tidur?" tanya Mas Puja mengulang pertanyaan Mama seraya mengambil alih si bocil.


"Anakmu itu lho Mas, kalau ada maunya ck..." Mama mengusap punggung Farel. "Makasih lho Mas Tian, maaf jadi ngerepotin," si Mama tersenyum manis. Dih!


"Saya senang kok, Tan," jawab si Babas kalem.


Senang lah. Merasa di terima dan di butuhkan. Pasti nilainya makin plus di mata Mama.


"Thanks, Bro. Saya tinggal dulu," ujar Mas Puja.


Bro?


Gak salah tuh? Kok Mas Puja ikutan sok akrab sama si Tian? Jangan-jangan, dia kena peletnya juga setelah ngobrol sama si Babas tadi.


"Mas, makan dulu, yuk? Tadi Tante bikin makanan kesukaan Yayang. Mau ya?" ajak Mama.


"Ma, tadi kit—"


"Boleh, Tan. Kalau gak merepotkan," si Babas memotong ucapanku sambil tersenyum lembut. "Saya juga penasaran masakan Tante."


Huh! cari muka biar makin di sukai Mama.


"Kamu kan udah makan pizza, Mas?" selaku.


"Cuma sepotong, Yang. Gak ngefek di perut Mas," ujarnya kalem.


Iyalah sepotong. Makannya sepotong-sepotong sampai habis tiga potong sendirian. Yang makan sepotong kan cuma aku. Bisa-bisanya dia bohong begitu.


"Alaah... Makan pizza mana kenyang. Pokok'e kalau belum makan nasi, belum makan. Iya tho?" cengir Mama.


Hadeeh... udahlah. Percuma menyela juga, mereka udah masuk ke ruang makan. Walaupun sebenarnya aku sangsi melihat si Babas mau makan lagi karena sepengamatanku selama makan sama dia, dia orangnya gak makan banyak. Tapi, yowislah. Mungkin kemarin-kemarin masih jaim. Sekarang sedikit-sedikit kedoknya mulai terbuka.


"Wah... itu gudeg, Tante?" tanya si Tian begitu Mama membuka tudung saji.


"Suka, Mas?" Mama malah balik bertanya.


"Suka."


"Makan yang banyak kalau gitu," ujar Mama. "Yang, ambilkan nasinya buat Masmu," titah Mama padaku.


"Ma, dia kan— ck...."


Aku langsung berhenti protes begitu mata Mama mau loncat dari tempatnya karena melototiku. Jurus Mama yang paling ampuh, bikin aku ciut seketika.

__ADS_1


"Sedikit aja, Yang. Takutnya ngantuk di jalan kalau terlalu kenyang," pinta si Babas.


"Segini kan?" tanyaku mengambil satu setengah centong nasi yang membuatnya melotot hendak protes. Tapi, dia masih kalah dengan plototanku.


"I... Iya udah," ujarnya pasrah, otomatis aku tersenyum licik.


Saatnya balas dendam, Bestieeee... Suruh siapa ganggu hidup aku terus.


"Tante gak makan juga?" tanya si Babas.


"Gak. Tante tadi udah duluan pas kalian pergi," ujar Mama sambil menyimpan gelas di samping si Babas. "Tante tinggal ke depan ya? Mas Tian jangan sungkan. Anggap aja rumah sendiri," Mama melenggang meninggalkan kami.


Enak banget jadi si Babas. Aksesnya makin terbuka lebar di rumah ini. Aku gak tahu kenapa Mama begitu antusias sama dia. Bahkan baru kali ini, ruang makan Ibu Lestari di sentuh laki-laki lain selain Mas Puja dan saudaraku. Biasanya temanku dulu cuma sampai ruang tamu, tok'.


"Yang... jangan banyak-banyak," protesnya setengah berbisik.


"Anggap di rumah sendiri, Mas. Jangan sungkan," ujarku sambil tersenyum palsu.


"Tapi Mas gak makan segitu banyak, Yang," bisiknya seolah takut terdengar Mama.


"APA? Kurang banyak, Mas?" ujarku sedikit berteriak agar terdengar Mama.


"Yang!"


"TAMBAH LAGI?" tanyaku masih dengan suara kencang.


"Yang!"


"SEGINI CUKUP KAN MAS? NANTI KALAU KURANG, MASIH BOLEH TAMBAH KOK. ANGGAP RUMAH SENDIRI," sindirku menyendok krecek banyak-banyak ke piringnya. Oh, rawitnya jangan lupa yang banyak juga.


Si Babas cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuanku. Dia sama sekali gak berani protes lagi setelah ku sodorkan piring ke hadapannya.


"Pinjem sendok garpu, Yang," pinta si Babas saat hendak menyantap seporsi jumbo nasi gudeg dihadapannya.


"Ha? Garpu buat apa?" tanyaku heran.


"Ya, makan lah," jawabnya.


"Pakai tangan aja, Mas. Biar lebih nikmat," titahku.


Si Babas menggeleng, "gak enak kalau tangannya kotor. Mana sendok garpunya?" pintanya lagi.


Dih, makan itu aja mesti elegan. Blagu amat hidupnya.


"Sekalian sama pisaunya juga?" sindirku sambil memberikan sendok garpu.


"Gak lah. Emangnya makan pizza tadi," jawabnya serius.


Karepmu lah Baaasss...


"Habiskan makanannya, Mas. Mama suka marah kalau makanannya gak habis," ancamku.


"Oke. Tapi nanti kamu yang tanggung jawab kalau saya gak bisa nyetir karena kekenyangan," ujarnya.


Sialan. Dia balik ngancam.


"Duh... pedes banget, Yang. Rawitnya kegigit, ssshhh..." rengek si Babas buru-buru meneguk air yang tadi disediakan Mama.

__ADS_1


"Gak pedas, kok," jawabku sengaja.


"Mas kurang suka makanan pedas, Yang," jawabnya sambil menyingkirkan potongan cabe rawit ke pinggir piring.


"Di biasakan Mas kalau mau jadi bagian di keluarga ini," ujarku sambil menyendok makanan di hadapanku. Aku pun akhirnya tergiur dengan gudeg buatan Bu Lestari.


"Serius itu aja? Kamu bakalan terima Mas?" tanyanya.


Eh? Tadi aku ngomong apa?


"Kalau serius, Mas berani habiskan semuanya, Yang," ujarnya dengan mulut dan telinga yang memerah.


"Gimana?" tanyanya lagi.


Ada gak sih, pembuktian keseriusan seseorang dengan melakukan hal sekonyol ini? Masa iya, aku harus menerima pernyataanya hanya karena dia melewati tantangan yang aku kasih? Cuma menghabiskan makanan plus rawit-rawitnya doang? Dia mau jadi pacar atau ikutan acara tantangan makan sih?


"Deal, Yang?" tanyanya lagi.


Melihat gelagatnya yang udah kepedasan, aku yakin dia gak bakal sanggup kayaknya. Sampai akhirnya aku hanya mengangguk meskipun ragu.


"Oke. Mas habiskan semuanya," ujarnya ringan.


Aku jadi terpaku melihatnya makan. Dia masih tenang, gak buru-buru sama sekali. Malah terlihat begitu menikmati makanan di hadapannya meski peluh mulai membanjiri wajahnya. Sesekali, si Babas sibuk mengelap keringat.


"Ssshhh... Maasshhhkan Yangsshhh..." ujarnya sambil melirikku.


"Pedas, Mas?" tanyaku. Dia hanya menggeleng.


Masih aja usahanya si Om-Om. Gak usah geleng kepala aja udah ketauan.


"Mas, udah merah gitu mukanya. Jangan di lanjut, Mas. Nanti sakit perut," ujarku agar dia menyerah.


Si Babas menggeleng lagi sambil terus mengunyah hingga sisa dua sendok makan di piringnya. Tiba-tiba dia diam sambil menutup mata.


Sumpah, aku jadi degdegan seolah menunggu nyawaku di ujung tanduk. Gimana kalau ternyata dia buktikan ucapannya?


"Mas... gak apa-apa?" tanyaku. "Berhenti aja, Mas. Nanti makin sakit perutnya," bujukku.


Babas menggeleng lagi sambil membuka mata. Matanya yang merah kini berair. Kok, lebay banget sih? Perasaan krecek Mama bukan krecek setan yang pedesnya level mampus. Tapi kenapa ekspresi dia kayak gitu banget?


"Terakhir," ujarnya dengan bibir bergetar.


Lucu banget jadinya. Tapi kasihan juga.


"Sshh... Yang... boleh... Ssshh... boleh minta ssshhh... shuu.. Shuu.. Sshhh gak?" tanyanya.


"Ha?"


"Shuu... Shu... Ssshh..." Si Babas memberikan kode minum dengan jempolnya. Buru-buru ku ambil susu dari kulkas untuknya dan dia langsung menenggak hingga tandas.


Beberapa kali dia menjulurkan lidahnya membuatku ingin tertawa. Baru kali ini melihat dia selucu ini. Sebastian yang selalu terlihat berwibawa, kini menjadi Babas yang kebakaran mulut.


Tanpa bicara, si Babas membuka kancing kemeja bagian atas, kemudian menggulung asal bagian lengan hingga ke siku. Kemejanya bahkan basah oleh keringat.


Aku hanya diam memperhatikan ekspresinya. Hingga akhirnya dia menatapku sambil tersenyum simpul.


"Hai... Calon istri..." ujarnya dengan wajah tengil.

__ADS_1


.


Waktu dan tempat dipersilahkan untuk komentar


__ADS_2